Kiprah 50 Tahun ANTAM Mendukung Hilirisasi Mineral di Indonesia

51

Jakarta, 5 Juli 2018

PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM; IDX: ANTM; ASX: ATM) dengan bangga mengumumkan kiprah 50 Tahun ANTAM dalam mendukung pengembangan hilirisasi mineral di Indonesia, khususnya pada komoditas nikel, emas dan bauksit. Komitmen tersebut diwujudkan melalui integrasi operasi pertambangan yang dilakukan ANTAM mulai dari eksplorasi, penambangan, pengolahan, pemurnian dan penjualan komoditas mineral. ANTAM terbentuk dari gabungan perusahaan dan proyek pertambangan milik Pemerintah yang mengelola komoditas nikel, emas, bauksit pada tahun 1968. Direktur Utama ANTAM, Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan:

“Sejak terbentuk tahun 1968, selama lima dekade, ANTAM senantiasa berupaya meningkatkan nilai tambah mineral yang dimiliki sejalan dengan kebijakan hilirisasi Pemerintah. Kegiatan hilirisasi mineral telah kami lakukan sejak tahun 1974, sejalan dengan pengoperasian pabrik feronikel FeNi I. Saat ini, ANTAM sudah memiliki beragam fasilitas pengolahan mineral baik nikel, emas, perak maupun bauksit. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Perusahaan selama ini, semoga ANTAM semakin jaya dan mampu memberikan imbal hasil yang semakin positif bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.”

Pada hiliriasi segmen operasi nikel, saat ini ANTAM memiliki dan mengoperasikan 3 unit smelter yang didukung dengan 4 lini produksi dengan kapasitas total mencapai 27.000 hingga 30.000 ton nikel dalam feronikel (TNi) per-tahun di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Dalam hal pengembangan hilirisasi mineral nikel, ANTAM saat ini tengah menyelesaikan konstruksi Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) di Halmahera Timur, Maluku Utara. P3FH memiliki kapasitas produksi feronikel 13.500 TNi per tahun. P3FH akan mendukung total kapasitas produksi feronikel tahunan ANTAM menjadi 40.500-43.500 TNi.

Pada segmen operasi emas dan pemurnian, ANTAM telah mengeoperasikan tambang dan pabrik pengolahan emas di Pongkor, Jawa Barat & Cibaliung, Banten. ANTAM juga memiliki pabrik pengolahan dan pemurnian Logam Mulia yang tersertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) satu-satunya di Indonesia yang menghasilkan produk emas dengan standar kemurnian internasional sebesar 999,9. Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas emas, ANTAM melakukan beragam inovasi produk emas diantaranya produk emas batangan bermotif batik seri I dan seri II, produk perhiasan, emas batangan tematik serta produk jasa depositori Logam Mulia bernama BRANKAS (Berencana Aman Kelola Emas).

Pada hilirisasi segmen operasi bauksit, ANTAM saat ini memiliki pabrik pengolahan Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, Kalimantan Barat yang dioperasikan oleh PT Indonesia Chemical Alumina (PT ICA). Pabrik CGA Tayan merupakan pabrik pertama pengolahan bauksit menjadi CGA di wilayah Asia Tenggara. Dalam hal pengembangan hilirisasi bauksit, ANTAM saat ini berfokus pada pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat yang bekerjasama dengan PT INALUM (Persero). Pabrik SGAR rencananya berkapasitas 1 juta ton SGA per tahun untuk tahap pertama. Melalui pengoperasian SGAR, ANTAM dan INALUM dapat mengolah cadangan bauksit ANTAM yang ada sehingga INALUM akan memperoleh pasokan bahan baku aluminium dari dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan terhadap impor alumina.

Pada akhir November 2017, ANTAM menjadi bagian dalam Holding Industri Pertambangan bersama INALUM, PT Bukit Asam Tbk dan PT Timah Tbk. ANTAM juga memperoleh peringkat PROPER EMAS untuk yang pertama kalinya pada 2017 atas komitmen ANTAM untuk terus melaksanakan dan memastikan implementasi prinsip best mining practice dalam setiap operasi Perusahaan. Sedangkan komitmen kinerja financial ditunjukkan dengan profitabilitas ANTAM yang semakin positif dengan laba bersih triwulan pertama tahun 2018 sebesar Rp245,68 Miliar, tumbuh 3.603% dibandingkan laba bersih triwulan pertama tahun 2017 Sebesar Rp6,63 Miliar. Sedangkan EBITDA mencapai 95% menjadi Rp750,38 miliar pada kuartal I 2018 dibandingkan dengan capaian EBITDA periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp385,68 miliar. Penjualan bersih ANTAM di 1Q18 tercatat sebesar Rp5,73 triliun, naik tajam 247% dibandingkan 1Q17 sebesar Rp1,65 triliun. ANTAM senantiasa mengevaluasi seluruh kesempatan yang ada saat ini maupun peluang yang ada di masa depan sejalan dengan upaya ANTAM untuk terus bertumbuh dan memberikan imbal hasil yang positif kepada para pemegang saham dan pemangku kepentingan .

Source Kiprah 50 Tahun ANTAM Mendukung Hilirisasi Mineral di Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.