Pasar Teh Domestik Masih Menggiurkan

75

6 Februari 2015 — Dalam suatu uji coba dengan mata tertutup (bind test) minum teh di Jepang beberapa tahun lalu, terucap bahwa Teh asal nusantara memiliki kualitas terbaik. Sejak jaman kolonial Belanda, Indonesia sudah dikenal sebagai pemasok utama pasar teh dunia. Namun, kini produksi teh kita tengah terseok-seok.

Hingga tahun 2000, produksi teh Indonesia mengalami peningkatan, namun sejak saat itu, produksi komoditas ini mengalami periode penurunan. Tanaman teh yang tidak regenerasi, kurang produktif sehingga kuantitas yang dihasilkan tidak sebanyak dulu. Harga jual teh kering yang relatif rendah juga menjadi isu. Demi kelangsungan hidup perusahaan, tak sedikit lahan teh yang dikonversi menjadi kelapa sawit atau tanaman lainnya yang lebih menguntungkan.

Berdasarkan data dari Dewan Teh Indonesia, sejak tahun 2001, ada penyusutan lahan 3.00 kejtare setiap tahun karena alih fungsi. Akibatnya, produksi teh dalam negeri pun ikut menyusut. Pertumbuhan pasar teh dunia sendiri saat ini cukup kecil dibandingkan dengan pasiokan yang masih besar. Dengan pertumbuhan produksi 5-7% selama periode 2006-20012serta semakin banyaknya pemain di komoditas ini, kondisi ini tidak sebanding dengan pertumbuhan konsumsi teh dunia.

Berdasarkan dokumen Plantation Sector Review 2013 yang dilakukan oleh TKS research yang berbasis di Kolombo, Srilangka, pertumbuhan konsumsi teh dunia saat ini hanya di kisaran 3-4%.“tentu belum cukup untuk  membuat pasar seimbang,” demikian laporan TKS Research. Saat ini, produksi teh didominasi oleh Tiongkok 1,75 juta ton (41%), disusul oleh India1,11 juta ton (26%), Kenya 369.200 ton (9%) dan Srilangka 326,3 (8%).

Bahkan, menghadapi tahun 2015, Ketua Dewan Teh Indonesia, Rachmat Badrudin, melihat tahun ini bagaikan “lorong”gelap bagi bayak perusahaan perkebunan teh di Indonesia, terutama di Jawa Barat selaku produsen terbesar. Namun, sebenarnya teh Indonesia masih bisa bangkitdengan memanfaatkan pasar Domestik yang masih cukup besar. Menurut Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia Ratna Somantri, pasar teh dalam negeri hanya menyerap 40% produksi teh nasional, sebanyak 60% untuk di ekspor.” “Petani kita masih berorientasi Ekspor,” tuturnya.

Di sisi lain, menurutnya, pasar teh dalam negeri sampai saat ini masih belum berkembang. Konsumsi teh di Indonesia hanya mencapai 260 gram per kapita. Jauh lebih rendah dari negara lain seperti Inggris yang mencapai 2 kg per kapita. Ketua Masyarakat Indikasi geografis Komoditas Teh Indonesia, Nugroho, senada ketua Harian Gabungan Pengusaha Perkebunan Jawa Barat-Banten, Slamet Bangsadikusumahmengatakan, tahun ini seharusnya untuk bangkit bagi perusahaan perkebunan teh agar bisa lebih menggarap pasar domestik.

Menurutnya, dari seluruh perusahaan perkebunan teh yang beroperasi di Jawa Barat, saat ini hanya dua perusahaan perkebunan yang bisnisnya relatif normalkarena sudah memiliki jaringan kuat dari segmen pemasaran. Namun, bagi sejumlah perusahaan perkebunan teh lainnya, pada tahun 2015 ini memang tahunnya mengeluarkanberbagai upaya dan terobosan yang sifatnya unik sebagai modal untuk bangkit.

“di seluruh Indonesia, khususnya Pulau Jawa, sebenarnya banyak produk unik teh siap konsumsi yang berpotensi menarik hati konsumen sesuai pangsa pasarnya. Bukan hanya produk-produk merek baru, merek lama pun bisa berkembang lagi karena fenomena pasar selalu bermunculan sehingga tahun 2015 bukan saatnya lagi usaha perkebunan teh untuk berkeluh kesah tapi waktunya bangkit,” ujar Nugroho.

Menyadari fenomena demikian, melirik pangsa pasar dalam negeri pun dilakukan perusahaan perkebunan teh terbesar nasional milik Holding BUMN Perkebunan, yaitu PT Perkebunan Nusantara VIII yang mengisyaratkan semakin serius menggarappangsa pasar dalam negeri. Paling tidak, upaya menggenjot kembali pemasaran domestik melalui produk teh jadi yang pernah lama mengakar serta terobosan industrialisasi ancang-ancang dilakukan tahun 2015 ini.

Direktur Produksi PTPN VIII, Dikdik Koesnandi mengatakan, industrialisasi produk-produk teh di perusahaannya memang tengah serius dipersiapkan, untuk mencoba meraih dua pangsa pasar sekaligus, domestik bahkan ekspor. Pasar dalam negeri memang tengah dimanfaatkan kembali karena peluangnya ternyata banyak karena harus pula kuat dari dua sisi sekaligus yang selama ini mengandalkan ekspor.

“PAngsa pasar ekspor walau diimbangi nilai tukar mata uang dolar AS yang sedang tinggi pun, untuk saat-saat tertentu malah kurang terasa manfaatnya karena biaya produk-produk yang tergambar bakal menjadi penyelamatdan tinggi reponsnya didalam negeri cenderung lebih menjadi peluang.

Source Pasar Teh Domestik Masih Menggiurkan

Leave A Reply

Your email address will not be published.