Membuat Bayi Enero Mengaum: Menggali Potensi dan Kinerja Karyawan melalui Talent Management (Bagian I)

7

Kamis, 25 Juni 2015 | Lebih dari 20 tahun, Samsung bertansformasi masif di jalan kesuksesan. Sampai saat ini, Samsung berhasil menggulingkan kedigdayaan penguasa gadget di dunia seperti Nokia dan Sony, walaupun masih dibawah Apple untuk ukuran perusahaan smartphone terbaik. Samsung berhasil mencapai level penjualan produk tertinggi di dunia, yang secara sporadis telah menyentuh angka 50,5 juta smartphone, hampir dua kali lipat penjualan iPhone milik Apple, saingan terberat mereka. Bahkan tahun lalu profit Samsung mencapai Rp 250 triliun. Sony? Rugi Rp 25 triliun.

Patrick M. Wright dari University of South Carolina[1], menyibak rahasia di balik kesuksesan Samsung di pasar global. Di depan forum internasional, Patrick menyampaikan ada 2 (dua) rahasia tersebut yaitu Inovasi dan Talent Management (Manajemen Bakat). Patrick lebih menekankan pada talent management, sebagai bagian krusial dari kesuksesan Samsung. Transformasi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui talent management akan mengantarkan pencapaian perusahaan, menciptakan inovasi dan mengatasi tantangan di pasar. Karyawan Samsung diberikan tanggung jawab untuk menciptakan target masing-masing yang selaras dengan target perusahaan, bukan sekedar bekerja rutin mengimplementasikan rencana yang telah disiapkan perusahaan.

Cerita di atas dapat dijadikan inspirasi di lingkungan PTPN X untuk pemberdayaan SDM-nya. Pada perusahaan yang memiliki business culture yang kuat, upaya pemberdayaan SDM di PTPN X tentunya akan lebih mudah dilakukan. Lain halnya pada anak perusahaan mereka, PT Energi Agro Nusantara (Enero) yang tergolong perusahaan masih berumur jagung. Jika rata-rata unit usaha dan anak perusahaan lainnya telah bergerak dan berlari dalam menjalankan usahanya, Enero dianalogikan seperti bayi yang merangkak dan masih butuh perhatian dari induknya. Tapi dengan adanya tuntutan globalisasi dan upaya yang pengelolaan yang cermat, bukan tidak mungkin bayi ini berkembang pesat menjadi bayi singa yang mengaum dan siap menerkam mangsanya, tak hanya menjadi bayi kambing yang mengembik di ranah industri ethanol.

Komposisi SDM Enero sendiri sangat minimalis. Hal ini dikarenakan sifat dari proses produksinya yang sederhana. Total karyawan di luar Direksi hanya terdiri dari 142 orang, yang terbagi dari level Manager, Supervisor, Staf atau Foreman dan Operator. Jika dibandingkan dengan unit usaha atau anak perusahaan PTPN X lainnya, jumlah ini jelas tidak ada apa-apanya. Menariknya, rata-rata usia karyawan Enero masih tergolong muda, yaitu 25 (dua puluh lima) tahun. Secara kasat mata, rata-rata usia karyawan ini mungkin yang paling muda di lingkup usaha PTPN X. Menilai hal ini, anda dapat membayangkan Enero yang dipenuhi karyawan muda yang mempunyai usia kerja yang panjang, sangat produktif, cepat, mau belajar, bersemangat, mau berkompetisi, bekerja keras dan berkembang. Namun tanpa pengelolaan SDM yang tepat maka mustahil didapatkan SDM di masa depan yang kokoh dan tangguh dalam menghadapi persaingan.

