Pastikan Terus Berkembang dengan Teh : Sisi Lain Wajah Pertehan Indonesia

15

16 Mei 2018 — Pertanian mempunyai tugas paling mendasar yaitu menghidupi umat manusia dan menggerakkan perekonomian di wilayah rural. Maka indikator keberhasilannya adalah produktivitas yang tinggi baik kuantitas maupun kualitas dan man faat ekonomi yaitu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat di kawasan sekitarnya yang rata-rata aksesibilitas terhadap pendidikan masih sangat terbatas. Angkatan kerja dalam kelompok ini tidak mudah mengakses dan menembus kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor

manufaktur yang membutuhkan pengetahuan dan skill yang memadai. Bagi sekelompok anggota masyarakat tertentu, bekerja di sektor pertanian menjadi satu-satunya pilihan. Untuk itu maka sektor pertanian tidak boleh gagal dalam menjalankan bisnisnya agar dapat menjamin fungsinya sebagai sumber pendapatan bagi pemiliknya, mensejahterakan para pemangku kepentingannya dan berfungsi aktif dalam mengelola dan menjaga kelestarian sumber daya alam.

Indonesia adalah satu diantara sedikit negara yang memperoleh anugerah kemewahan sumber daya alam. Kondisi agroklimat dan kesuburan tanahnya memungkinkan begitu banyak ragam spesies tanaman dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi secara baik.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan pandangan dari sisi yang berbeda terkait dengan keniscayaan bahwa bisnis perkebunan di Indonesia yang terpinggirkan. Bahkan keadaan yang lebih buruk dialami oleh perusahaan-perusahaan yang bertumpu pada komoditas perkebunan yang dewasa ini, di kacamata banyak pengamat kurang populer yaitu teh. Komoditas ini selama lebih dua dasawarsa terakhir dianggap sebagai komoditas yang gagal bagi para pengelola perkebunan untuk manangguk keuntungan.

Harga pasar yang buruk sering dijadikan sebagai sebab utama bagi para produsen (perusahaan perkebunan) dibalik buruknya kinerja teh dan kakao dalam mendulang pendapatan. Sementara di mata pembeli lemahnya daya juang harga teh Indonesia di pasaran adalah karena rendahnya kualitas teh Indonesia ditengah melimpahnya pasokan teh di pasaran yang dihasilkan baik dari negara debutan baru dan peningkatan produktivitas dari produsen lama. Lingkaran setan : telur dan ayam

Di tengah perekonomian dunia yang sedang melemah, menjalankan perusahaan bukan perkara gampang, apalagi jika bertumpu pada komoditas yang tidak populer seperti teh. Harga produk yang rendah dan di sisi lain biaya yang selalu bergerak naik dengan karakternya sendiri menjadi alasan yang tidak terbantahkan dan dalam batas-batas tertentu membuat pengelola perusahaan dapat kehilangan orientasi dalam menjalankan bisnis.

Seringkali kita menggunakan analogi telur dan ayam untuk merepresentasikan permasalahan mutu di satu sisi dan harga di sisi yang lain. Produsen bertanggung jawab terhadap mutu dan pembeli bertanggung jawab terhadap harga. Namun faktanya pasar punya aturan sendiri apalagi jika produk perkebunan masih berkarakter bulk dan menjadi common product (komoditas) maka pasar adalah penentu harga. Dalam kondisi yang demikian ini keputusan pimpinan perusahaan mengambil peran yang sangat esensial apakah akan mengambil

posisi sebagai ayam yang produktif atau menunggu vonis harga atas telur yang dihasilkan. Sering orang mengatakan bahwa teh adalah teh, yang masing-masing kualitas ada pasarnya sendiri-sendiri. Yang menjadi kunci penting bagi pengambil keputusan adalah keyakinan atas kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Paradigma dan Belenggu Stigma dalam Agribisnis Teh

Di dalam paradigma bisnis perkebunan, ada banyak stigma tentang produk, prosesing, pembeli dan pasar yang terbentuk karena asumsi-asumsi yang dipakai pada masanya. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka paradigma yang ada sudah mulai bergeser karena asumsi-asumsi yang dipergunakan di masa lalu tidak dapat dipergunakan lagi. Keseimbangan permintaan-pasokan berubah, preferensi pengguna dan konsumen berubah, posisi terhadap pesaing berubah, struktur biaya dan pengendali biaya berubah, bahkan iklim juga berubah. Teh

selama dikelola secara benar, baik dari segi produksi, pemasaran, dan pengembangan produknya masih menguntungkan. Produsen harus terbuka dengan perubahan jangan terbelenggu oleh stigma-stigma lama tentang grading, preferensi pembeli, mutu dan sebagainya. Dulu orang minum teh dengan cara diseduh, sekarang konsumsi teh celup tumbuh luar biasa dan yang jelas grade yang dipakai sebagai bahan teh seduh dan teh celup berbeda. Contoh fakta seperti ini bisa ditarik mundur sebagai acuan dalam penentuan kebijakan

produksi. Jangan terjebak pada stigmatisasi grade sementara pada saat yang sama preferensi user terabaikan. Produsen bisa menyesuaikan spesifikasi mutu teh yang demandable ke dalam grade-grade yang mungkin dibuat dengan biaya lebih efisien, dengan demikian omzet tetap tinggi dan bisnis bisa tetap berkembang. Hal ini tidak berarti kita mengorbankan mutu bagus, kita mampu produksi mutu bagus tetapi lihat dulu pasar butuh apa.

