Minat Petani Menanam Tebu Menurun

4

 Jumat, 30 Januari 2015 | Senior Advisor AGI, Yadi Supriyadi memperkirakan, produksi gula kristal putih (GKP) berbahan baku tebu tahun 2015 hanya berada pada kisaran 2,54 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah ketimbang tahun 2014 yang mencapai 2,58 juta ton.

Menurutnya, penurunan produksi karena faktor minat petani untuk menanam tebu berkurang. Hal ini dampak dari harga lelang gula yang rendah. Data harga lelang, pada Januari 2014 harga gula sempat mencapai Rp 8.629/kg, tapi terus menurut menjadi Rp 8.025/kg. Bahkan November-Desember 2014 harga gula makin merosot.

“Dengan harga lelang yang rendah ini, tentu saja akan menurunkan minat petani untuk kembali menanam tebu. Dapat diperkirakan, produksi gula nasional di tahun 2015 akan mengalami penurunan,” kata Yadi. “Untuk itu, pemerintah harus menaikkan harga lelang gula karena akan menarik minat petani tebu untuk kembali menanam tebu.” tambahnya.

Akibat minat petani menurun, luas areal pertamanan tebu juga ikut menurun sekitar 3,4% dari total luas areal tahun 2014 yang mencapai 476.256 ha. Sementara upaya pemerintah dengan ekspansi areal oleh pabrik gula (PG) baru juga tidak terlalu signifikan mengangkat produksi gula dalam negeri.

Faktor lainnya adalah iklim. Menurut perkiraan BMKG, tahun 2015 musim kemarau akan lebih awal terjadi atau ada gejala El-Nino rendah. Kondisi tersebut bisa menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga menyebabkan produktivitas menurun dari 70,8 ton/ha menjadi 68,7 ton/ha. Namun anomali iklim tersebut, mendorong naiknya rendemen dari 7,64% menjadi 8,02%.

Penurunan produksi gula ternyata bukan hanya di Indonesia. Negara-negara produsen gula tebu lainnya juga mengalami hal yang sama. Diprediksi produksi si manis dunia akan menurun sekitar 0,1%. Namun di lain sisi, konsumsi gula dunia justru meningkat 1,9%.

Salah satu faktor penyebab menurunnya produksi gula dunia adalah terpangkasnya produksi di produsen gula terbesar yaitu Brazil sekitar 2,6%. Senior Advisor Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Wayan R. Susila mengatakan, penurunan produksi gula tersebut karena pengaruh iklim tahun 2014 yang kurang baik. “Penurunan harga minyak bumi membuat insentif memproduksi bioethanol di Brazil menurun, sehingga berpotensi ikut menurunkan produksi gula,” katanya.

Tak Perlu Impor

Meski produksi gula dalam negeri tahun ini menurun, tapi Yudi mengatakan, Indonesia tidak perlu impor gula konsumsi. Sebab stok gula pada awal tahun sudah mencapai 1,5 juta ton. Jumlah tersebut cukup hingga enam bulan ke depan. Apalagi pada April Pabrik Gula (PG) yang ada di Sumatra Selatan dan Lampung sudah mulai musim giling.

Banyak stok gula di awal tahun ini karena membanjirnya ipor gula rafinasi dalam dua tahun terakhir (2013-2014). Total impor gula tahun 2014 mencapai 3,485 juta ton. Jumlah tersebut memang lebih rendah 5% dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 3,755 juta ton. Dengan perhitungan konsumsi Gula Kristal Putih (GKP) mencapai 2,84 juta ton ditambah konsumsi guka rafinasi, total keseluruhan mencapai 5,2 juta ton.

Direktur Eksekutif AGI, Tito Pranolo mengatakan, kebutuhan gula rafinasi sebenarnya hanya untuk industri makanan-minuman (mamin), tapi sayangnya merembes ke dalam konsumsi rumah tangga karena impor yang melebihi kebutuhan. “Industri mamin hanya membutuhkan gula rafinasi 2,2 juta ton, tapi ternyata impor gula hampir 3 juta ton. Tentu berlebihan yang pada akhirnya merembes ke gula konsumsi,” katanya.

Jadi menurut Tito yang harus diperhatikan pemerintah dalam pergulaan nasional adalah membatasi impor gula rafinasi atau impor disesuaikan kebutuhan. Dengan demikian, petani dan industri gula nasional dapat lebih berkembang. “Kontrol peredaran gula rafinasi dan naikkan harga lelang, sehingga industri gula kita tidak akan mati. Petani kembali bergairah menanam tebu, industri gula nasional kembali berjalan dengan maksimal,” tuturnya.

Source Minat Petani Menanam Tebu Menurun

Leave A Reply

Your email address will not be published.