Usaha Jaket Kulit Meroket Berkat Pendampingan Jamkrindo

17

Senin, 15 Juli 2019 08:29 | Bu Siti Noor (49 tahun) akhirnya bisa bangkit kembali menggulirkan usaha keluarga pascameninggalnya suaminya, yaitu almarhum Lilik Darsono pada 2010. Semasa hidup, Lilik yang menggeluti bisnis rumahan jual beli penyamakan kulit terbilang cukup sukses hingga bisa menghidupi rumah tangganya. Namun, maut datang merenggut nyawa Lilik hingga usaha yang menopang pemasukan bagi penghuni rumah berhenti total.

Siti pada awalnya tidak langsung meneruskan usaha milik suaminya, lantaran ia mendapat tawaran dari adiknya untuk mengurusi usaha di bidang sama seperti almarhum suaminya. Namun, batin Siti tergetar setelah melihat masih banyak tumpukan kulit yang belum sempat dijual oleh almarhum suaminya. Hal itu membuat Siti terdorong untuk bisa merintis usaha sendiri.

Tidak sekadar menjual kulit hasil penyamakan saja, Siti lewat Toko Agung miliknya berupaya menjual produk jadi supaya memberi nilai tambah bagi pendapatannya. “Saya mulai buka toko jaket dan barang jadi dari kulit sekitar 2014. Itu setelah ada pendampingan dan pembinaan dari Jamkrindo,” kata Siti menceritakan titik balik hidupnya dalam meneruskan usaha milik suaminya di toko yang berlokasi Jalan Ahmad Yani Nomor 323 Sukaregang, Garut, ini kepada //Republika//, kemarin.

Siti menuturkan, dulu ketika suaminya masih hidup, ia hanya bertugas membantu sekadarnya saja. Meski begitu, ia cukup paham dengan dunia bisnis perkulitan lantaran usaha itu merupakan turun-menurun dari orang tua mereka.

Dia mengungkapkan, rentang waktu 2011-2013 merupakan masa kontemplasi baginya untuk memantapkan diri supaya benar-benar serius memulai usaha sendiri. Siti menyatakan, kendala utama yang dihadapinya adalah permodalan. Namun, ia tiba-tiba terpikirkan sebuah solusi ketika mengingat kenalan almarhum suaminya yang dulu bekerja di Jamkrindo Bandung.

Lewat staf Jamkrindo Bandung itu, Siti yang menjalin komunikasi akhirnya mendapat kepercayaan untuk mendapat pinjaman awal sebesar Rp 50 juta. Dana segar itu yang digunakannya untuk memperkuat permodalan supaya produknya yang juga dibantu penjualan oleh rekanan dengan sistem uang muka, bisa terus berputar. Siti tidak ingin produknya hanya menumpuk di gudang karena hal itu tak bagus bagi usaha yang digelutinya.

Dia mengatakan, pinjaman dari Jamkrindo Bandung berlangsung lancar lantaran suaminya memiliki rekam jejak bagus waktu membayar cicilan bulanan. “Dulu suami saya itu mulai dibina dari nol sejak masih bernama Perum Sarana Pengembangan Usaha Bandung, dan mulai usaha kecil-kecilan dari rumah. Setelah diberi pinjaman, suami sangat didukung mulai diberi arahan, nasihat oleh orang Jamkrindo,” kata Siti.

Dia menyatakan, setelah mendapat pinjaman itu pada 2014, ia lebih percaya diri membuat barang produk kulit domba dan sapi, seperti sabuk, dompet, jaket, dan tas. Merintis dari //showroom// yang ada dalam rumahnya, sambung dia, kini usahanya terus berkembang dari tahun ke tahun.

Siti mengaku, bisa memberdayakan 10 penjahit yang menjadi rekanannya saat banyak pesanan masuk. Dia dalam kesehariannya dibantu dua karyawan yang berjaga di toko. Dia menegaskan, usahanya bisa berkembang lantaran selama ini terus mendapat pendampingan dan kerap difasilitasi ikut pameran untuk mempromosikan usahanya oleh Jamkrindo.

Berbagai kemudian lain yang didapatkannya dari Jamkrindo terkait dengan fasilitas pinjaman sampai tiga kali masing-masing Rp 50 juta. Dengan memiliki pinjaman, Siti meyakinkan dirinya untuk semakin memiliki tanggung jawab besar guna dapat melunasi tagihan bulanan tepat waktu.

