Pemindahan Pipa Gas Tuntas, Revitalisasi APBS Masuki Tahap Finishing

10

23 Februari 2015

Surabaya – Pipa gas Eks Kodeco Energy yang kini dikelola PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) berhasil dipindahkan, dimana sebelumnya  dianggap mengganggu Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). Pengerjaan revitalisasi APBS pun berjalan sesuai target tanpa ada hambatan berarti. Pemindahan pipa eks Kodeco Energy ini membuat revitalisasi APBS berupa pendalaman APBS menjadi minus 13 LowWater Spring (LWS) dan pelebaran alur dari 100 meter menjadi 150 meter pun per 15 Februari memasuki proses penyelesaian sekitar 96,17 persen.

Menurut Pemimpin Proyek Pekerjaan APBS, Hendiek Eko Setiantoro, pipa eks Kodeco Energy belum sepenuhnya tuntas sebab saat ini pipa yang dibangun untuk mengalirkan gas dari lapangan West Madura Offshore (WMO) ini masih belum dipindahkan keseluruhannya. Namun pipa eks Kodeco Energy ini tak lagi digunakan PHE WMO (sebagai perusahaan yang meneruskan blok WMO) untuk mengalirkan gas, sebab PHE WMO sudah berhasil membangun aliran pipa baru yang terletak disebelah sisi timur APBS dan berada dipinggir alur pelayaran kapal dan dipastikan dimasa datang tak akan menganggu APBS walaupun nantinya Pelindo III akan melakukan pelebaran APBSlagi menjadi 200 meter.

“Saat ini pipa eks Kodeco Energy itu sudah dipotong-potong. Tinggal menunggu pengangkatan dari dasar laut. Dan untuk mengangkatnya diperlukan izin dari Dirjen Hubungan Laut (Hubla) Kementrian Perhubungan. Karena sudah tak ada lagi aliran gas yang melintas di pipa itu kami pun dengan leluasa bisa melakukan pendalaman APBS hingga -13 LWS dan Maret 2015 ini dipastikan mampu kami tuntaskan pendalamannya,” ucap Hendiek optimistis.

Saat ini masalah pipa eks Kodeco tak lagi menjadi rintangan utama seperti 14 tahun lalu PT Pelindo III mengemukakan kesulitannya dalam masalah APBS yang tak bisa didalamkan karena ada pipa gas Kodeco yang melintang dibawah APBS. “Saat ini, masalah pendalaman APBS hanya terkendala karena adanya batu besar yang membentang antara pelabuhan Maspion dengan Tanjung Perak dan itu akan kami pecahkan dengan teknologi Clam Cell,” jelas Hendiek.

Hal yang sama juga diungkapkan Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto, beberapa waktu lalu kepada wartawan dimana pihaknya telah merencanakan pendalaman APBS sejak tahun 2000 lalu, namun karena terkendala pipa gas Kodeco waktu itu pengerukan tak bisa dilakukan. Bagi Djarwo, pendalaman APBS menjadi -13 LWS dan pelebarannya sangat penting untuk meningkatkan arus barang dalam negeri maupun ekspor-impor yang masuk melalui jalur laut. Hal ini pula yang membuat Pelindo III rela mengeluarkan dana sekitar USD 76 juta untuk melakukan pekerjaan pengerukan dan pelebaran APBS ini.

“Proyek ini berjalan selama satu tahun, dan diharapkan setelah tuntas, maka kapal-kapal berukaran besar dengan muatan yang optimal pun bisa masuk melalui APBS. Dengan begitu ekonomi di Jatim makin menggeliat dan akan lebih maju lagi,” aku Djarwo, Sementara Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto, mengaku lega bukan hanya karena revitalisasi APBS tuntas sebentar lagi, melainkan karena wilayah kerja Pelindo III yang paling sibuk yakni di Pelabuhan Tanjung Perak sudah aman dari bahaya dan sudah mampu memenuhi persyaratan dari International Maritime Organization (IMO). Dimana salah syarat yang selama ini tak mampu dipenuhi Tanjung Perak adalah jaminan keselamatan kapal dan penumpangnya dari bahaya ledakan gas sewaktu-waktu.

Source Pemindahan Pipa Gas Tuntas, Revitalisasi APBS Masuki Tahap Finishing

Leave A Reply

Your email address will not be published.