Pengalaman unik peserta SMN Yogyakarta mencicipi makanan Riau

10

16 Agustus 2019 | Pekanbaru – Sudah tiga hari keberadaan para Siswa Mengenal Nusantara (SMN) di Kota Pekanbaru, selama itu pulalah para peserta asal Yogyakarta tersebut merasa masih sulit menyesuaikan lidahnya untuk menikmati menu makanan yang disediakan panitia.

Hampir semua siswa dan guru mengeluhkan menu makanan di Pekanbarurasanya pedas dan asin. Hal ini terungkap saat bincang-bincang ringan di Rumah Kreatif BUMN (RKB) PekanbaruKamis (16/8). Saat ituSupervisor RKB Teresia Mari Rizky menceritakan jenis -jenis kerajinan makanan di Riau kepada peserta. Salah satunya adalah rendang.

Tere dengan spontan menanyakan apakah peserta SMN sudah mencicipi menu khas yang satu ini, lalu disambut riuh dengan jawaban sudah. Namun,di ujung pernyataan itu ada jawaban yang mengelitik saat ditanyakan apakah rasanya enak, sontak semua menjawab tidak, dan malah mengatakan, “Enakan gudek,”. “Alasannya karena asin dan banyak minyak,” jawab siswa SMN serentak.

Lalu Tere tersenyum sambil memberikan penjelasan, bahwa rendang daging memang dimasak pakai santan yang prosesnya lama sehingga mengeluarkan minyak kelapa, dan bumbunya yang terasa kuat pedas dan asin adalah ciri khasnya.

Sebenarnya, lanjut Tere, rasa pedas dan asin itu sangat terasa bagi lidah yang tidak biasa memakannya, namun bagi orang Sumatera yang suka cabai itu sudah biasa.

“Ia memang bagi lidah adik-adik yang biasa makan makanan Yogyakarta yang rasanya manis-manis, ini akan sedikit beda jadi lebih pedas dan asin,” papar Tere disambut heran anak-anak.

Perhelatan SMN ini digawangi oleh tiga BUMN yakni PT Hutama Karya, PTPN V dan Permodalan Nasional Madani (PNM). Menu-menu makanan yang disediakan juga memang khas Riau, agar para peserta mengenali budaya Melayu Riau.

Selain pedas, peserta juga mengeluhkan jenis beras yang mereka dapati di Pekanbaru, tidak seperti di Yogyakarta yang pulen. Jenis beras yang pera atau berderai sangat janggal di lidah mereka sehingga terkesan menilai itu keras dan kurang masak. “Berasnya juga keras,” celetuk Astri siswa SMA Wates Kulon Progo disambut tawa peserta.

Untuk jenis beras ini lagi-lagi Tere harus menjelaskan bahwa itu bukan keras atau belum matang. Memang sudah menjadi khas masyarakat Riau menyukai jenis beras pera atau berderai, atau jenis beras Anak Daro yang berasal dari Sumatera Barat.

Keluhan lainnya yang terlontar spontan dari siswa saat diskusi berlangsung, yakni menu rendang yang banyak minyak dan dicampur kentang kecil yang tidak dikuliti. Bagi siswa itu menu yang aneh. “Kenapa kentangnya harus dimasak dengan kulitnya,” tanya Arif Rohman Arif Romlan SMKN2 Pengasih, diiringi tawa kecil hadirin.

Anak-anak SMN asal Yogyakarta tersebut memang terlihat kritis dan rasa ingin tahunya tinggi, sehingga semua hal yang aneh dan berbeda dari daerah asalnya dipertanyakan. “Mereka hasil seleksi dari ratusan siswa Yogyakarta yang cerdas-cerdas,” ujar Maryuli Darmawan Guru pembimbing asal SMKN 3 Yogyakarta.

Walau diakuinya anak-anak mengeluhkan rasa makanan khas Pekanbaru, Riau namun sejauh ini tidak ada kendala berarti secara umum bagi kesehatan mereka. “Ia biasa karena gak pernah makan makanan selain menu Yogyakarta, tetapi kan habis juga dimakan mereka, mungkin karena lapar,” imbuhnya sambil senyum.

Diakuinya anak-anak peserta SMN ini berasal dari desa-desa di Yogyakarta dan belum pernah keluar dari tempat itu bahkan naik pesawat terbang juga belum pernah. “Jadi pengalaman di SMN ini perdana bagi mereka. Wajar serba kaget dan ingin tahu,” tambahnya.

Namun sejauh ini imbuh dia secara keseluruhan kesehatan peserta SMN dalam kondisi baik, tidak ada yang sakit. Walau di sore hari tampak kelelahan bahkan ada yang ngantuk saat kegiatan itu biasa sebab jadwal mereka padat.

“Panitia juga menyediakan vitamin bagi anak-anak jadi tetap kuat, semoga bertahan sampai akhir kembali ke Yogyakarta,” pungkasnya.

Source Pengalaman unik peserta SMN Yogyakarta mencicipi makanan Riau

Leave A Reply

Your email address will not be published.