Upaya pengelolaan SDM di Enero tentunya tidak serta merta menilai kinerja karyawan saja, melainkan bagaimana memetakan kemampuan setiap karyawan untuk dapat dialokasikan pada bagian-bagian yang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Talent Management sebagai Solusi

Sering ditemui dalam perusahaan hasil penilaian karyawan (assessment), dimana calon A masuk dalam kategori terbaik namun selama ini kinerjanya tidak dapat dikatakan bagus atau calon B yang kinerjanya bagus malah hasil penilaiannya masuk dalam kategori rendah. Padahal perusahaan telah mengeluarkan banyak biaya untuk mengidentifikasi potensi karyawan mereka.

Mencermati hal di atas, pengukuran kinerja karyawan melalui penilaian performa adalah cara yang banyak digunakan perusahaan, dengan standar-standar penilaian kinerja yang dirumuskan perusahaan. Hasil tes lalu disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan posisinya oleh perusahaan pada saat ini atau masa mendatang. Teknik ini mengacu pada output yang dihasilkan namun tidak mengakomodasi proses kinerja karyawan dalam mencapai suatu standar. Terkadang pula teknik ini masih bersifat subyektif. Hasil teknik ini juga memberikan gambaran yang kurang detail dan mendalam.

Dengan karyawan yang memiliki rata-rata usia kerja yang panjang, Enero perlu mengelola secara tepat karyawannya, sehingga potensi-potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan baik. Proses penilaian seharusnya mempertimbangkan juga faktor potensi sebagai standar pengukuran lainnya. Apabila pengukuran performa digabungkan dengan potensi karyawan maka akan menciptakan karyawan yang kinerjanya baik sekaligus good performer. Enero juga akan mendapatkan gambaran komprehensif dan holistik karyawan-karyawannya. Enero dapat memetakan kinerja dan potensi karyawannya, siapa saja yang siap dipromosikan dan siapa saja yang butuh pengembangan untuk jenjang karir berikutnya. Talent Management seperti yang diterapkan Samsung dapat dijadikan solusi untuk sustainability atau keberlangsungan Enero di masa depan.

Menurut McKinsey and Company, melalui studinya tahun 1997[2], Talent management atau manajemen bakat itu sendiri diartikan sebagai strategi pengelolaan SDM yang seoptimal mungkin mengaitkan antara proses identifikasi, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, promosi dan proses mempertahankan karyawan agar terkait dengan perencanaan strategik perusahaan.Sebagai langkah awal, maka dibangun dulu adalah kulturnya lalu disusun sistemnya. Kultur dibangun untuk menciptakan mindset yang sama sesuai dengan filosofi perusahaan, sedangkan sistem ini akan memastikan agar tidak kehabisan pemimpin usaha pada tiap level.

Tahapan talent management yang pertama yaitu Identifikasi. Salah satu cara mengidentifikasi talenta adalah dengan memanfaatkan pihak eksternal untuk memberikan penilaian secara obyektif. Bentuk identifikasi ini melihat performa tiap individu disesuaikan dengan standar yang diinginkan perusahaan. Data-data yang mendukung aktivitas ini adalah profil, keahlian, kapasitas, record data akademis, penghargaan dan pencapaian individu selama ini.

Setelah diidentifikasi potensi dan kinerjanya, maka perusahaan dapat menyeleksi karyawannya. Apakah setiap karyawan sudah berada di bidang yang tepat dengan potensinya atau dimana seharusnya karyawan ditempatkan untuk meningkatkan kinerjanya. Proses seleksi tidak bergantung pada kemampuan akademis semata, mungkin ada keahlian lain yang dimiliki untuk dimanfaatkan secara optimal.

Karyawan yang terseleksi sesuai dengan kapasitasnya perlu dikembangkan kemampuannya sehingga tidak terjebak pada aktivitas rutin pekerjaannya. Tahapan pengembangan bertujuan memperoleh hasil optimal dari bakat yang dimiliki masing-masing individu. Apabila pengembangan ini konsisten dilakukan, maka individu tentunya akan memiliki kapabilitas yang tinggi.

Source Membuat Bayi Enero Mengaum: Menggali Potensi dan Kinerja Karyawan melalui Talent Management (Bagian I)

Leave A Reply

Your email address will not be published.