Pelindo III Mulai Ujicoba 2 Unit STS Crane Asal Tiongkok

14

05 November 2015

Surabaya – PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) mulai mengujicobakan 2 Unit Ship To Shore (STS) Crane asal Tiongkok untuk melakukan Bongkar dan Muat, terhadap muatan peti kemas kapal KM Teluk Berau dan KM Pulau Nunukan di Terminal Nilam Pelabuhan Tanjung Perak. ’’Uji coba ini adalah menguji kehandalan dari alat bongkar muat ini,’’ kata. Manajer Terminal Nilam dan Mirah PT Pelindo III (Persero) Cabang Tanjung Perak, Bambang Wiyadi.

Lebih jauh Bambang juga menjelaskan, jumlah petikemas yang dibongkar dan dimuat dari KM Teluk Berau mencapai 432 Teus, dengan perincian bongkar 211 Teus dan muat 221 Teus. Sedangkan, petikemas yang dibongkar dari KM Pulau Nunukan mencapai 433 Teus. “Kami ingin memastikan segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik dan lancar sebelum dioperasikan secara penuh atau di-launching,’’ jelasnya.

PT Pelindo III (Persero) pada akhir September lalu juga telah mendatangkan empat alat bongkar muat yang terdiri dari 2 (dua) unit Ship to Shore (STS) crane dan 2 (dua) unit Grab Ship Unloader (GSU) buatan Cina. 2 (dua) unit Ship to Shore (STS) craneditempatkan di Terminal Nilam Pelabuhan Tanjung Perak, sedangkan, 2 (dua) unit Grab Ship Unloader (GSU) ditempatkan di Terminal Teluk Lamong.

Ship to Shore (STS) crane mempunyai beberapa kelebihan dibanding crane yang sudah ada di Terminal Nilam, diantaranya, yakni mulai dari kapasitas angkut yang mencapai maksimal 40 ton, kecepatan melakukan aktivitas bongkar muat petikemas hingga 35box/crane/hour. Ini lebih cepat dibandingkan dengan Container Crane (CC) yang sudah ada yang hanya mampu 25 box/crane/hour.Kemudian Grab Ship Unloader (GSU) berkapasitas 2000 ton / jam dan digunakan untuk melayani proses bongkar curah kering (bahan makanan, pertanian dan biji-bijian atau food and feed grain). “Keberadaan keempat crane ini akan mempercepat proses bongkar muat di pelabuhan Tanjung Perak dan Teluk Lamong sehingga dapat mengurangi biaya logistic,” ujar Kepala Humas Pelabuhan Tanjung Perak, Oscar Yogi Yustiano.

Kelebihan lainnya, tambah Pria lulusan World Maritime University, Swedia ini, keempat alat bongkar muat tersebut ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar listrik. Alhasil, polusi udara dan suara serta getar disekitar pelabuhan dapat diminalisir. “Di dalam mengoperasikan 2 STS Crane kami cukup menambah pasokan energi dengan menambah power house sebesar 2,5 MVA (±1 MVA / Crane), dibandingkan dengan penggunaan Container Crane (CC) yang sudah ada operasionalnya menghabiskan sekitar ± 12 Kiloliter BBM per crane perbulannya”, katanya.

Ditargetkan pula bahwa sebelum tahun 2017 Container Crane (CC) yang saat ini masih berbahan bakar solar akan dikonversi menjadi bahan bakar listrik, sehingga eco green port atau sustainable port dapat sepenuhnya diterapkan di Pelabuhan Tanjung Perak. “Kami ingin mewujudkan Pelabuhan Tanjung Perak yang ramah lingkungan demi kelangsungan generasi yang akan datang,”pungkas Yogi.

Source Pelindo III Mulai Ujicoba 2 Unit STS Crane Asal Tiongkok

Leave A Reply

Your email address will not be published.