Swasembada Gula, Petani dan Hilirisasi

8

Senin, 15 Juni 2015 | Menjelang musim giling 2015, menteri BUMN Rini Soemarno dalam kunjungannya ke Jember pekan lalu, mengajak petani tebu dan direksi pabrik gula untuk mewujudkan swasembada gula pada tahun 2019. Himbauan tersebut seolah hendak mengingatkan kembali sasaran pengembangan industri gula (2015-2019) yaitu: Pemenuhan berbagai jenis gula dari produksi dalam negeri.

Tidak ada yang aneh dengan ajakan tersebut, menjadi terasa klise karena disampaikan disaat industri gula nasional yang semakin terdesak oleh gula impor. Harga gula jatuh karena terkena imbas rembesan impor gula rafinasi, yang sengaja ‘dibocorkan’ oleh distributor.

Saat ini ada 11 pabrik gula rafinasi dengan kapasitas lebih dari 5 juta ton raw sugar/tahun yang keseluruhannya dipenuhi dari impor. Akibatnya, output yang dihasilkan jauh melampaui kebutuhan industri makanan dan minuman dalam negeri yang hanya 3 juta ton/tahun. Sehingga rembesan gula rafinasi ke pasar gula konsumsi tak bisa dihindari dan menekan harga gula konsumsi. Kini, para petani dan pabrik gula mulai mencemaskan masa depan dunia pertebuan yang semakin lama semakin meredup (sun-set industry).

Dengan harga yang tertekan, marjin pengusahaan gula tidak cukup untuk ekspansi, pendapatan yang dihasilkan hanya cukup untuk gaji karyawan dan operasional perusahaan. Di sisi lain, kepentingan petani juga tak bisa diabaikan, karena gula lokal dihasilkan pabrik-pabrik konvensional yang sebagian besar (95 persen) mengandalkan bahan baku dari tebu rakyat melalui program kemitraan (partnership).

Source Swasembada Gula, Petani dan Hilirisasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.