Ketika Menteri, Gubernur, Bupati, dan Dirut BUMN Berdiskusi Pariwisata

20

14 April 2016

Surabaya – Daya tarik wisata bisa jadi modal awal untuk kerjasama antarnegara yang bernilai ekonomi. Serta ke depannya dapat membuka kesempatan lain yang lebih luas dengan berbagai pihak.

“Pariwisata adalah diplomasi ekonomi yang baik,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam Diskusi Ruang Ide di Grha Pena, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (14/4).

Pada diskusi yang bertema ‘Pariwisata Pilar Utama Bangkitkan Ekonomi Daerah’ tersebut juga hadir sebagai narasumber, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto. Menpar melontarkan bahan diskusi terkait permasalahan pariwisata yang dihadapi Indonesia. “Kita punya potensi devisa yang besar (dari sektor pariwisata), karena di Indonesia ada banyak sekali pilihan wisata alam dan budaya. Namun kenapa pendapatan devisa yang didapat jauh lebih sedikit dari Malaysia?” ujarnya coba membandingkan. Hal tersebut menunjukkan adanya kesalahan yang fundamental pada pengelolaan pariwisata di Tanah Air.

“Padahal sektor pariwisata Indonesia memiliki potensi yang besar, yakni terpenuhi dari faktor size, sustainability, dan spread. Maka, itu bisnis yang baik,” jelas Arief Yahya.

Mantan Dirut Telkom tersebut memaparkan, dari sisi pemerintah, perlu ada regulasi yang lebih menarik wisatawan mancanegara untuk mau berwisata ke Tanah Air. Salah satunya dengan menambah negara yang diberlakukan bebas visa kunjungan. Saat ini Indonesia masih tertinggal dalam kebijakan pemberlakuan bebas visa kunjungan jika dibandingkan negara-negara tentangga di Asia Tenggara.

“Karena nilai ekonomi bisnis pariwisata itu bukan pada visa, tapi pada spending (manfaat ekonomi yang didapat sesuai lama tinggal wisatawan di suatu lokasi). Komposisi wisatawan di Indonesia mayoritas masih merupakan wisatawan Nusantara, padahal yang spending-nya hanya sekitar seperlimabelasnya wisatawan mancanegara,” jelasnya lagi.

Oleh karenanya, pemerintah terus membenahi pengelolaan pariwisata Indonesia, terutama dari sisi branding yang mengusung slogan ‘Wonderful Indonesia’. Berbagai strategi branding telah dilakukan untuk memasarkan destinasi wisata Nusantara dan sudah mulai terlihat hasilnya. Indonesia memenangi berbagai penghargaan internasional di bidang turisme. Di antaranya yakni terpilih sebagai World Halal Travel Awards 2015 untuk Pulau Lombok, UNWTO Awards 2016 untuk Banyuwangi, dan tiga penghargaan dari bursa pariwisata internasional terbesar di dunia, ITB di Berlin, Jerman, tahun ini. Terkait branding, Azwar Annas berbagi trik. Ia mengerahkan endorser untuk mengangkat citra dan bahkan me-rebranding.

“Banyuwangi yang semula identik dengan santet atau daerah yang sulit dijangkau, berubah menjadi destinasi yang ramai dengan kegiatan wisata. Tugas para endorser yang biasanya para pesohor di media sosial tersebut untuk menyebarkan kabar serunya berwisata di Banyuwangi,” ungkapnya.

Potensi Wisata Maritim

“Kami ingin menjadikan pariwisata sebagai payung yang juga mengayomi perkembangan sektor ekonomi lainnya, karena banyaknya event yang digelar dalam setahun. Jika sektor pariwisata dapat menjadi sumber penghasilan, maka juga bisa dijadikan pendorong changing behavior masyarakat agar lebih berdaya saing,” ujar Azwar Anas lagi.

Pemkab Banyuwangi menjual wisata pengalaman dengan memanfaatkan potensi wisata alam hutan dan laut dengan konsep eco-tourism. Untuk itu terus dibangun berbagai infrastruktur wisata, salah satunya bekerja sama dengan Pelindo III, melalui anak usahanya Pelindo Properti Indonesia, untuk mengembangkan Boom Marina Banyuwangi, sebuah kawasan marina untuk wisata maritim yang terintegrasi dengan Benoa, Bali, dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Gubernur Jatim yang akrab dipanggil sebagai Pakdhe Karwo, menambahkan, bahwa tidak hanya obyek wisatanya yang dibangun. Untuk mengembangkan pariwisata juga harus dibangun sisi aksesibilitas, agar wisatawan dapat lebih mudah untuk mencapai daerah tujuan wisata (DTW). Akses tersebut terbagi ke dalam akses darat (arteri/tol dan rel KA), udara (bandara), dan laut (pelabuhan). Untuk akses laut Provinsi Jawa Timur, fasilitas pelabuhan terus dikembangkan agar semakin optimal sebagai akses masuk wisatawan mancanegara yang datang naik kapal pesiar (cruise).

“Sejumlah pelabuhan yang dikelola Pelindo III sudah siap. Di Jatim, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sudah secara rutin disandari cruise internasional. Bahkan sandarnya cruise dijadikan salah satu daya tarik untuk event baru, Surabaya North Quay, yang digelar Pelindo III di Terminal Penumpang Kapal Laut Modern, Gapura Surya Nusantara,” kata Djarwo Surjanto, saat ditemui usai acara.

Dari sepuluh destinasi wisata prioritas yang ditetapkan pemerintah baru-baru ini, empat di antaranya bisa diakses dari pelabuhan yang dikelola Pelindo III. Mulai dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang untuk Candi Borobudur, kemudian Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Tanjung Tembaga Probolinggo untuk kawasan Bromo-Tengger-Semeru.

“Untuk destinasi Mandalika ada Pelabuhan Lembar, ke depannya akan kami bangun yang lebih modern, yakni Pelabuhan Gilimas. Di Labuan Bajo, anak usaha Pelindo III, Pelindo Properti Indonesia, akan membangun Komodo Marina Labuhan Bajo untuk memfasilitasi pariwisata maritim di lokasi yang sering dijadikan persinggahan sebelum ke Pulau Komodo tersebut,” jelasnya.

“Pelindo III turut membangun infrastruktur maritim untuk mendukung pemerintah mencapai target kunjungan 20 juta turis mancanegara, serta peningkatan taraf perekonomian masyarakat dan devisa negara melalui industri pariwisata,” pungkas Djarwo Surjanto.

Source Ketika Menteri, Gubernur, Bupati, dan Dirut BUMN Berdiskusi Pariwisata

Leave A Reply

Your email address will not be published.