Pelanggan Didahulukan Pelayanan Diutamakan

22

05 Oktober 2015

Surabaya – Presidium Forum Humas BUMN baru saja tiba di pelataran Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) – Pelabuhan Tanjung Perak – Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/1-15). Di tempat yang merupakan terminal penumpang kapal laut yang megah, modern, bersih, dan nyaman inilah seminar PR Tanpa Batas digelar Forum Humas BUMN. Mata saya segera menangkap seluruh sudut dan sisi bangunan tiga lantai megah berwarna biru dengan desain arsitektur modern, menyerupai sebuah kapal.

Dengan segala keramahan Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto, menyambut di pintu. “Ya. Inilah terminal penumpang kapal penumpang yang akan berangkat ke mana saja,”ujar Kahumas Pelindo III Edi Priyanto – Surabaya, sambil melewati metal detector dan x-ray penyigi barang bawaan. Terminal penumpang pelabuhan laut ini tak kalah dengan terminal penumpang. Konter-konter check in penumpang, pun sama eloknya dengan konter bandara. Bahkan dibandingkan dengan beberapa bandara di Indonesia, terminal penumpang pelabuhan Tanjung Perak, ini jauh lebih megah.

“Setiap penumpang, termasuk masyarakat berpenghasilan rendah, berhak memperoleh layanan yang aman dan nyaman. Itu prinsip kami,”ujar Edi. Memasuki seluruh sisi gedung dengan seluruh function room-nya, memberi kesan pelayanan prima. Gambaran tentang terminal penumpang pelabuhan laut yang kumuh, seram, banyak preman, dan keras, tak ada di sini. Terminal penumpang ini dibangun sangat compact. Bahkan dilengkapi dengan garbarata untuk menjamin keselamatan penumpang yang akan naik ke kapal besar. Untuk kapal-kapal sedang dan menengah, masih berlaku tangga naik ke kapal sebagaimana biasa.

Bangunan terminal penumpang ini sudah sesuai dengan standar keamanan dan kenyamanan penumpang. Pada beberapa bagian terdapat kedai yang bersih. Di lantai satu, terdapat sejumlah kamar yang disediakan untuk petugas ANG Surabaya yang terik. Saya dan Soesi – Presidium Forum Humas BUMN baru saja tiba di pelataran Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) – Pelabuhan Tanjung Perak – Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/1-15). Di tempat yang merupakan terminal penumpang kapal laut yang megah, modern, bersih, dan nyaman inilah seminar PR Tanpa Batas digelar Forum Humas BUMN.

Mata saya segera menangkap seluruh sudut dan sisi bangunan tiga lantai megah berwarna biru dengan desain arsitektur modern, menyerupai sebuah kapal. Dengan segala keramahan Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto, menyambut di pintu. “Ya. Inilah terminal penumpang kapal penumpang yang akan berangkat ke mana saja,”ujar Kahumas Pelindo III Edi Priyanto – Surabaya, sambil melewati metal detector dan x-ray penyigi barang bawaan. Terminal penumpang pelabuhan laut ini tak kalah dengan terminal penumpang. Konter-konter check in penumpang, pun sama eloknya dengan konter bandara.

Bahkan dibandingkan dengan beberapa bandara di Indonesia, terminal penumpang pelabuhan Tanjung Perak, ini jauh lebih megah. “Setiap penumpang, termasuk masyarakat berpenghasilan rendah, berhak memperoleh layanan yang aman dan nyaman. Itu prinsip kami,”ujar Edi. Memasuki seluruh sisi gedung dengan seluruh function room-nya, memberi kesan pelayanan prima. Gambaran tentang terminal penumpang pelabuhan laut yang kumuh, seram, banyak preman, dan keras, tak ada di sini. Terminal penumpang ini dibangun sangat compact. Bahkan dilengkapi dengan garbarata untuk menjamin keselamatan penumpang yang akan naik ke kapal besar.

Untuk kapal-kapal sedang dan menengah, masih berlaku tangga naik ke kapal sebagaimana biasa. Bangunan terminal penumpang ini sudah sesuai dengan standar keamanan dan kenyamanan penumpang. Pada beberapa bagian terdapat kedai yang bersih. Di lantai satu, terdapat sejumlah kamar yang disediakan untuk petugas kapal pemandu. Demikian juga dengan ruang makan.kapal pemandu. Demikian juga dengan ruang makan. Di lantai tiga, disediakan ruang terbuka. Tak luas, namun memadai. Di sudut ruang terbuka itu, terdapat sudut kecil, tempat para musisi jazz unjuk kebolehan. Acara musik ini, memang disiapkan agar para penumpang dan calon penumpang dapat menikmati suasana.

Paling tidak sebelum mereka berlayar selama beberapa hari. Di lantai tiga terminal ini juga terdapat function hall yang berfungsi serbaguna, yang biasa dipakai untuk pameran, pergelaran, termasuk menyelenggarakan acara seminar. Semua dikelola dengan baik. “Sesuai dengan prinsip budaya perusahaan Pelindo tiga, kami mendahulukan kualitas pelayanan penumpang secara optimum,”ungkap Edi lagi. Edi menjelaskan, function room ini juga menjadi ajang promosi kriya dan budaya Jawa Timur. Beberapa backdrop yang sekaligus menjadi hiasan dinding function hall, itu menunjukkan aktivitas budaya yang selama ini digelar di situ.

