Mainan Lokal Makin Terpinggirkan oleh Produk Import

20

Thu, 29 January 2015 08:56:44 +0700 — Perdagangan bebas AFTA 2015 kini sudah mulai merambah pasaran di Indonesia. Dari beredarnya secara bebas produk luar negeri di Indonesia sangat dirasakan oleh pembeli produk dari Indonesia. Salah satunya yang terjadi di pasar Gembrong Jakarta Timur. Hampir 99 persen pasar yang menjual berbagai macam mainan anak-anak tersebut kini dibanjiri oleh produk import dari negera Cina.

Yang sangat mengkhawatirkan lagi dari produk mainan anak-anak import tersebut sedikitnya 75 persen ditemukan tidak berStandar Nasional Indonesia(SNI). Kepada indopos.co.id Saim, 50, salah satu pedagang mainan anak-anak di Pasar Gembrong mengakui, beberapa jenis mainan yang dijual olehnya tidak memiliki label SNI. Menurut pedagang yang sudah berjualan selama tiga tahun tersebut, selama tidak membahayakan konsumen dan dilarang oleh pemerintah dirinya tetap menawarkan kepada pembeli.

“Kan kita rutin dikontrol. Kalau kayak gelang tangan yang dulu berbahaya pasti tidak akan kita jual. Selama masih tidak berbahaya, walaupun tidak berlabel SNI kita tetap jual,” ujar Saim kepada indopos.co.id, Rabu(28/1).

Namun, menurut dia, pemasangan label SNI tersebut berpengaruh pada kenaikan harga mainan. “Rata-rata kenaikan harga Rp.5000, sedangkan omset paling ramai pada Sabtu dan Minggu mencapai Rp.2 Juta hingga Rp.3 Juta per hari,” ucap Tanti kepada indopos.co.id.

Hal yang berbeda dirasakan oleh Ari, 35, pedagang yang masih konsisten menjual mainan anak-anak produksi lokal mengatakan, di Pasar Gembrong saat ini terdapat tiga penjual yang masih konsisten menjual produk lokal. Dia mengaku, jenis mainan anak-anak yang dia jual diantaranya: puzzle abjad, puzzle sholat, mainan balok susun dan beberaapa mainan anak-anak yang edukatif terbuat dari bahan dasar kayu.

“Kita datangkan mainan produk lokal tersebut dari Bogor dan Sukabumi. Kita ingin menjual mainan yang dapat mendidik anak-anak, tidak semata-mata untuk bermain saja,” ujar Ari kepada indopos.co.id.

Untuk penjualan, kata dia, pembeli banyak berkunjung ada hari-hari biasa, sementara pada hari Sabtu dan Minggu jarang pembeli. “Omset pada hari-hari biasa mencapai Rp.2 hingga Rp. 3 Juta setiap hari,” ucap dia.

Ditempat terpisah,  Kasi Industri Sudin Perindustrian dan Energi Jakarta Timur, Muhamad Syahroni mengatakan, pihaknya sudah melakukan tinjauan mendadak(Sidak) di pasar Gembrong. Menurut dia, ditemukan 75 persen mainan anak-anak asal Cina tidak berlabel SNI. Untuk itu, kata dia, pihaknya akan melakukan uji laboratorium atas kandungan dari bahan mainan anak-anak tersebut.

“Tadi kita sudah sidak, usai kita melakukan uji lab kita akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menertibkan produk yang tidak layak edar,” ujar Muhamad Syahroni.

Sementara itu, menanggapi kian terpuruknya industri kecil menengah(IKM) Kasudin Perindustrian dan Energi Jakarta Timur Tuti Kurnia mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah melakukan program subkon antara IKM dengan Indutri besar. Tujuannya, menurut dia, untuk memberikan suppport kepada IKM atau home industri dalam memperbanyak produksinya.

“Kita akan meminta perusahaan besar mendampingi IKM, dan kita juga terapkan program bapak angkat (CSR) agar produksi IKM khususnya mainan anak-anak sehat,” ujar Tuti Kurnia kepada indopos.co.id.(nas)

Source Mainan Lokal Makin Terpinggirkan oleh Produk Import

Leave A Reply

Your email address will not be published.