Saatnya Bela Petani

29

Sabtu, 20 Agustus 2016 | 13:33

Loesdarwanto ingat benar, kehidupan petani di daerah kelahirannya, Bojonogoro, Jawa Timur, di masa kecilnya sangat memprihatinkan. Setiap tahun, mereka harus menghadapi ancaman yang sama: serangan hama, banjir dan anjloknya harga saat panen raya. Kini dia punya solusi.

LOESDARWANTO lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 45 tahun lalu. Dari kota yang dikenal dengan banyak sebutan: Kota Minyak, Kota Jati, Kota Tembakau, dan juga Kota Banjir.

Dijelaskan oleh Loes, disebut Kota Minyak, karena di wilayah seluas 2.384,02 km2 ini ada kandungan minyak bumi yang menurut perkiraan para ahli geologi dunia tergolong yang terbesar di Asia. Volumenya mencapai 5 juta metric, atau bisa dieksploitasi selama lebih dari 300 tahun.

Disebut Kota Jati, karena hampir 30% luas lahan hutan di Bojonegoro merupakan hutan jati. Sebagian penduduk Bojonegoro, sekitar 2% dari total 1.472.805 jiwa, bergantung hidup dari jati. Mulai dari pencari ranting dan daun, pedagang kayu jati (gelondongan), sampai pengrajin (mebel dan karya seni yang lain).

Kalau ada yang menyebut Kota Tembakau, karena sebagian petani memanfaatkan lahan untuk menanam tembakau. Pada musim panas (kemarau), sebagian besar lahan padi berganti jadi ladang tembakau. Banyak pabrik rokok terkemuka di Tanah Air membuka gudang khusus tembakau di wilayah Bojonegoro. “Bahkan ada beberapa gudang yang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda,” cerita bapak dua anak ini.

Sebutan Kota Banjir muncul lantaran kota ini dilewati Sungai Bengawan Solo, yang bila musim hujan airnya selalu meluap. Banjir bandang adalah hal yang biasa terjadi di kota kecil ini.

“Terbayang nasib para petani bila hal itu terjadi. Apalagi bila tikus atau wereng menyerang lahan padi. Atau lalat daun menyerang tanaman tembakau. Tambah miris saja nasib mereka,” keluhnya.

Belum lagi ketika panen raya, harga gabah dan tembakau malah jatuh. “Biasanya, karena terdesak kebutuhan, petani tidak mampu menolak rayuan para tengkulak. Terpaksa jual, meski nyaris tak untung, atau bahkan buntung. Pokoknya miris sekali nasib petani jaman saya kecil,” kenang alumnus Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga ini.

Sekarang, muncul hasrat besar dalam hati penghobi kuliner dan travelling ini untuk membantu petani. Pas sekali, Loesdarwanto baru saja ditunjuk sebagai Kepala Divisi Penjaminan Sistem Resi Gudang di Perum Jamkrindo. Bapak dua anak ini tengah gencar mengajak petani memanfaatkan gudang terdekat untuk menyimpan barang.

Dengan memanfaatkan gudang yang memiliki Sistem Resi Gudang, petani bisa menghindari rayuan tengkulak. Dan, kalaupun butuh dana untuk memulai musim tanam, bisa menjaminkan Resi Gudang-nya ke bank atau lembaga keuangan non bank. “Karena Resi Gudang senilai surat berharga. Bisa dijadikan agunan kredit,” tandasnya.

Source Saatnya Bela Petani

Leave A Reply

Your email address will not be published.