Meriah dan Sakral, Ritual Larung Sesaji Waduk Bening Saradan

26

SARADAN, PERHUTANI (8/10/2018) | Sebagai bentuk perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang melimpah, masyarakat Dusun Petung, Desa Pajaran, Kecamatan Saradan menggelar ritual Larung Sesaji Bogo Mulyo dan doa bersama di obyek wisata Waduk Bening Saradan yang masih termasuk dalam wilayah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan, Minggu (7/10).

Hadir pada kegiatan tersebut Bupati Madiun Ahmad Dawami, Waka Administratur Saradan Timur Ganjar Winahyu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Madiun Yudi Hartono, Kepala Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan, jajaran Muspida Kabupaten Madiun, tokoh masyarakat Desa Pajaran, Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan pengunjung dari berbagai daerah sekitar Madiun, Nganjuk, Ngawi dan Magetan.

Larung sesaji merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan pada bulan Syuro. Pada malam sebelum prosesi pelarungan, warga desa, para sesepuh, pemangku adat beserta pihak pengelola termasuk Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan melakukan doa bersama atau disebut dengan slametan Buceng Bogo Mulyo.

Pada prosesi selamatan disajikan nasi tumpeng Buceng Bogo Mulyo yang mengandung nilai filosofis. Tumpeng merupakan akronim jawa yang bermakna yen metu kudu mempeng (ketika keluar harus sungguh-sungguh). Maksudnya adalah saat anak lahir ke dunia, orang tua harus bersungguh-sungguh dalam mengasuh dan mendidiknya. Selain itu bisa berarti juga manusia dalam melakukan aktifitas atau mengerjakan sesuatu harus mempunyai tekad dan semangat yang sungguh-sungguh. Selamatan sendiri adalah bentuk permohonan keberkahan kepada Tuhan YME.

Keesokan paginya diiringi berbagai macam kesenian, Buceng Bogo Mulyo diarak menuju Gapura Puroyo Agung untuk dilarung ke tengah waduk Bening. Ketua adat membacakan doa kemudian buceng diangkut oleh puluhan perahu getek ke tengah waduk dan dilarung bersama bibit ikan, angsa, bebek dan burung yang telah disiapkan sebelumnya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan pagelaran kesenian diantaranya tari gambyong, pencak silat, jaranan, dan dongkrek menandai bahwa seluruh prosesi ritual larung sesaji telah dilaksanakan dengan lancar.

Waduk Bening merupakan obyek rekreasi ekowisata yang sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan khususnya masyarakat sekitarnya. Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan yang mengutamakan aspek konservsi alam, pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal dan pendidikan. Banyak manfaat lain yang dapat dirasakan terutama oleh warga sekitar dengan keberadaan waduk Bening yaitu manfaat perikanan dan manfaat pengairan oleh Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) untuk mengairi sawah mereka.

Di tempat terpisah Adm KPH Saradan Noor Rochman menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini.

“Kegiatan tahunan ritual Larung Sesaji Buceng Bogo Mulyo di waduk Bening ini perlu dilestarikan sehingga mampu menambah daya tarik wisata dan menjadikan Waduk Bening sebagai destinasi pilihan keluarga khususnya di wilayah Saradan dan sekitarnya.”

Source Meriah dan Sakral, Ritual Larung Sesaji Waduk Bening Saradan

Leave A Reply

Your email address will not be published.