Membangun Industri Feri, Memajukan Perekonomian Negeri

36

06-01-2016 |¬†Jakarta — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) optimistis dapat mencatat kinerja bisnis lebih cemerlang di tahun 2016. Tahun ini perseroan membidik target pendapatan sebesar Rp 2,6 triliun dengan target laba bersih sekitar Rp 250 miliar.

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Danang S Baskoro mengatakan, target tahun ini memang tidak terlalu tinggi dibandingkan target tahun 2015, yakni pendapatan sebesar Rp 2,4 triliun dengan laba bersih Rp 190 miliar.

“Kita tahu perlambatan ekonomi global turut berdampak pada performansi bisnis di Tanah Air, termasuk industri feri. Namun, di tengah persaingan yang ketat, dan juga regulasi yang cukup mengikat, kami terus berupaya untuk bertahan,” katanya, Rabu (6/1).

Tahun ini, perseroan tengah menggenjot percepatan dan pembangunan infrastruktur pelabuhan dan peningkatan kinerja pendapatan, pelayanan serta keselamatan. Perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp 560 miliar untuk pengadaan kapal sebanyak 5 unit berukuran 2000 Gross Tonnage yang akan ditempatkan di sejumlah lintasan eksisting. Tahun 2015 sendiri perseroan tidak mengalokasikan anggaran untuk pembelian kapal, hanya memaksimalkan unit kapal yang ada.

“Total kebutuhan investasi untuk 2016 sekitar Rp 2,3 triliun, termasuk pembelian kapal, pembangunan dermaga, dan ongkos operasional lainnya,” kata dia.

Dia meyakini, penambahan kapal pada tahun ini dapat mendongkrak kinerja penerimaan perusahaan. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) merupakan perusahaan feri pelat merah terbesar di Tanah Air bahkan di Asia dengan total jumlah armada 135 unit kapal. Saat ini, ada 180 lintasan pelayaran penyeberangan yang dilayani ASDP, dengan total panjang mencapai 24.600 kilometer, dari Sabang hingga Merauke yang menghubungkan seluruh pulau di Indonesia.

Dalam operasionalnya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyandang tugas pelayanan rute komersial maupun keperintisan. Untuk keperintisan sendiri, lebih banyak dilayani di lintasan penyeberangan kawasan timur Indonesia. Tahun 2015, pemerintah mengalokasikan anggaran perintis Rp 320 miliar, yang terserap hingga 95 persen hingga akhir tahun.

Skala ekonomi yang dimiliki industri feri cukup besar. Hal ini terlihat dari jumlah armada dan lintasan eksisting yang banyak. Seperti di lintasan Merak-Bakauheni yang sangat ramai, dari awalnya 3 kapal kini sudah bertambah menjadi 9 kapal yang beroperasi di lintasan yang berkontribusi paling besar bagi pendapatan perusahaan ini.

Diungkapkan, ada 8 lintasan penyeberangan tersibuk yang dilayani PT ASDP Indonesia Ferry yang berkontribusi sekitar 75-80 persen dari total pendapatan perseroan, antara lain Merak-Bakauheni, Ketapang-Gilimanuk, Padang Bai-Lembar, dana Kayangan-Pototano.

Menurut Danang, layanan feri komersial saat ini menghadapi tantangan yang besar. Sejak diterbitkannya Peraturan Menteri No. 80 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 26 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan, menyebabkan persaingan industri feri semakin ketat karena semua calon investor mendapat kebebasan menjadi operator kapal feri.

Di sisi lain, tarif angkutan penyeberangan ditentukan pula oleh pemerintah. Selama tahun 2015, kecendrungan ongkos feri diturunkan karena mengikuti harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang trennya terus mengalami penurunan. Bahkan, belum lama ini, Pemerintah kembali menurunkan tarif BBM jenis solar dan premium.

“Kalau harga BBM terus diturunkan, tarif angkutan otomatis akan menyesuaikan (turun). Persoalannya, kapal feri yang beroperasi di setiap lintasan makin banyak, sehingga kapasitas yang tersedia juga besar. Sebaliknya, demand (penumpang) relatif turun yang berdampak pada penurunan load factor kapal,” katanya.

Belum lagi, industri feri juga harus bertahan dari pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dollar AS yang terjadi sejak pertengahan 2013. “Rugi kurs terutama berdampak pada pembelian spare part, dimana biaya pemeliharaan kami sudah tergerus nilainya hingga 15-20 persen. Ini tentu sangat merugikan perseroan,” katanya.

Namun demikian, Danang optimistis bisnis feri masih memiliki prospek cerah di masa depan, khususnya menopang sektor perdagangan dan logistik nasional. Armada feri dikenal sangat simpel dan cepat. Daerah yang menginginkan terciptanya pertumbuhan ekonomi, sudah tentu membutuhkan infrastruktur transportasi yang simpel dan cepat.

“Sebagai negara kepulauan terbesar, banyak sekali peluang yang bisa dieksplor lebih jauh di sektor penyeberangan ini. Terbukti, banyak lintasan perintis yang berubah menjadi komersial. Intinya sekarang, bagaimana menciptakan kebangkitan industri, khususnya di wilayah timur Indonesia, sehingga banyak muatan yang bisa diangkut dengan kapal. Jadi, feri tidak hanya menjadi tumpuan kapal penumpang, tetapi juga alat angkut logistik,” tuturnya.

Inovasi e-ticketing

Namun demikian, Danang menyadari kemajuan industri feri di Tanah Air juga membutuhkan kerja keras dan inovasi tanpa henti. Tidak hanya melakukan efisiensi di perusahaan, ASDP Indonesia Ferry juga tengah menggenjot implementasi layanan e-ticketing, yang untuk tahap perdana tengah dilakukan di Merak – Bakauheni.

“Ada 3 tujuan utama implementasi e-ticketing. Pertama, memberikan pelayanan lebih baik. Kedua, mencegah potensi kerugian karena ada tiket muter dan penurunan golongan kendaraan, dan ketiga, kita berusaha comply dengan aturan keselamatan dimana penumpang feri secara keseluruhan harus tercatat dalam manifest,” katanya.

Menurutnya, dengan adanya layanan e-ticketing yang menggunakan layanan aplikasi teknologi informasi dan alat sensor bagi kendaraan ini, maka secara otomatis, kendaraan maupun penumpang pejalan kaki dapat terdata dengan baik.

“Intinya, kita menginginkan bisnis ini berjalan lebih sehat. Bersama-sama dengan seluruh mitra kita membangun bisnis yang lebih baik, baik itu pengguna jasa (trucking), penumpang, pihak ASDP sendiri, dan lainnya. Kita minimalisir praktik kecurangan yang selama ini terjadi. Dengan sistem e-ticketing ini, kami targetkan dapat menekan kebocoran hingga 30 persen,” tuturnya.

Danang menargetkan, implementasi e-ticketing dapat berjalan lebih baik dalam waktu 3 bulan ke depan. “Tentu masih banyak kekurangan yang harus disempurnakan. Namanya IT, ada masa fine tuning. Target saya, jika Merak-Bakauheni sudah lancar, maka akan dilanjutkan ke lintasan Ketapang-Gilimanuk,” katanya.

Source Membangun Industri Feri, Memajukan Perekonomian Negeri

Leave A Reply

Your email address will not be published.