Pengaturan Operasi Taksi Online di Bandara Soetta Belum Final

8

06 Oktober 2016

PT Angkasa Pura (AP) II selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta menyatakan belum bisa menemukan konsep kerja sama dengan taksi online. Pasalnya, pembahasan kerja sama dengan pengelola moda transportasi umum yang telah bekerja sama dengan bandara masih dilakukan dan belum ada keputusan. masih belum diputuskan. Senior General Manager Bandara Soetta, Suriawan Wakan mengaku pembahasan kerja sama dengan taksi online masih dibahas pihaknya dan rekanan transportasi legal bandara. Seperti perusahaan travel, Damri, dan mobil Induk Koperasi Angkutan Udara. Karenanya bentuk konsep kerja sama dari pembahasan itu belum final.

”Konsep kerja sama dengan pihak taksi online masih dibahas. Memang perlu regulasi untuk mengatur, sehingga dibelakangan hari tidak ada konflik,” terangnya kepada indopos.co.id, (5/10).

Menurutnya juga, belum ditemukannya konsep kerja sama dengan taksi online karena belum didapatkan formula regulasi yang tepat. Di tambah lagi, selama ini kehawatiran kalah persaingan pengelola moda transportasi yang sudah bekerja sama dengan pihak bandara dengan taksi online masih ada.

”Aturan hukum dan kerja sama ini yang belum didapatkan. Permasalahannya keberadaan taksi online ini dikhawatirkan menggangu pendapatan taksi reguler dan Damri serta Hiba Utama,” ujar Suriawan juga. Tak sampai di sana, Suriawan mengaku kepincutnya pengelola bandara dengan taksi online lantaran besarnya minat konsumen bandara.

Lantaran harga yang diberikan taksi online lebih murah dari pada moda transportasi yang sudah bekerja sama dengan pihak PT AP II. Sehingga, bila tidak dibuat aturan aksi kucing-kucingan taksi online yang membawa penumpang dari Bandara Soetta dengan pelaku usaha moda transportasi umum bisa menimbulkan gesekan sesama sopir di lapangan.

”Persoalannya, pendapatan yang berkurang akibat kehadiran taksi online. Kalau bawa penumpang ke sini ya boleh-boleh saja. Tapi kalau angkut penumpang dari Bandara itu tak dibolehkan, karena kasihan moda transportasi umum lainnya yang sudah berkerjasama dengan kami,” paparnya. Dia juga yakin dalam waktu dekat perjanjian dengan taksi online akan dilakukan.

”Pastinya, kerjasama taksi online dengan Bandara Soetta tidak merugikan pihak lain. Artinya, dapat saling menguntungkan para rekan moda transportasi bandara yang sudah ada,” cetusnya juga. Diberitakan sebelumnya, keluhan datang dari tiga perusahaan rekanan PT AP II yang mengelola moda transportasi di sana.

Pasalnya, pendapatan sopir tiga moda transportasi itu berkurang karena keberadaan taksi online yang mencari penumpang tanpa izin resmi dari pengelola bandara. Rekanan ketiga bandara itu pun mengusulkan pelarangan pengoperasian taksi online masuk ke dalam bandara udara untuk mencari penumpang. Karena keluhan itu pengelola bandara pun memasang aplikasi untuk menangkap taksi online yang mangkal di bandara. Aksi kucing-kucingan dengan petugas keamanan pun terjadi dan mengakibatkan kekisruhan pengelolaan moda transportasi di bandara yang berlokasi di Tangerang tersebut.

Alternatif menyelesaikan konflik pun dicetuskan pengelola bandara dengan mencoba penjajakan kerja sama dengan pelaku usaha taksi online tersebut. Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Lisman Manurung menuturkan upaya yang ditempuh PT AP II untuk melakukan kerja sama mengelola moda transportasi di bandara langkah yang baik. Namun, kata dia juga, ada beberapa hal yang harus dimiliki untuk mencapai kerja sama tersebut. Yakni memiliki payung hukum yang sah, serta menggabungkan lokasi mangkal taksi online dengan moda transportasi yang lain. Tak itu saja, pemberlakukan plat nomor kuning atau umum kepada taksi online itu juga harus dilakukan. Hal itu untuk menghindari kecurangan yang sering dilakukan para sopir.

”Minta aturan main ke Kemenhub untuk KIR taksi online. Jadi tidak ada kecurangan dan gesekan lain. Toh selama ini taksi online menggunakan plat hitam. Agar tidak menyalahi aturan UU Lalu Lintas Angkutan Barang/Jasa. Hanya itu saja formula yang dapat menyelesaikan penjajakan kerja sama agar taksi online dapat beroperasi,” tuturnya.

Lisman juga menambahkan, perlu pembatasan jumlah armada taksi online oleh pengelola Bandara Soetta serta pemberian stiker bagi armada taksi online yang beroperasi di bandara.

”Itu untuk memantau keberadaan taksi online agar tidak merugikan moda transportasi yang lain,” paparnya juga.

Source Pengaturan Operasi Taksi Online di Bandara Soetta Belum Final

Leave A Reply

Your email address will not be published.