Potret Exibition 2017: Mengenal Sejarah Singkat Perkebunan Indonesia

10

8 Mei 2017  — Analisadaily (Medan) – Diskusi ilmiah mengenal “Sejarah dan Masa Depan Perkebunan Indonesia” digelar dalam Potret Exibition 2017. Kegiatan diadakan di gedung Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS), Jalan Brigjen Katamso, Minggu (7/5) kemarin.  Diskusi dipimpin moderator Erond L. Damanik, selaku akademisi Universitas Negeri Medan, salah satu pemateri adalah Dr. Edy Sumarno dari Fakultas Ilmu Budaya USU Medan yang menyampaikan sejarah singkat perkebunan di Indonesia.

Dalam sejarah perkebunan Indonesia sampai tahun 2014, sekitar 2.126.632,16 hektare lahan di Sumut. 10,85 persen dari area perkebunan secara nasional merupakan lahan milik pemerintah yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT. Perkebunan Nusantara, PTPN 2, PTPN 3, PTPN 4 serta Perusahaan Perkebunan Nasional milik swasta dan asing.

Kemajuan perkebunan di Indonesia memang didorong kaum kapitalis pada masa dahulu yang mendatangkan berbagai suku, etnis dan bangsa di negara lain ke Sumut,” katanya. Edy menyebut, komoditas perkebunan pertama dari Sumut mulai berkembang sejak tahun 1863 dan menjadi komoditas paling menguntungkan bagi Pemerintah Sumut sampai tahun 1890, sebelum kemudian beralih menjadi Pekebunan Kelapa Sawit.

Akses pembangunan jalan, transportasi kereta api, rumah sakit, air minum, telekomunikasi dan fasilitas umum lainnya di Kota Medan, bukti kejayaan perusahaan perkebunan, khususnya Tembakau Deli yang berperan penting mendongkrak ekonomi Sumut,” sebutnya. Pemateri lainnya, Dr. Suroso Rahutomo, selaku Peneliti Agronomi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, mengatakan, isu miring yang berkembang saat ini tentang kelapa sawit telah berkembang. Masyarakat juga harus mengetahui, kelapa sawit juga banyak memiliki nilai positif.

Kita ingin mengoneksikan ide-ide yang ada di perkebunan kelapa sawit, termasuk teknologinya lebih dekat ke komunitas. Khusus dalam kegiatan anak muda dapat mengembangkan kewirausahaan,” ucapnya. Diungkapkannya, saat ini ada beberapa teknologi yang sudah didapat dan sudah dijadikan kewirausahaan seperti produksi cokelat. Menggunakan biji sawit diolah sebagai bahan campuran pembuatan cokelat yang dapat dikonsumsi dan dijual sebagai sumber pendapatan masyarakat.

Kita ingin menawarkan kepada masyarakat umum, khususnya anak-anak muda. Bagi yang punya ide dan kreatif dalam mengampanyekan hal yang positif, misalnya desain gambar, kerajinan dan lainnya berasal dari limbah sawit. Kita siap bekerja sama mengembangkannya,” ungkap Suroso.

Source Potret Exibition 2017: Mengenal Sejarah Singkat Perkebunan Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.