Kejayaan agribisnis teh memang tidak sebagus di masa lalu, tetapi kondisi ini mengisyaratkan adanya tantangan dan sekaligus peluang. Yang harus difahami secara baik terlebih dahulu adalah apa sebenarnya indikator kejayaan yang dimaksud? Apakah produktivitas, luas areal? mutu?, harga jual, atau apa?. Kadang-kadang kita menemukan data statistik dan memaknainya secara superfisial. Kita lihat hasil tea auction di KPB kemudian dibandingkan dengan hasil tea auction negara lain, lalu disimpulkan harga teh Indonesia lebih rendah. Kita lihat

mutu produk teh Indonesia dan dibandingkan teh produksi Srilanka misalnya, dan secara umum dapat disimpulkan mutu teh Srilanka lebih baik. Artinya memang teh yang mutunya baik harganya juga baik, tetapi sebenarnya harga bukan segala-galanya, keberlanjutan usaha perkebunan teh juga sangat dipengaruhi oleh biaya produksi. Teh bagus dibuat dengan mutu bahan baku yang bagus dan proses yang benar, pemetikan bahan baku yang bagus mengandung konsekuensi kuantitas yang terbatas dan ini berpotensi menaikkan biaya produksi. Apakah selama ini kita pernah membandingkan biaya produksi kita dengan produsen negara lain?, bagaimana

struktur biaya mereka? apakah kita juga tahu apakah sebenarnya mereka itu untung atau rugi?, dan masih banyak hal lagi. Jangan salah! harga mereka tinggi, mutu meraka bagus tetapi biaya produksi mereka juga tinggi, jadi apakah keuntungan mereka juga bagus?. Jika pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab mungkin kita akan terbawa pada alasan lebih tepat harus dengan cara seperti apa agribisnis teh diIndonesia harus dikelola. Belum lagi kebijakan pengembangan komoditas (termasuk didalamnya teh) yang selama ini sepenuhnya masih sangat

bertumpu pada kebijakan internal perusahaan perkebunan secara individual bukan entitas nasional yang mewakili pelaku agribisnis teh di Indonesia. Kalau kita membayangkan bagaimana kebun teh yang ada itu dulu dibangun beserta seluruh fasilitasnya pada masanya maka akan terbayang betapa berat upaya yang dilakukan dan betapa besar kendala yang dihadapi yang bisa jadi jauh lebih berat dibandingkan dengan kendala yang sekarang kita hadapi. Setiap kegiatan usaha di penggalan waktu yang berbeda akan menghadapi permasalahan-permasalahan yang juga berbeda. Kita harus melihatnya secara menyeluruh.

Pilihan yang diambil para pekebun teh di Indonesia sekarang tidak sepenuhnya salah, bisnis itu menarik kalau ada keuntungan dan peningkatan kualitas bisa dicapai kalau semuanya dapat berjalan secara baik. Kalau penjualan tidak bagus dan perusahaan tidak untung, maka tentu tidak ada ruang untuk memikirkan peningkatan kualitas. Itu logika normatifnya, namun jika pimpinan perusahaan membuat terobosan yang berani dengan mengambil keputusan untuk melakukan investasi dalam perbaikan mutu dan di sisi lain mempunyai kebijakan pemasaran yang jelas, maka investasi ini pada saatnya akan memberikan hasil yang memuaskan dan membuat perusahaan mempunyai daya saing yang bagus.

Tidak semua perusahaan yang menghasilkan produk dengan mutu yang bagus menghasilkan keuntungan yang bagus. Strategi penguasaan segmen pasar tertentu menjadi kuncinya. Keputusan bisnis tidak berlaku sepanjang masa, sesekali kita harus berpikir lebih baik jadi raja di segmen menengah daripada sekedar jadi pelengkap di segmen papan atas, sambil terus berusaha untuk menjadi pemain kunci di segmen pasar papan atas. Keputusan ini mensyaratkan manajemen untuk mengambil kendali perusahaan di semua lini mulai bagian produksi hingga

pemasaran. Hal yang sering terjadi adalah produksi dikendalikan oleh perusahaan sementara pemasaran di kendalikan oleh pihak yang lain. Akibatnya manajemen kehilangan ‘magnitude’ terhadap produknya dan tidak dalam posisi terbaik untuk mengambil keputusan cepat untuk bertahan atau melakukan perubahan. Lain halnya jika perusahaan mengambil kebijakan untuk menghasilkan produk premium. Perlu diingat bahwa produk teh premium dan teh bulk (common tea) dihasilkan dari tanaman yang sama, yang ditumbuhkan dari kebun yang sama, yang dirawat dengan cara yang sama, tetapi menjadi berbeda ketika dibalik proses pengolahan

ada skenario atau kehendak yang berbeda untuk menampilkan apa yang disebut ‘teh’. Kehendak itu pula yang kemudian dapat merubah posisi produsen dari ‘price taker’ menjadi ’price maker’ dan dengan sendirinya produsen akan berpeluang merajai di segmen yang memang tercipta dari sebuah kehendak yang kuat dan spesifik. Jelas di sini bahwa kemampuan perusahaan untuk memastikan revenue menjadi kuncinya dan ini diperoleh melalui strategi pemasaran yang tepat. Dengan demikian maka kegiatan produksi di bagian hulu akan menemukan alasannya yang juga tepat. Pengalaman PT. Pagilaran

