Tren Positif, Indonesia Perluas Pasar Kakao di Uni Eropa

18

Wednesday, 19 June 2019 11:27 | Produk perkebunan merupakan andalan kekuatan ekspor komoditas pertanian Indonesia di pasar Uni Eropa. Salah satu komoditas Indonesia yang menjadi unggulan adalah coklat atau kakao. Atase Pertanian Indonesia (ATANI) untuk Belgia di Kota Brussel, Wahida mengatakan, neraca perdagangan Indonesia untuk produk kakao dan turunannya menunjukkan tren yang positif dari tahun ke tahun.

Disebutkan, tahun 2018 ekspor kakao Indonesia ke Uni Eropa mencapai 215,2 juta dolar AS. Naik sebanyak 22 persen dibandingkan nilai ekspor 2017 yakni sebesar 201,7 juta dolar AS. Menurut Wahida, angka tersebut baru 1 persen dari total nilai impor Uni Eropa (UE) untuk produk kakao dan turunannya yang nilainya mencapai 27,4 miliar dolar AS. Negara importir kakao ke UE terbesar yaitu, Pantai Gading (4 miliar dolar AS), Ghana (1,5 miliar dolar AS) dan Nigeria (672 juta dolar AS).

Uni Eropa merupakan negara pengkonsumsi kakao terbesar di dunia, yakni sebesar 8-9 kg per kapita per tahun. Atase Perdagangan KBRI di Brussel, Merry Astrid Indriasari mengatakan, pengamanan akses pasar komoditi strategis melalui liberalisasi tarif menjadi kunci dalam perundingan IEU CEPA. Hal ini diharapkan bisa mendorong laju ekspor komoditi kakao dan produk turunannya ke pasar UE. Indonesia saat ini telah mengusulkan penawaran awal untuk lebih dari 10 ribu pos tarif, termasuk di dalamnya kakao dan produk turunannya.

Di dalam negeri permintaan akan biji kakao sebetulnya juga mengalami peningkatan. Atase Pertanian KBRI Brussel, Wahida menyebutkan, selain mengekspor biji kakao, saat ini industri pengolahan biji kakao untuk re-ekspor juga sedang berkembang di Indonesia.

Untuk informasi, 2018 Indonesia mengimpor biji kakao sebanyak 240 ribu ton dengan nilai impor mencapai 528 juta dolar AS. Biji kakao nasional yang tersedia masih belum mampu memenuhi kapasitas terpasang industri olahan kakao. Saat ini cacao butter masih menjadi produk unggulan ekspor Indonesia dengan capaian volume ekspor yaitu 24.6 ribu ton pada 2018.

Salah satu upaya pemerintah dalam mengangkat kejayaan kakao nasional diantaranya, transfer teknologi untuk pengendalian penyakit vascular – streak dieback (VSD) dan Phytopthora Pod Rot Disesase pada tanaman coklat. Selain dana pemerintah, industri kakao terkemuka di Eropa, Mondelez menyatakan ketertarikannya untuk mengucurkan dana pada proyek ini. Pihak yang akan terlibat dalam proyek ini adalah para peneliti dari Pusat Penelitian Tanaman Kakao dan Kopi (Puslitkoka) di Jember. Proyek ini diharapkan dapat dilaksanakan dalam 1-2 tahun mendatang.

Source Tren Positif, Indonesia Perluas Pasar Kakao di Uni Eropa

Leave A Reply

Your email address will not be published.