Seruan Digital Kebangkitan Maritim Indonesia

9

17 Juli 2016

“Jangan, pelabuhan itu kotor, panas, banyak oli, bau, dan penuh orang. Tidak boleh anak kecil main ke sana,” cerita Pungky menirukan alasan ayahnya. Pandangan minus lainnya tentang kondisi pelabuhan di Indonesia juga diungkapkan oleh blogger Satya Winnie. Masih jelas terekam di ingatannya ketika ia menunggu kapal KM Tidar dari Ambon ke Banda Neira, Maluku. “Dengan menggendong ransel besar di punggung dan ransel kecil di bagian depan, peluh tak berhenti mengalir di dahi karena berdesak-desakan dengan penumpang kapal lain yang tumpah ruah. Jangankan untuk berselonjor, tempat untuk duduk pun tak ada saat saya edarkan pandangan di sekeliling terminal penumpang,” kenangnya.

Satya teringat bahwa saat itu ia berangan-angan jika suatu saat Indonesia akan memiliki pelabuhan dengan fasilitas yang baik, mengutamakan kenyamanan dan keselamatan penumpang. “Biar kapal laut ke depannya tidak dipandang lagi menjadi transportasi kelas menengah ke bawah,” harapnya. Pengalaman Pungky dan Satya bukan tidak mungkin menjadi pengalaman yang juga mendasari anggapan ribuan penduduk Nusantara lainnya tentang bagaimana kondisi pelabuhan dan terminal penumpang di negeri maritim ini. Sebuah ironi.

Kondisi inilah yang mendorong BUMN kepelabuhanan, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) untuk mempositifkan pandangan negatif tersebut, bahkan juga menyebar semangat optimisme untuk bersama membangkitkan sektor maritim bangsa. Pelindo III mengundang Pungky, Satya, dan sembilan blogger Indonesia lainnya untuk datang ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan melihat sendiri jika harapan akan pelabuhan yang profesional itu bisa terwujud. Juga bahwa kebangkitan maritim negeri ini sudah dimulai. Dari Tanjung Perak gerbang laut perekonomian kawasan timur yang secara geografis berada di tengah Nusantara.

Selain Pungky Prayitno dan Satya Winnie, juga datang Farchan Noor Rachman aka Efenerr, Ananda Rasulia aka Jeng Nanda, Firsta, Dani Rachmat, Wira Nurmansyah, Barry Kusuma aka Agan Bheka, Sutiknyo aka Lostpacker, Harris Maulana, dan juga Imama Lavi Insani dari Good News from Indonesia. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari blogger perjalanan dan petualangan, ekonomi/keuangan, baik  pencerita berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, hingga yang sering ditunggu update-nya, yakni blogger visual yang rajin membagikan keindahan bumi Indonesia untuk para netizen di dunia maya.

Jika ada pertanyaan mengapa BUMN atau badan usaha yang tidak berhubungan langsung dengan konsumen produk, apa perlu juga bantuan para pesohor digital untuk memperkenalkan diri? Kahumas Pelindo III Edi Priyanto mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut bukan semata kegiatan kehumasan perusahaan, namun lebih sebagai usaha Pelindo III dalam mengajak para blogger untuk turut meng-endorse sektor maritim Indonesia. “Membukakan lebih banyak mata akan potensi maritim Tanah Air, terutama generasi muda yang karib dengan kanal digital seperti media sosial,” ujarnya. Ternyata live tweet dari para tamu dunia maya tersebut banyak diperhatikan oleh netizen. Maka tak heran jika tagar #pelindo3 untuk event kunjungan blogger itu sempat menjadi trending topic di Twitter.

“Saya sangat mengapresiasi ketika ada BUMN yang buka-bukaan tentang kegiatan mereka. Seumur-umur saya tidak pernah mendengar ada blogger yang diundang untuk melihat-lihat pelabuhan. Makanya ketika diajak jalan-jalan melihat Pelindo III, saya senang bukan kepalang,” aku Satya. Kembali ke kisah Satya dan juga Pungky, saat akhirnya mereka mengunjungi Terminal Gapura Surya Nusantara yang merupakan terminal modern yang dijadikan standar pelayanan penumpang kapal laut di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo, sejurus kemudian mereka berubah pikiran.

“Dan angan-angan saya menjadi kenyataan, bangunan terminal GSN modern dengan interior yang ciamik. Begitu masuk ke dalam gedung, udara sejuk dari pendingin ruangan membuat saya nyaman setelah menghadapi teriknya matahari Surabaya. Untuk masuk ke dalam kapal juga tidak perlu berdesak-desakan karena penumpang akan masuk ke kapal memakai garbarata, seperti layaknya masuk ke pesawat,” ujar Satya. “Tanjung Perak hari ini adalah sistem kerja yang memanusiakan manusia,” tambah Pungky.

Pelindo III mengoptimalkan pemanfaatan infrastrukturnya. Terminal GSN tidak hanya difungsikan untuk melayani penumpang kapal laut, tetapi juga sebagai destinasi wisata maritim, Surabaya North Quay (SNQ). Harris Maulana menilai Terminal GSN dibangun dengan design yang fashionable. “Rasanya tempat ini lebih mirip café dibanding terminal penumpang. Sambil duduk-duduk di kursi dan bantal-bantal berwarna warni, kita bisa melihat pemandangan laut dan kerlap-kerlip lampu kapal di malam hari,” ujarnya usai mengunjungi SNQ. Sekitar 10 ribu pengunjung memadati SNQ saat pre-launching pada Maret lalu.

