Mengawal Sistem Akan Membentuk Karakter Karyawan (Bagian I)

6

Jumat, 22 Mei 2015 | 20 Juni 2015 mendatang satu tantangan siap menghadang kita, yaitu penerapan SNI wajib bagi produk Gula Kristal Putih (GKP). Enam bulan berikutnya, yakni Januari 2016, tantangan yang lebih besar lagi akan segera menyusul, yaitu pemberlakuan pasar bebas ASEAN atau yang kita kenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dua tantangan utama tersebut sebenarnya adalah kondisi yang sudah bisa dibaca jauh hari sebelumnya.

Penerapan SNI wajib bagi produksi GKP tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.68/Permentan/OT.140/6/2013 tertanggal 20Juni 2013 tentang Pemberlakuan SNI GKP secara wajib, dimana dalam pasal 12 ditegaskan bahwa ketentuan tersebut berlaku 24 bulan terhitung sejak tanggal diundangkan. (Sumber : www.djpp.kemenkumham.go.id)

Sedangkan wacana pasar bebas ASEAN atau MEA sebenarnya sudah muncul sejak KTT Asean Oktober 2003 di Bali. Hanya waktu itu pemberlakuannya disepakati tahun 2020. Kemudian pada pertemuan Menteri Ekonomi Asean ke-38, Agustus 2006 di Kuala Lumpur disusunlah ‘cetak biru’ percepatan pelaksanaan MEA. Pada KTT Asean ke-12, 13 Januari 2007 disepakatilah pemberlakuan MEA pada 1 Januari 2016 dengan menyusun ASEAN Chapter atau Piagam ASEAN. Indonesia meratifikasi piagam tersebut dengan menerbitkan UU No. 38 tahun 2008 sebagai payung berbagai perjanjian kerjasama di tingkat ASEAN. (Sumber: www.phpp.pertanian.go.id). Permasalahannya adalah sudah sejauh manakah persiapan kita sebagai insan pergulaan umumnya maupun sebagai karyawan PTPN X khususnya mengahadapi hal tersebut?

Marilah kita coba menganalisis satu per satu persoalan yang pasti akan kita hadapi sebagai insan pergulaan menyusul pemberlakuan dua hal tersebut di atas. Pertama, SNI wajib bagi produk GKP mensyaratkan kita memperoleh sertifikat ISO 9001- 2008 terlebih dahulu. Ini berarti bahwa kita harus membenahi manajemen kita dari hulu sampai ke hilir. Dari on farm sampai off farm termasuk semua aktifitas pendukungnya. Kedua, pemberlakuan pasar terbuka MEA akan menantang kita dalam hal biaya pokok produksi, kualitas produk, dan kompetensi tenaga kerja.

Menyangkut SNI wajib bagi produk GKP nampaknya sudah tidak ada masalah bagi kita karena semua unit usaha kita sudah menyelesaikannya. Namun untuk persoalan nomor 2 nampaknya untuk ketiga poin tantangan tersebut kondisi kita saat ini masih cukup tertinggal. Penjelasan poin kedua sebagai berikut: a) Biaya Pokok Produksi (BPP) gula kita secara rerata nasional masih berkisar Rp 8.000,- / kg, sedangkan BPP gula di negara tetangga terdekat dan yang paling mungkin melakukan ekspor ke negara kita, yakni Thailand berkisar Rp 4.500,-/kg dan sampai pelabuhan Indonesia hanya berkisar Rp 6.000,-/kg (Sumber : http//umkmnews.com); b) Dengan berlakunya MEA nanti peredaran gula di pasaran akan semakin marak dengan banyak pilihan. Konsumen bebas memilih sesuai kehendak hatinya. Disinilah kita ditantang untuk memroduksi gula dengan kualitas prima baik ICUMSA, besar butir maupun kekeringannya; c) Kemampuan Thailand memproduksi gula dengan BPP rendah serta kualitas yang baik tentu tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi serta didukung oleh tenaga-tenaga yang andal. Lalu bagaimanakah kondisi teknologi dan SDM kita?

Source Mengawal Sistem Akan Membentuk Karakter Karyawan (Bagian I)

Leave A Reply

Your email address will not be published.