Stabilisasi Harga : BULOG Targetkan Serapan Gula 600.000 Ton

6

04 Juli 2018

Brebes — Perum Badan Urusan Logistik atau Bulog menargetkan serapan gula dapat mencapai 600.000 ton sepanjang 2018. Hal ini, mengingat tingginya konsumsi gula dalam negeri sehingga Bulog terus melakukan langkah penyerapan.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, tahun ini Bulog akan terus mengoptimalkan penyerapan gula untuk memenuhi kebutuhan gula pasir secara nasional. Pasalnya, gula merupakan produk yang amat dibutuhkan masyarakat.

“Pada 2018 kami menargetkan serapan gula sampai 600.000 ton dari beberapa daerah yang menjadi sentra produksi gula pasir, baik dari pulau Jawa maupun pulau lainnya seperti Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi,” kata Budi Rabu (4/6).

Sampai akhir Juni kemarin Bulog berhasil menyerap 300.000 ton gula. Hal ini, untuk mengendalikan harga gula yang bisanya melonjak seperti di Ramadan kemarin.

Dia menegaskan, sampai saat ini belum ada rencana mengenai impor gula. Sebab, produksi gula masih mencukupi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia.

“Kewenangan impor gula semua ada di Kementerian Perdagangan. Tapi stok gula Nusantara sudah mencukupi dan saya rasa impor tidak perlu dilakukan,” tegas Budi.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Buwas tersebut, mengimbau agar masyarakat untuk tetap tenang karena stok gula sudah mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia.

BAWANG MERAH

Lebih jauh, sebagai upaya membantu petani dalam meningkatkan stok produk bawang merah yang melimpah. Perum Bulog, menyediakan sistem pengondisianudara (controlled atmosphere storage/CAS) di Kompleks Pergudangan Klampok, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

Adapun sarana penyimpanan bawang merah tersebut dibangun di atas tanah seluas 7.830 m2 dengan luas bangunan 3.686,81 m2 termasuk gudang jemur bawang seluas 391 m2. Sarana penyimpanan bawang merah ini terbagi menjadi 20 kopel dengan kapasitas simpan masing-masing sebanyak 13,6 ton konde askip (bawang dengan daun) atau 16,32 ton rogol askip (bawang tanpa daun) di lokasi sentra produksi.

Budi mengatakan, dengan adanya alat ini maka stok bawang merah aman karena sanggup menampung bawang merah sebanyak 16,32 ton serta tahan sampai 6 bulan.

“Kami menjadikan Brebes sebagai percontohan karena disini merupakan sentra penghasil bawang merah nasional. Dengan adanya alat ini maka penyusutan bawang bisa dikurangi,” kata Budi di Gudang Penyimpanan Bawang Merah Klampok, Brebes, Jateng.

Dia menjelaskan secara lebih rinci, sarana penyimpanan dengan pengondisian udara yang akan dibangun merupakan kombinasi antara pendingin dengan teknologi pengondisian udara yang mengontrol kadar kelembaban, oksigen, karbondioksida, nitrogen dan ethylene.

Secara umum, sarana penyimpanan tersebut mampu menghambat laju pematangan yang membuat produk pertanian yang disimpan dalam kondisi “mati suri”.

Budi menyatakan, bahwa pembangunan sarana penyimpanan bawang merah CAS dimaksudkan untuk mengembangkan bisnis Perum Bulog serta dalam rangka penugasan Pemerintah untuk stabilisasi harga dan pasokan bawang merah di tingkat produsen (petani bawang) dan konsumen (masyarakat).

“Dengan sistem dan teknologi ini, bawang merah dapat disimpan tiga sampai enam bulan lamanya dengan nilai susut maksimal 10%,” tambah Budi.

Menurut Budi, setelah adanya alat ini para petani bisa menggenjot produksi bawang merah. Sebab, dengan sistem CAS petani tidak perlu risau bawang merah cepat susut akibat disimpan terlalu lama.

“Saya minta semua petani bawang merah di Brebes untuk menggenjot produksi bawang merah sebanyak mungkin. Jangan takut susut karena sudah ada tekhnologi CAS untuk mencegah penyusutan,” tegas Budi.

Sementara itu, Bupati Brebes Idza Priyanti mengatakan, produksi bawang merah di Kabupaten Brebes mencapai 350.000 ton per tahun. Namun, masyarakat Brebes hanya mengkonsumsi bawang merah sebanyak 5.140 ton saja dalam setahun.

Source Stabilisasi Harga : BULOG Targetkan Serapan Gula 600.000 Ton

Leave A Reply

Your email address will not be published.