Hal itu agar kepercayaan yang diberikan Jamkrindo kepadanya tidak meleset, sehingga ia wajib menjawab tantangan itu dengan terus mengembangkan dan memperluas pangsa pasar usahanya. “Selain bunganya terjangkau, //minjam// ke Jamkrindo juga kita sering diajak ikut pameran. Ini menambah pesanan produk kita,” kata Siti.

Dia melanjutkan, ada satu momen pameran yang diikutinya, yaitu di Tasikmalaya belum lama ini, yang tidak terlupakan. Siti yang diundang sebagai mitra binaan Jamkrindo memamerkan produk unggulannya, yaitu jaket kulit berkualitas bagus. Tidak disangka, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menghadiri pameran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) itu sempat lewat di depan standnya.

Tidak mau kehilangan kesempatan, Siti sempat berteriak hingga Presiden Jokowi pun menoleh kepadanya. Siti pun berusaha merayu agar RI 1 mau mampir ke standnya, dan ujungnya Jokowi membeli jaket yang terbuat dari kulit domba itu. “Pak Jokowi melirik, langsung suruh buka penjagaan dan membayar jaket Rp 1,5 juta. Kita //kan// harus profesional, itu jaket memang bagus memang pantas,” katanya.

Sejak peristiwa itu dan karena kerap ikut pameran, Siti mengungkapkan, usahanya semakin meroket dan menunjukkan masa depan cerah. Hal itu lantaran saat pameran di berbagai tempat, khususnya Jakarta, ia rajin menyerahkan kartu nama kepada pejabat maupun pengunjung, yang di kemudian hari ada yang tertarik mengajukan pesanan. Siti mengaku, omzet penjualan produknya di toko bisa mencapai Rp 18 juta-Rp 23 juta, dan itu belum termasuk pesanan dari kantor pemerintah atau swasta.

Karena sudah tiga kali meminjam di Jamkrindo dan melihat usahanya terus berkembang, Toko Agung miliknya sudah naik kelas dan berkategori //bankable// lantaran asetnya terus bertambah. Alhasil, ia kini bisa meminjam di bank dengan nilai lebih besar untuk membesarkan usahanya. Meski begitu, ia saat ini fokus untuk memperluas pasar saja lantaran persaingan usaha produk kulit antar-UMKM juga semakin ketat.

“Saya alhamdulillah bersyukur bisa tiga kali dapat pinjaman. Ya yang saya butuhkan Jamkrindo lagi, mungkin usaha ini akan diteruskan anak saya sehingga dia bisa pinjam lagi, karena kalau pinjam ke bank tidak ada pendampingan, itu enaknya Jamkrindo,” kata Siti.

Dirut Perum Jamkrindo Randi Anto menegaskan, lembaga yang dipimpinnya terus berkomitmen mendukung pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar bisa memperluas pasar. Selain itu, Jamkrindo berkomitmen membantu UMKM naik kelas atau tumbuh dengan skala yang lebih besar. “Sudah menjadi tanggung jawab dan fokus kami untuk memajukan UMKM dan koperasi,” ujar Randi dalam lama resmi perusahaan.

Pemasaran digital

Komitmen Jamkrindo dalam mendukung pengembangan UMKM tak hanya melulu lewat pemberdayaan, melainkan juga melakukan program bimbingan dan optimalisasi pemasaran digital bagi UMKM pengrajin jaket kulit di Garut. Program yang menggandeng PT Permodalan Nasional Madan (PNM) belum lama ini, tersebu ditujukan untuk meningkatkan kualitas produk dan efektivitas pemasaran hasil usaha para pengusaha UMKM perajin jaket.

Randi Anto mengatakan, kegiatan itu merupakan salah satu program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang dilakukan oleh Jamkrindo untuk membantu mengembangkan usaha pelaku UMKM sehingga bisa lebih maju.

“Dengan penambahan //capacity building// UMKM, maka diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi UMKM untuk mengembangkan usahanya,” kata Randi.

Ketua Kelompok Konveksi Jaket Garut, Husni Adiin mengatakan, selama ini ia dan kelompoknya tidak hanya berhasil menjual produk di dalam negeri, melainkan juga mengekspor jaket ke negeri tetangga. Dia pun mendukung diadakannya acara pembinaan dengan materi terkini oleh Jamkrindo supaya pengusaha jaket bisa semakin mudah menjual produknya.

“Materi seperti ini sangat cocok dengan kondisi saat ini. Tentunya sangat bermanfaat untuk kelompok kami. Untuk itu kami harapkan agar ke depannya semakin ditingkatkan,” kata Husni.

Source Usaha Jaket Kulit Meroket Berkat Pendampingan Jamkrindo

Leave A Reply

Your email address will not be published.