Teknologi Lacak Kayu (Ilegal) Berbasis DNA

16

Mon, 19 January 2015 08:31:19 +0700 — Sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) telah resmi berlaku sejak 1 Januari 2015. SVLK merupakan ketentuan yang bersifat wajib (mandatory) untuk menjamin legalitas kayu serta ketelusuran kayu dari hulu tempat kayu ditebang hingga ke hilir (pintu ekspor).

Semangat dari kebijakan yang berdasar Keputusan Menteri Perdagangan No 81/M-DAG/PER/12/2013 itu merupakan komitmen bersama untuk menanggulangi pembalakan dan perdagangan kayu serta produk kayu yang ilegal.

“Penerapan sistem ini patut kita apreasiasi karena ada semangat untuk memperbaiki tata kelola hutan dan industrinya di Indonesia. Selain itu, akan membatasi ruang gerak perdagangan kayu ilegal,” kata Guru Besar Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Iskandar Z Siregar, kepada Koran Jakarta, Sabtu (17/1).

Kendati demikian, sambung Iskandar, sistem pengawasan hutan dan tata niaga kayu di Indonesia yang bersifat fisik, legal, administratif, masih rawan manipulasi. Kala ada kesempatan, masih ada kemungkinan “tangan-tangan kotor” mengoplos kayu legal dan ilegal dalam satu paket untuk diperdagangkan.

Kejahatan terorganisasi tersebut dapat membahayakan ekosistem hutan hujan tropis Indonesia yang kaya akan sumber daya genetik. Apalagi, permintaan kayu di pasar domestik maupun internasional semakin meningkat di tengah keterbatasan ketersediaan sumber daya alam.

Karena itu, diperlukan inventarisasi keanekaragaman hayati, di antaranya keanekaragaman genetik, di belantara yang masih tersisa. Berbekal ilmu dan keahliannya, Iskandar bersama timnya di IPB, termasuk mitra kerja sama dari luar negeri, di antaranya dari Goettingen, Zurich, dan Kopenhagen (Eropa) serta Kyushu dan Ehime (Jepang), selama ini mencurahkan perhatian pada pohon-pohon jenis dipterocarpaceae, khususnya meranti, yang masih tersisa di belantara Sumatra dan Kalimantan.

Pohon yang memiliki kayu keras ini dipilih lantaran mendominasi ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia (keystone species). “Meranti itu pohon besar, tajuknya dominan, sehingga banyak makhluk hidup yang bergantung padanya. Jika penyangga ekosistem ini ambruk, praktis makhluk hidup yang bergantung juga terancam kelestariannya,” cetus staf pengajar Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, IPB (http://siregar.staff.ipb.ac.id) ini.

Menelusuri Sejarah dan Proses Evolusi

Iskandar bersama timnya melakukan studi genetika populasi pohon meranti di Sumatra dan Kalimantan untuk mengetahui secara persis variasi genetik secara spasial dari jenis tersebut.

Ia menelusuri sejarah ekologi dan evolusi pohon meranti mulai zaman es (last glacial maximum) atau sekitar 20 ribu tahun lalu, ketika Sumatra dan Kalimantan masih menjadi satu kesatuan daratan.

Kala itu, kemungkinan besar pohon meranti yang hidup di daratan tersebut memiliki kesamaan struktur genetik. Setelah terjadi pemanasan global, es di kutub mencair sehingga paras permukaan air laut naik menggenangi daratan. Kesatuan daratan pun terpisah sehingga terbentuk Pulau Sumatra dan Kalimantan. Pohon meranti yang hidup di masing-masing pulau dengan sendirinya beradaptasi terhadap lingkungan.

“Dari sana, gen berevolusi. Yang tak tahan terhadap lingkungannya akan hilang karena faktor seleksi. Hal inilah yang menyebabkan masing-masing meranti di Sumatra dan Kalimantan memiliki keunikan struktur genetik,” urai anggota Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (Peripi) dan Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (Mapeki) ini.

Variasi genetik tersebut, lanjut Iskandar, merupakan kebutuhan mendasar bagi pemeliharaan dan stabilitas jangka panjang ekosistem hutan. Pasalnya, jumlah dan pola variasi genetik akan menentukan kemampuan spesies pohon di hutan untuk beradaptasi terhadap variabel kondisi lingkungan.

Informasi variasi genetik secara spasial dari spesies tertentu dapat dimanfaatkan untuk basis data (database) lokal Deoxyribonucleic Acid (DNA) yang diisolasi dari bagian tanaman. DNA mengandung informasi variasi genetika alam yang tidak dapat dimanipulasi. Untuk itu, diperlukan suatu survei dan analisa genetik yang bisa menghasilkan keakuratan informasi data yang tinggi.

Berbasis DNA

Penyandang doktor dari Universitas Goettingen, Jerman, ini mengembangkan metode pembuktian menggunakan sumber informasi DNA yang tersimpan di bagian tanaman. Pada tahap awal, diperlukan ekstraksi DNA dari bagian tertentu tanaman. Tetapi, pada prinsipnya, semua bagian tanaman itu dapat digunakan sebagai sampel sesuai tingkat kesulitannya, semisal biji, daun, kayu, kambium, dan tunggak.

Selanjutnya, DNA diisolasi dan diamplifikasi pada lokus-lokus gen tertentu dari bagian tanaman yang diuji. Untuk analisis DNA, diperlukan penanda (marker) dengan teknik mikrosatelit, Random Amplified Polymorphic DNA (RAPDs), Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLPs), hingga pengurutan DNA.

“Penggunaan marker tersebut sebenarnya bisa disesuaikan tujuan,” ungkap pria yang mendapat gelar master dari Universitas Canterbury, Selandia Baru, ini. Sebagai contoh, penanda mikrosatelit dapat digunakan untuk membuat basis data dari tunggak pohon dengan sampel dari kambium, kulit atau kayu.

Aplikasi metode tersebut bisa digunakan untuk melacak aliran kayu. Caranya dengan membandingkan informasi struktur genetik dari DNA kayu yang diselidiki dengan basis data DNA kayu di tempat asalnya.

Apabila ada perbedaan informasi genetika kayu yang diselidiki dengan basis data, bisa dicurigai ada pengoplosan kayu. “Jadi, jika ada manipulasi data, akan diketahui,” papar Iskandar. Informasi genetika ini dapat diintegrasikan pada sistem tata usaha kayu seperti pelabelan dengan kode batang (barcode).

Informasi genetika itu pula yang dapat digunakan untuk penyusunan strategi konservasi genetik suatu tanaman. Dengan dilakukannya konservasi sumber daya genetik, diharapkan dapat mencegah kepunahan spesies. n agung wredho.

Source Teknologi Lacak Kayu (Ilegal) Berbasis DNA

Leave A Reply

Your email address will not be published.