Saat kunjungan, Barry Kusuma rajin menerbangkan drone-nya untuk mengabadikan kemajuan Pelabuhan Tanjung Perak kini dari sudut mata burung terbang. Ia memberi saran profesional, jika ingin mendapatkan hasil foto yang bagus, datanglah pada saat sunrise atau sunset. “Jika ingin nyaman (memotret dan berpesiar) Anda bisa menaiki kapal Artama III, kapal yang sangat nyaman dan cocok bersama keluarga ini akan mengelilingi perairan Selat Madura dan mengitari megahnya Jembatan Suramadu,” katanya.

Firsta bahkan merekomendasikan untuk berpesiar naik Kapal Artama III dengan mengajak serta sekelompok teman, karena tentunya akan lebih menyenangkan. Selama berlayar dengan Kapal Artama III, Firsta, Sutiknyo, Satya, Pungky, Harris, dan Wira asyik bernyanyi karaoke dan berjoged bersama. Dengan Artama III, pengunjung bisa menikmati suasana Pelabuhan Tanjung Perak dari geladak atas, kabin penumpang, bahkan di haluan (dengan mengenakan life jacket dan di bawah pengawasan kru kapal yang seluruhnya perempuan). Pelindo III memang memberi kesempatan yang sama kepada lelaki dan perempuan untuk berkiprah menjadi insan kepelabuhan profesional. Sebagai contoh insan perempuan Pelindo III lain yang misalnya Direktur Utama Terminal Petikemas Surabaya (TPS) Dothy dan Asisten Manager yang mengelola Terminal GSN Pitria Kartika Sari.

Anggapan Pungky tentang pelabuhan merupakan tempat yang kotor, jorok, bau, dan penuh kuli angkut yang berseliweran pun sirna ketika ia menyambangi Terminal Teluk Lamong (TTL). “Seluruh lokasi terlihat bersih, rapi, dan kinclong. Karena alatnya canggih, terminal ini minim (tenaga) manusia. Sehingga di sini belum pernah sekalipun terjadi kecelakaan kerja. Manusia, ada di kantor goyang-goyang joystick,” ceritanya tentang terminal peti kemas yang beroperasi secara semi-otomatis tersebut. Hal senada diungkapkan oleh Ananda Rasulia, kesan pelabuhan tidak lagi identik dengan pekerjaan berat, kasar, dan sangat ‘lapangan’, tapi sudah memanfaatkan teknologi sehingga lebih mudah, efisien, dan meminimalisir kecelakaan kerja.

Blogger berhijab tersebut juga mengungkapkan kekagumannya karena di TTL ia bertemu para staf yang masih muda dan didominasi oleh perempuan (operator Automatic Stacking Crane/ASC). “Mereka dengan passionate melakukan pekerjaan di pelabuhan!” ujarnya. Satya juga tidak menyangka ada perempuan yang bekerja menjadi operator di terminal peti kemas. “Dan ternyata (di TTL) setengah jumlah operatornya perempuan. Dengan cekatan si Mbak menekan tombol ini dan itu, lalu terlihat ASC memindahkan peti kemas dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat,” ceritanya kagum.

Sementara bagi Dani Rachmat, blogger yang kerja di bank tersebut sangat memahami bahwa pengoperasioan sistem online (online system paperwork) di TTL sangat membantu pelaku usaha dalam memangkas birokrasi, waktu, dan biaya dalam bisnis ekspor-impor. “Call me lebay, tapi pengalaman jalan-jalan di Terminal Teluk Lamong kemaren kasih gue insight banyak banget. Ternyata ada loh yang dilakukan pemerintah buat kemajuan bangsa ini,” celotehnya di blog. Selain ke Terminal GSN dan TTL, para blogger juga diajak melihat langsung perkembangan proyek Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) dan Terminal Petikemas Surabaya.

Pelindo III sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam mengoperasikan pelabuhan-pelabuhan pentingnya, ternyata tidak hanya berperan aktif mendorong integrasi logistik Indonesia. Tetapi juga berkomitmen untuk memberi manfaat pada masyarakat yang berada di sekitar wilayah kerjanya. Salah satunya bersama Pemerintah Kota Surabaya membina kampung wisata, Kampung Lawas Maspati. Warga kampung yang penuh bangunan bersejarah itu diajak untuk giat memproduksi aneka kudapan lokal dan karya kerajinan. Mereka juga diajak usaha kreatif kolektif untuk mengelola atraksi wisata sejarah dengan nuansa lokal. Imama dari GNFI penasaran kenapa warga menamai salah satu produk makanannya dengan ‘Semprit Jablay’. “Ternyata ‘Jablay’ adalah singkatan dari Jadi Belajar Biar Tidak Alay. Namanya yang nyentrik membuat orang langsung tertarik,” ceritanya.

Satya, Firsta, Wira Nurmansyah, dan Sutiknyo beradu permainan tradisional dengan bocah-bocah Maspati. Efenerr memberikan masukan untuk warga agar dapat juga mengelola homestay untuk mengakomodasi wisatawan ransel yang datang di Surabaya. “Suasana lokal dari kampung ini, apalagi dengan atmosfer cerita sejarah Surabaya, tentunya dapat menjadi daya tarik sendiri,” usulnya. Jeng Nanda juga menambahkan agar warga dapat mempertahankan nilai-nilai lokal di Kampung Lawas Maspati. Interaksi hangat dengan warga Maspati menutup kunjungan para blogger ke Pelindo III dan Surabaya.

Usai para pesohor media sosial tersebut kembali ke kotanya masing-masing, jejak digital petualangan mereka di Pelabuhan Tanjung Perak bersama Pelindo III justru semakin membekas di dunia mereka, dunia maya. Semangat kebangkitan maritim semakin bergema dan menjadi viral ke relung pemahaman ribuan generasi penerus bangsa bahari ini.

Source Seruan Digital Kebangkitan Maritim Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.