Pagilaran adalah perusahaan perkebunan yang bertumpu pada dua komoditas yang tidak populer yaitu teh dan kakao. Menjelang akhir tahun 2005, perusahaan ini sudah divonis gagal, karena berbagai hal dan hampir ditutup, menyusul naiknya harga BBM yang melampaui 100% pada masa itu. Namun perusahaan ini akhirnya dapat bangkit kembali tanpa suntikan dana sama sekali dan hanya bertumpu pada reformasi bisnis dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki. Perusahaan ini mereformasi sebagian besar stigma tentang grading teh,

pasar, preferensi pembeli dan SOP-SOP di tingkat kebun dan sebagainya. Hasilnya dalam waktu yang singkat perusahaan ini dapat bangkit kembali dan bahkan terus berkembang dan mampu berinvestasi secara bertahap menuju PT. Pagilaran baru yang mandiri. Perusahaan ini sekarang juga aktif mengangkat pamor teh melalui berbagai even budaya, ilmiah, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan. Melalui Yogyakarta Tea Talk pada tahun 2012 bersama para tea master dari berbagai

belahan dunia dikumandangkan isu mengenai ‘Premium Tea vs Common Tea’. Pada tahun 2014, bersama para pelaku usaha teh di berbagai lini, dikampanyekan bahwa harga teh tidak harus murah, demi keberlanjutan usaha di bagian hulu agribisnis teh. Gb 1. Ritual minum teh bersama tea masters dan keluarga Kerajaan Yogyakarta

Merujuk pada pengalaman ini maka, sangat diyakini bahwa teh tidak selalu dapat dikambinghitamkan sebagai penyebab kerugian perusahaan, dan pada saatnya harga yang lebih baik akan menjadi milik produsen menyusul keputusan investasi yang berhasil meningkatkan kualitas teh Indonesia yang memenangi persaingan di pasar pada segmen yang dipilih. Prospek Agribisnis Teh dan ke Depan

Prospek Agribisnis teh diyakini masih bagus jika para pelaku usahanya di semua segmen menempatkan usahanya di lini yang tepat, karena kita mempunyai sumber daya yang luar biasa. Orang sering membaca statistik mengenai teh tanpa tahu alasan di balik munculnya angka-angka tersebut dan akhirnya frustrasi sendiri. Beberapa perusahaan di Indonesia pernah mangalami masa-masa sangat sulit selama bertahun-tahun karena terjebak pada stigma tentang pasar, mutu dan perspektif komoditas teh yang mendarah daging hingga ke sektor produksi. Sementara pada saat yang sama perusahaan mulai kehilangan kendali di bidang upah, harga sarana-sarana produksi.

Di masa lalu perkebunan teh dikelola karena perusahaan mempunyai kebun dan pabrik, pembeli mendikte soal mutu dan perusahaan perkebunan merasa senang karena bisa memproduksi teh bagus tak peduli berapa biaya produksinya dari keseluruhan produksi, dijual 40-50% produksinya saja sudah, perusahaan untung karena sebagian besar kelompok biaya dikendalikan oleh perusahaan. Sekarang kondisinya berbeda, upah dikendalikan pemerintah, pupuk sudah tidak disubisidi lagi, BBM harga pasar, jadi pengusaha harus pintar bermain memanfaatkan dan mengelola sumber daya sehingga perusahaan masih bisa bertahan bahkan berkembang.

Yang penting adalah bagaimana kita mengelola sumber daya utamanya sumber daya alam yang luar biasa ini dengan manajemen dan tata niaga yang baik maka prospek teh dan berbagai komoditas perkebunan yang lain akan tetap baik. Peran pemerintah sangat penting di sini untuk melindungi warga negaranya dalam menjalankan kegiatan usaha dan menjaga posisinya di mata pembeli yang kebanyakan dari luar negeri, karena sebagaian besar produk teh hitam dipasarkan di pasar ekspor.

Ke depan akan terjadi perubahan keseimbangan permintaan dan pasokan, perubahan pangsa suplai dan yang menarik adalah tumbuhnya permintaan baik ekspor maupun domestik. Dari catatan yang diambil dari berbagai survey media menunjukkan perkembangan permintaan pasar domestik yang tinggi untuk produk olahan teh

Source Pastikan Terus Berkembang dengan Teh : Sisi Lain Wajah Pertehan Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.