Konektivitas Indonesia Timur Lancarkan Suplai Komoditas

25

03 Mei 2018 — PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) tercatat sukses membangun konektivitas di Indonesia Timur, terbukti dengan penurunan harga barang kebutuhan akibat kelancaran suplai sejumlah komoditas di wilayah ini. Kesuksesan ekspor langsung komoditas unggulan dari beberapa daerah di Indonesia Timur juga menjadi tolok ukur bahwa BUMN Kepelabuhanan ini memang fokus dan serius dalam upaya membangun konektivitas di wilayah timur Indonesia. Bahkan, mega proyek yang juga menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang pembangunannya sudah dikerjakan sejak 2015, Makassar New Port (MNP), digadang-gadang akan menjadi pelabuhan utama yang akan menopang konektivitas dari wilayah-wilayah di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung mengatakan sejak akhir 2015, pihaknya sudah berupaya membangun konektivitas di Indonesia Timur dengan melakukan direct call dan direct export ke luar negeri bekerjasama dengan perusahaan pelayaran internasional asal Hongkong, SITC. Kedua kegiatan tersebut (direct call dan direct export) hingga kini intens dilakukan Perseroan dari beberapa pelabuhan besar di KTI, di antaranya Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Pantoloan, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Balikpapan dan Pelabuhan Jayapura.

“Semua itu merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan konektivitas domestik dan menekan disparitas harga, yang sebelumnya begitu tinggi antara wilayah barat dan timur Indonesia,” kata Doso Agung.

Dia menyebut, selama ini cukup banyak bukti konektivitas di Indonesia Timur berhasil, terutama dalam menekan disparitas harga barang kebutuhan dan membuat Sulawesi Selatan pernah mengalami deflasi, tepatnya pada Ramadan dan jelang Lebaran Idul Fitri 2017 lalu. Menurutnya, konektivitas sangat erat hubungannya dengan pengendalian harga komoditas di Indonesia Timur. Musababnya, terbangunnya konektivitas via laut, otomatis membuat suplai sejumlah komoditas ke wilayah ini lebih terbuka. Alhasil, disparitas harga antara timur dan barat perlahan menyusut, disusul dengan harga barang di tingkat konsumen yang juga menurun. “Muaranya yakni menggairahkan kembali daya beli masyarakat,” sebut Doso.

Tercatat, untuk harga semen di Wamena, Papua, yang semula Rp500.000 per sak, kini bisa dinikmati konsumen dengan harga Rp300.000 per sak atau mengalami penurunan harga sebesar 40%. Begitu juga dengan harga beras di Sorong yang semula Rp13.000 per kg, kini tinggal Rp10.500 per kg atau turun harga sebesar 20%. Lebih jauh, Doso menyatakan direct call dan direct export juga membuka peluang bagi daerah di Indonesia Timur untuk menambah pendapatan daerah. Kawasan Timur Indonesia diketahui kaya komoditas unggulan yang selama ini diminati negara asing. Namun, negara asing hanya mengetahui komoditas itu berasal dari Surabaya atau Jakarta lantaran pengirimannya melalui Tanjung Perak atau Tanjung Priok.

Source Konektivitas Indonesia Timur Lancarkan Suplai Komoditas

Leave A Reply

Your email address will not be published.