PERAN PJT I DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR SEPANJANG MUSIM KEMARAU

22

21 Juni 2019 | Bulan Juni di Indonesia pada umumnya merupakan awal dari musim Kemarau. Selama 5 bulan kedepan, rata-rata curah hujan akan lebih rendah dibandingkan bulan lain dalam setahun. Berdasarkan prediksi BMKG, perkembangan ENSO dari BMKG menyatakan bahwa fenomena El Nino Lemah akan berlangsung hingga November 2019 (indeks ENSO berkisar -0.46 hingga 0.78). Hal ini berdampak distribusi curah hujan bulanan di Jawa Timur pada kisaran dominan lebih kecil dari normalnya.

Untuk menghadapi musim kemarau, Perum Jasa Tirta I (PJT I) sebagai BUMN pengelola sumber daya air memiliki peranan dalam mengelola ketersediaan air permukaan melalui pengendalian serta pengaturan waduk – waduk yang dikelola oleh perusahaan. Tampungan air yang telah disimpan sepanjang musim hujan didistribusikan secara merata hingga hilir aliran di sepanjang kemarau. Ada 8 (delapan) bendungan besar yang dikelola oleh PJT I, 7 bendungan di Wilayah Sungai Brantas dan 1 bendungan di Wilayah Sungai Bengawan Solo. Kedelapan bendungan tersebut adalah Bendungan Sengguruh, Bendungan Sutami, Bendungan Lahor, Bendungan Wlingi, Bendungan Selorejo, Bendungan Wonorejo, Bendungan Bening, dan Bendungan Wonogiri. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan air selama 5 bulan kedepan hingga Oktober tersedia 354 juta m3 tampungan air di WS Brantas dan 348 juta m3 di WS Bengawan Solo.

Dari hasil analisa BMKG dengan memperhatikan perkembangan dinamika atmosfer – laut hingga dasarian I Mei 2019, tampak bahwa anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik Ekuator bagian tengah (Nino 3.4) mengindikasikan kondisi El Nino Lemah (+0.77 °C). Hal ini mengakibatkan rata – rata curah hujan di beberapa wilayah cukup rendah. Dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh PJT I diketahui bahwa kondisi elevasi beberapa waduk Perum Jasa Tirta I di akhir musim hujan berada di bawah elevasi muka air tinggi atau high water level (HWL). Elevasi Sutami per 1 Juni tercapai 272,34 m (SHVP) atau 0,16 m dibawah HWL, sedangkan Wonogiri di awal Mei hanya tercapai 135,51 m (SHVP) atau 0,49 m di bawah HWL.

Untuk mengendalikan kondisi ini, PJT I melakukan pengaturan debit outflow di setiap waduk dengan tetap memperhatikan pemenuhan kebutuhan air di masing- masing sektor pemanfaat yang telah diperhitungkan dalam Pola Operasi Waduk Tahunan (POWT) & Alokasi Air (POWTAA). POWTAA ini sendiri merupakan produk yang dihasilkan oleh Kementerian PUPR dengan sebelumnya dibahas oleh Tim Koordinasi Pengelolaan SDA (TKPSDA) yang terdiri dari berbagai unsur yang berkepentingan akan air permukaan, baik dari sektor pemerintah maupun msyarakat pengguna air, petani, pelaku industri, PLTA, maupun PDAM.

Meskipun elevasi waduk berada dibawah Pola, namun hingga saat ini layanan suplai air permukaan baik untuk kebutuhan irigasi maupun domestik masih terpenuhi sesuai kebutuhan (deviasi terhadap Pola < 20 %). Layanan ini akan menjadi perhatian utama dan selalu dipantau secara real time oleh PJT I. Jika diketahui ketersediaan air yang ada sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan, utamanya suplai irigasi yang merupakan pengguna air permukaan terbesar hingga 70 % nya, maka PJT I berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) akan mengusulkan adanya sidang TKPSDA untuk melakukan review terhadap kesesuaian Pola dengan kondisi yang ada. Jika diperlukan maka akan dilakukan perubahan POWTAA.

Melalui pengelolaan sumber daya air secara terpadu dengan mengutamakan fungsi koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan akan dapat menciptakan keharmonisan dalam pemenuhan kebutuhan air. Dengan konsep inilah keberadaan waduk sebagai penyimpan air yang memiliki multi tujuan dapat berperan secara optimal dalam pengalokasian air sebagai upaya mengantisipasi dampak kekeringan. Setiap pemanfaat akan memperoleh pelayanan yang sama dalam pemenuhan kebutuhan air sesuai POWTAA yang disahkan melalui TKPSDA. Dalam pengoperasian bendungan, bendung maupun pintu air, Perum Jasa Tirta I selaku operator selalu berpedoman terhadap POWTAA, sehingga pada musim kemarau pun keseimbangan pasokan air untuk kebutuhan PLTA, air bersih, maupun irigasi tetap terjaga dan terkendali. Dengan demikian program nasional terkait ketahanan pangan dan energi dapat tercapai melalui Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, termasuk diantaranya melalui peran Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN pengelola sumber daya air.

Source PERAN PJT I DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR SEPANJANG MUSIM KEMARAU

Leave A Reply

Your email address will not be published.