Kepak Sayap Pelindo III Menghadapi MEA

36

01 November 2015

Makhluk macam apakah MEA? Sehingga semua pelaku ekonomi di tanah air ini harus memasang kuda-kuda dan menajamkan nyali untuk menghadapi serbuan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang akan merangsek bumi Indonesia pada akhir 2015? Hakikatnya, sudah atau pun belum terjadi kehebohan isu MEA itu pun berbagai sektor strategis di negeri ini sudah memasang kuda-kudanya jauh-jauh hari, utamanya terkait dengan ekspansi ekonomi global. Di sektor pelayanan penyedia jasa kepelabuhanan misalnya, PT Pelindo III sudah berkemas sejak lama.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor perhubungan laut, PT Pelindo III punya wewenang mengelola 43 pelabuhan yang tersebar di tujuh provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pihaknya terus mengembangkan diri, dengan serangkaian perbaikan layanan. Misalnya ketika melihat fakta wilayah Indonesia Timur begitu kuat potensinya. Di lingkungan PT Pelindo III Cabang Pelabuhan Tanjung Emas, Jawa Tengah, misalnya, betapa telah dilakukan perbaikan fasilitas di sejumlah titik. Ini bukan saja untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, tapi adalah pelayanan hakiki untuk pengguna jasa pelabuhan.

“Beberapa perbaikan itu kami lakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada para konsumen, maka sudah selayaknya kami lakukan sejumlah perbaikan,” kata General Manager PT Pelindo III Cabang Tanjung Emas Tri Suhardi di Semarang awal Oktober 2015. Salah satu perbaikan yang dampaknya paling terasa yakni optimalisasi pompa air. Cara ini untuk mengantisipasi rob yang sampai kini masing mengungkung kawasan Pelabuham Tanjung Emas. Beberapa waktu lalu, menurut Tri, rob atau pasangnya air laut berdampak pada terganggunya aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS).

Karena rob itu pula, rata-rata dalam satu hari bisa sekitar 2-3 jam aktivitas bongkar muat terhenti. Namun saat ini, kata Tri Suhardi, hal tersebut sudah tidak lagi terjadi, meski belum sepenuhnya rob tertanggulangi. “Saat ini pelayanan peti kemas Semarang sudah berjalan 1 x 24 jam setiap harinya. Upaya tersebut dilakukan karena kami ingin mempercepat waktu sandar setiap kapal di Pelabuhan Tanjung Emas sehingga waktu antrian dan dwelling time tidak terlalu lama,” kata Bayu Widyafrasta, Humas TPKS, ditemui terpisah.

Pengerukan Dermaga Upaya lain yang dilakukan oleh pihak manajemen PT Pelindo III Tanjung Emas yakni memperbesar kapasitas kapal yang bersandar ke pelabuhan salah satunya dengan melakukan pengerukan dermaga. “Agar bisa digunakan untuk sandarnya kapal peti kemas yang berkapasitas 2.000 TEU’s dan untuk nonpeti kemas sebesar 25.000 ton, maka pengerukan kami lakukan menjadi 10 meter. Kalau saat ini kapasitasnya masih di bawah itu, untuk peti kemas saja antara 1.000 – 1.500 TEU’s,” jelas Tri Suhardi.

Bukti pelabuhan tua di Semarang ini makin bersolek adalah bergantinya wajah terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Emas. Maka kalau operator pelabuhan ini serius berbenah, kini terminal penumpang akan mampu memanjakan penumpang domestik maupun internasional. Itu dibuktikan dengan semakin meningkatnya arus penumpang, baik turun atau naik. Juga wisatawan asing yang turun dari kapal pesiar (cruise) pun saat merapat di Dermaga Nusantara Tanjung Emas.

Potensi Luar Jawa Kuatnya potensi kawasan Indonesia di bagian timur, juga menyebabkan PT Pelindo III terus mengepakkan sayapnya, membidik pasar pengguna jasa di luar Pulau Jawa. Wilayah timur ini memiliki beberapa produk unggulan komoditi seperti tenun, aksesoris, sutra, mutiara, kerajinan kerang, kayu ukir, serta beraneka ragam produk olahan ikan. Begitu juga dengan potensi angkutan logistik dan penumpang laut. Karena semakin hari, angkutan penyeberangan semakin dirasakan penting di kawasan ini.

Direktur Utama PT Pelindo III Djarwo Surjanto mengingatkan, beberapa terminal penumpang di pelabuhan kawasan Indonesia Timur jauh dari kelayakan, dibandingkan dengan pelabuhan laon. Maka dengan menggunakan dana Penanaman Modal Negara (PMN) pihaknya akan mempercepat renovasi prasarana enam pelabuhan di kawasan timur Indonesia, terutama untuk sarana terminal penumpang. “Enam terminal penumpang tersebut antara lain ada di Pelabuhan Maumere, Waingapu, Kalabahi, Kupang, Bima dan Kumai. Untuk biaya merenovasi prasarana itu senilai Rp 1 triliun,” kata Djarwo Surjanto dalam siaran persnya akhir Oktober.

Di sisi lain, dengan menggandeng PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), PT Pelindo III menjajaki untuk membuka rute pelayaran dari Banyuwangi ke Nusa Tenggara Barat, karena rute ini dianggap akan memangkas banyak waktu perjalanan darat. Maka jika jauh-jauh hari ada pembenahan di berbagai sektor seperti ini, apakah PT Pelindo III gentar dengan momentum MEA yang akan merangsek pasar ekonomi Indonesia? Tentu saja tidak. Sebetulnya, tanpa momentum MEA pun geliat itu sudah ada di tubuh Pelindo, yakni melalui aksi nyatanya menggandeng berbagai stakeholder.

Source Kepak Sayap Pelindo III Menghadapi MEA

Leave A Reply

Your email address will not be published.