Menurut Edi, setiap kali penumpang kapal pesiar singgah, mereka dibawa ke sini. “Kita siapkan juga agenda belajar membatik bagi mereka,” ungkap Edi lagi. Khasnya, Batik Madura. Pelindo 3 mempunyai mitra binaan pengrajin Batik Tulis Madura. Untuk itu juga, dalam kesempatan menggelar Port Visit, misalnya, selain disiapkan agenda menikmati pagi atau petang di perairan Selat Madura, peserta juga bisa melihat langsung kinerja bongkar muat logistik dari sisi laut. Termasik mengabadikan dirinya, berfoto di atas kapal dengan latar Jembatan Suramadu. Tanpa banyak cingcong, Pelindo 3 melakukan upaya transformasi konkret dan patut menjadi contoh bagi lainnya.

Terasa proses perubahan mencapai kualitas pelayanan yang baik dengan pengelolaan infrastruktur yang juga baik, berbuah kebaikan. Dan yang menarik saya catat adalah semua ruang fungsional yang diperuntukan bagi pengguna jasa pelabuhan, khasnya penumpang, disiapkan dengan performa prima. Bahkan, jauh melebih performa kantor untuk manajemen. Lantas, bagaimana dengan sisi lain pelayanan terkait dengan bongkar muat yang kerap disorot orang? Antara lain, waktu bongkar muat barang di pelabuhan? Pelabuhan Tanjung Perak – Surabaya yang merupakan sentra logistik, gerbang ekonomi kawasan timur Nusantara terus ditingkatkan kualitas kinerjanya.

Untuk memenuhi standar bongkar muat yang cepat, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III telah mendatangkan tambahan peralatan bongkar muat berupa dua unit unit Grab Ship Unloader (GSU) di Terminal Teluk Lamong dan dua unit Ship to Shore (STS) Crane untuk Terminal Nilam, Pelabuhan Tanjung Perak. Kesemua itu merupakan fasilitas bongkar muat utama untuk mempercepat kinerja bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Terminal Teluk Lamong, yang nampak kerlip cahayanya pada malam, sembari mendengarkan musik jazz di taman luar ruang terminal penumpang, telah diresmikan Presiden Joko Widodo.

Itulah terminal ramah lingkungan (green port) pertama di Indonesia, yang diproyeksikan menjadi pusat bongkar muat peti kemas. Juga pusat bongkar muat curah kering jenis bahan makanan, pertanian, serta biji-bijian (food and feed grain). Kapasitas setiap alat Grab Ship Unloader baru tersebut mencapai 2.000 ton per jam, sehingga dengan kedua perkakas tersebut akan dicapai kemampuan operasi sampai 4.000 ton per jam. Kecepatan pelayanan bongkar muat curah kering itu terus ditingkatkan, ssejalan dengan proyeksi Terminal Teluk Lamong untuk mencapai target produksi lima juta ton per tahun.

Merujuk artikel di BUMN Insight, dua unit STS Crane ditempatkan di Terminal Nilam dengan kapasitas berat maksimal 40 ton. Commissioning test (uji coba dan periksa) telah dilakukan selama 21 hari, untuk memastikan kinerja STS Crane yang mencapai 35 box/crane/hour. Kecepatan ini membuat kinerja Terminal Nilam semakin efisien. Tak hanya tertampak dari Terminal Penumpang yang keren, itu kinerja Pelindo III, menurut Edi Priyanto peningkatan kinerja juga dilakukan di pelabuhan-pelabuhan lain dalam pengelolaan Pelindo III. Untuk itu, Pelindo III akan kembali mendatangkan peralatan bongkar muat baru akhir tahun 2015 ini.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam jasa layanan operator terminal pelabuhan, ini misalnya, sedang menambah STS Crane baru di Pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Fasilitas Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS), Jawa Tengah, juga akan ditambah dua unit STS Crane. elaras dengan itu, ungkap Edi Priyanto, Pelindo III juga melakukan strategi relokasi peralatan yakni dengan perpindahan peralatan antar pelabuhan yang membutuhkan. Artinya, satu STS Crane dari Pelabuhan Tanjung Perak akan direlokasi ke Pelabuhan Tenau Kupang, NTT.

Di Pulau Kalimantan, dua STS Crane dari Pelabuhan Banjarmasin akan direlokasi ke Pelabuhan Bagendang, Sampit. Strategi relokasi peratalan, itu menurut Edi, dapat memastikan pelabuhan cabang mengimbangi kinerja pelabuhan utama, sehingga dapat mendukung kegiatan perekonomian daerah setempat. Pelindo III dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1991 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Pelabuhan III Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

Peraturan tersebut ditandatangani Presiden Ke-2 Republik Indonesia Soeharto pada tanggal 19 Oktober 1991. Sebagai operator terminal pelabuhan, Pelindo III mengelola 43 pelabuhan dengan 16 kantor cabang yang tersebar di tujuh propinsi di Indonesia meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Keberadaan Pelindo III tak lepas dari visi perusahaan Berkomitmen Memacu Integrasi Logistik dengan Layanan Jasa Pelabuhan yang Prima. Pelindo III berkomitmen kuat mewujudkan visi dan misi perusahaan.

Oleh karenanya, setiap tindakan yang diambil korporasi, selalu mengacu pada tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Banyak hal dilakukan Pelindo III dan pengguna jasa pelabuhan merasakannya langsung. Hal itu tampak dari arus pergi dan datang kapal muatan dan ferry yang terlihat berlangsung teratur. Saya menyaksikannya dari lantai pelataran lantai III gedung Terminal Gapura Surya Nusantara, yang boleh jadi, kelak akan sungguh merupakan gapura surya (gerbang utama yang menjadi cahaya) bagi Nusantara. Semua itu berlangsung dalam irama transformasi tanpa cingcong.

Source Pelanggan Didahulukan Pelayanan Diutamakan

Leave A Reply

Your email address will not be published.