Ketika Generasi Muda Bercerita (Bagian III)

4

Kamis, 16 April 2015 | Seperti yang diketahui dalam ruang lingkup yang tercantum dalam LO (Learning Organization), beberapa implementasi sistem organisasi ini sebenarnya sudah diwujudkan oleh Divisi SDM kita dengan: a) Memfasilitasi Progam In House Training, pelatihan-pelatihan di institusi yang terakreditasi; b) Kenaikan gaji /golongan; c) Benchmarking; d) reward dan punishment bagi karyawan, aturannya tertuang dalam PKB; e) Rekrutmen karyawan eksternal maupun internal.

Namun cukup disayangkan jika progam manajamen terhadap pengembangan SDM tersebut kurang terlihat hasilnya secara signifikan. Hal ini bisa dilihat dari progam kerja yang tidak memliki sasaran kerja yang jelas, yang tampak dari tidak adanya evaluasi kinerja Progress Report dan Final Report dari progam yang dicanangkan Divisi SDM. Dapat ditarik kesimpulan masalah ketidakberhasilan progam kerja tersebut disebabkan oleh pertama, kurangnya sounding manajemen terhadap gagasan/pendapat dari internal karyawan; kedua, Kurangnya referensi keilmuan dan record data yang digunakan sebagai bahan pembuatan progam kerja pengembangan SDM; ketiga, tidak adanya pengawasan secara komprehensif dan berkelanjutan atas progam kerja pengembangan SDM; keempat: beban kerja Divisi SDM meliputi pelayanan BPJS kesehatan, pembayaran pajak cukup tinggi

Dari identifikasi masalah tersebut, langkah dasar pengimplementasian LO dimulai dari reformasi di tubuh Divisi SDM, sebab perlu dicermati bersama bahwa eksekutor perubahan sistem organisasi ini adalah pejuang-pejuang dari divisi ini. Mencontoh dari sistem di beberapa perusahaan pelat merah lain yang sukses pengembangan SDMnya bisa dimulai dengan restrukturisasi SO (Struktur Oganisasi) di PTPN X, dengan menjadikan Divisi QC (Quality Control), Renbang (Perencanaan dan Pengembangan), dan SDM menjadi satu bagian yang terintegritas menjadi Divisi R&D (Research and Development). Tentunya penggabungaan ini dilihat dari sub bidang pengembangan kualitas SDMnya saja, sebab bisa dilihat Divisi QC & Renbang selama ini concern ke bagian produksi dan pemasaran. Maka format Divisi R&D bisa dijadikan source data. Adapun pengawasan progam kerjanya meliputi progress report hingga final report untuk setiap progam kerja yang dicanangkan Divisi SDM.

Akhir Cerita

Dikutip dari seminar yang dipaparkan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja: memberikan pandangan mengenai tiga gelombang “pembelajaran” (learning). Pada gelombang pertama, organisasi, dan perusahaan berkonsentrasi pada peningkatan proses kerja (improve work process). Dalam fase ini, munculah konsep Kaizen, TQM, dan konsep-konsep lain yang berbasis pada upaya mengatasi hambatan dan batasan. Selanjutnya, fase kedua memfokuskan pada peningkatan mengenai bagaimana cara bekerja (improve how to work). Fase ini banyak berkutat pada improvisasi cara berpikir dan pembelajaran mengenai masalah-masalah sistem yang dinamis, kompleks, dan mengandung konflik. Pada gelombang ketiga, konsep pembelajaran benar-benar tertanam dalam organisasi sebagai cara pandang dan berpikir para pimpinan dan juga pekerja.

Mengutip dari hasil seminar tersebut, Implementasi dalam Learning Organization (LO) dilandaskan dari azas berpikir seperti yang tertuang dalam 3 gelombang sesuai yang dipaparkan dalam sebuah Seminar Prof Jan Hidajat Tjaraatmaja. Dari tiga landasan yang dipaparkan Jan, PTPN X sudah menapaki langkah pertama yakni “berkonsentrasi pada peningkatan proses kerja yang berbasiskan pada mengatasi hambatan dan batasan selanjutnya.” Sebuah langkah yang baik untuk memulai pembaharuan. Tentunya kedepannya untuk menapaki dua fase berikutnya diperlukan semangat dan kemauan keras kita lampirkan dalam peta tujuan kita sebagai individu muda generasi penerus PTPN X.

Source Ketika Generasi Muda Bercerita (Bagian III)

Leave A Reply

Your email address will not be published.