Luar Jawa Butuh Perbaikan Serius

39

Jakarta 15 Novebe 2016 — Fasilitas publik dan infrastruktur jalan di Kawasan Industri Medan (KIM), Sumatera Utara, yang memiliki luas 650 hektar dengan sekitar 350 perusahaan di dalamnya memprihatinkan dan membutuhkan pembenahan. Kondisi ini mengurangi kenyamanan iklim berusaha di kawasan itu.

Di KIM, yang berada di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, masih banyak jalan rusak dan hampir setiap saat tergenang air. Jalan yang buruk tersebut menyebar di sejumlah titik, terutama di kawasan KIM II. Bahkan, di Jalan Pulau Nias Utara, tepatnya di depan PT Sumatera Hakarindo, jalan rusak mencapai 500 meter dan setiap kali terjadi hujan, jalanan tergenang air.

Kondisi ini membuat kawasan industri ini gampang dilanda banjir saat hujan turun seharian. Sejumlah pabrik membuat tembok pembatas di depan pintu pabrik untuk menahan air masuk. Bekas genangan air di Jalan Pulau Nias, misalnya, hingga setengah meter. ”Kalau banjir, sepeda motor tidak bisa lewat,” kata penjaga keamanan PT Sumatera Hakarindo, Eko Hariadi.

Jalan rusak dan berdebu juga terlihat seperti di pintu masuk KIM I di Jalan Yos Sudarso. Debu berhamburan saat truk melintas. Sementara rumput-rumput tinggi tidak dipotong dan tumpukan sampah banyak ditemukan. Setengah jalan pintu masuk KIM II bahkan menjadi tempat parkir kontainer. Jalanan rusak, air menggenang, rumput tinggi, dan suasana yang semrawut membuat kawasan industri itu terkesan kumuh.

Dewan Pengurus Asosiasi Perusahaan Kawasan Industri Medan (Asperkim) telah melayangkan sejumlah keluhan itu kepada pengelola. Menurut rencana, Selasa (15/11) ini akan dilakukan pertemuan antara Asperkim dan pengelola. Kawasan industri yang 60 persennya dimiliki pemerintah pusat, 30 persen Pemerintah Provinsi Sumut, dan 10 persen Pemerintah Kota Medan itu memiliki tembok keliling kawasan industri yang bolong di beberapa tempat. Dinding bolong itu dijadikan pintu masuk-keluar warga dengan sepeda motor seperti di Jalan Pulau Bawean II.

Kepala Bidang Hukum dan Humas Kawasan Industri Medan Pangkal Simanjuntak mengatakan masih banyak yang harus diperbaiki di KIM, tetapi ia mengatakan, kebanyakan masalah terjadi karena faktor eksternal. Sementara itu, Direktur Utama Kawasan Industri Makassar (Kima) Abdul Muis mengatakan, saat ini terdapat 175 perusahaan aktif yang beroperasi di Kima. Adapun luas lahan Kima mencapai total 330 hektar.

Muis mengatakan, pemerintah perlu mengupayakan insentif untuk merangsang minat investor membuka operasi di Makassar. Kendala terbesar pengusaha selama ini adalah ongkos yang relatif lebih tinggi di luar Pulau Jawa ketimbang membuka usaha di Pulau Jawa.

”Karena itu, kalau tidak ada insentif yang dapat memangkas biaya, artinya sama saja dengan di Jawa. Pengusaha tentu akan lebih memilih beroperasi di Pulau Jawa,” ujar Muis.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan Bidang Perdagangan dan Agribisnis Ilham Alim Bachrie mengatakan, ia menyayangkan kini Kima lebih berfungsi sebagai kawasan pergudangan ketimbang industri.

Mengurangi disparitas

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Imam Haryono mengatakan, pemerintah terus berupaya mengurangi disparitas antardaerah melalui pengembangan kawasan industri di Jawa ataupun di luar Jawa. Imam mengatakan bahwa Kementerian Perindustrian beberapa waktu lalu sudah berkoordinasi dengan gubernur serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kemenperin meminta para gubernur mengembangkan kegiatan produktif di sekitar Trans-Jawa dan Trans-Sumatera yang akan dibangun.

Menurut Imam, salah satu kunci sukses mengembangkan kawasan industri di luar Jawa adalah keberadaan industri jangkar yang menjadi andalan. Industri tersebut akan menarik industri pendukung lain sehingga kawasan industri menjadi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Harus menyejahterakan

Di sisi lain, pembangunan kawasan industri harus mampu membawa kesejahteraan bagi warga di sekitarnya. Selain melalui penyerapan tenaga kerja, roda ekonomi yang berputar di dalam kawasan industri diharapkan dapat mengungkit perekonomian masyarakat dalam skala lebih luas.

Presiden Joko Widodo mengatakan hal itu saat bersama Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong meresmikan Kawasan Industri Kendal (KIK) di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kawasan industri ini hasil kerja sama PT Jababeka Tbk dan Sembawang Corporation dari Singapura.

”Investasi di kawasan industri ini harus menyejahterakan warga sekitar. Saya ulangi, harus menyejahterakan warga sekitar,” kata Jokowi.

Menjelang Peringatan 50 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Singapura, Presiden jokowi dan PM Lee Hsien Loong sepakat makin menguatkan kerja sama di antara dua negara, terutama di bidang perekonomian. Bahkan, kedua pemimpin negara sepakat akan membentuk Indonesia-Singapore Business Council yang menjadi wadah untuk menindaklanjut kerja sama-kerja sama bisnis tersebut secara konkret.

Sebagai bentuk keseriusan dalam meningkatkan kerja sama investasi, PM Lee Hsien Loong berkunjung langsung ke Semarang dan Kendal. Bersama dengan Jokowi, Lee Hsien Loong meresmikan KIK tersebut. Kawasan itu diharapkan menjadi ikon baru hubungan Indonesia- Singapura.

Source Luar Jawa Butuh Perbaikan Serius

Leave A Reply

Your email address will not be published.