Tawur Agung Kesanga Prambanan, Prosesi Mewisuda Bumi Jelang Perayaan Nyepi

54

 19 Maret 2018 — Sehari sebelum perayaan Nyepi, ribuan orang dengan pakaian adat Bali memenuhi pelataran Candi Prambanan sejak pagi untuk mengikuti perayaan Tawur Agung Kesanga. Rangkaian upacara yang terdiri dari mendak tirta, laku pradaksina, tawur agung, dan sembahyang bersama ini bertujuan untuk membersihkan dan mewisuda bumi sebelum hari raya Nyepi.

Ada yang berbeda dengan kompleks Candi Prambanan pagi itu. Pelataran candi yang biasanya masih sepi, kini dipadati oleh ribuan manusia. Semuanya nyaris memakai kostum yang sama, para pria mengenakan kain dan udeng, sedangkan wanitanya berkebaya lengkap dengan umpal. Bukan hanya lautan manusia yang menjadi pembeda, penjor dan tenda warna-warni turut membuat suasana Prambanan semakin indah dan meriah. Bukan tanpa alasan jika Prambanan nampak berbeda, hal ini dikarenakan candi hindu tercantik di Indonesia tersebut menjadi pusat perayaan Tawur Agung Kesanga di Yogyakarta.

Prosesi Tawur Agung Kesanga merupakan upacara yang digelar oleh umat Hindu sehari jelang perayaan Nyepi. Upacara ini berdasarkan pada konsep ajaran Tri Hita Karana, yakni menyelaraskan hubungan dengan tiga elemen, manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Tawur Agung Kesanga sendiri bertujuan untuk membersihkan dan mewisuda bumi sebelum Nyepi, yakni dimana umat akan melaksanakan tapa brata penyepian.

Tawur Agung Kesanga diawali dengan ritual pengambilan air suci dari situs Istana Ratu Boko yang terletak di Pegunungan Batur Agung, tak jauh dari Candi Prambanan. Sekitar pukul 09.00 WIB, para umat memulai perayaan dengan prosesi Mendak Tirta alias menjemput air suci. Dalam ritual Mendak Tirta ini, para umat beriringan mengarak umbul-umbul, berbagai persembahan, gamelan dan ogoh-ogoh menuju ke Candi Dewa Siwa. Setelah tiba di depan candi, hanya yang membawa umbul-umbul dan persembahan saja yang masuk ke dalam candi.

Di dalam Candi Dewa Siwa sudah ada pemangku pura yang siap untuk melakukan ritual Mendak Tirta ini. Setelah arak-arakan tiba di Candi Dewa Siwa, ritual mendak Tirta pun dimulai dengan cara mengelilingi Candi Dewa Siwa sebanyak tiga kali searah jarum jam. Dalam suasana yang khusyuk para umat pun melakukan laku pradaksina tersebut. Usai pradaksina, rombongan arak-arakan yang membawa berbagai macam persembahan, umbul-umbul, gamelan dan ogoh-ogoh lantas kembali ke pelataran candi yang sudah dipenuhi umat.
Mereka yang membawa sesaji lantas maju ke depan dan menaruhnya ke altar berupa meja panjang. Sebelum dimulai acara sembahyang, ada pertunjukan tari-tarian. Gadis-gadis cantik berkebaya putih dengan rambut hitam berselipkan bunga kamboja nampak luwes menggerakkan tubuhnya. Beragam tarian pun dipertontonkan seperti tari topeng, pendet, barong, dan terkadang terselip tarian khas Jawa, gambyong. Semua mata pun seolah tersihir dengan keluwesan para penari yang menggerakkan badan dengan sepenuh hati.

Usai tari-tarian, acara pun dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak. Begitu sambutan demi sambutan selesai, maka dimulailah acara sembahyang bersama atau ritual Tawur Panca Kelud Yama Raja. Suasana yang tadinya semarak dan dipenuhi suara gamelan serta decak kagum orang-orang, kini berganti dengan keheningan yang dalam.

Di pimpin para pandita, umat mulai berdoa. Dengan gerak tubuh yang nyaris sama, yakni memejamkan mata dan menangkupkan dua telapak tangan di atas dahi, mereka semua melantunkan rawian doa. Di bawah naungan langit biru, disaksikan Candi Prambanan nan megah, doa-doa terlantunkan dalam hening. Semuanya sedang mempersiapkan hati dan menyucikan diri untuk menyambut tahun yang baru.

Source Tawur Agung Kesanga Prambanan, Prosesi Mewisuda Bumi Jelang Perayaan Nyepi

Leave A Reply

Your email address will not be published.