Kalimas Jadi Jujugan, Turis Asal Holland

37

11 Mei 2016

Surabaya – Terminal Kalimas yang merupakan sudut antik Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, semakin populer untuk para turis asing. Pasalnya, terminal yang merupakan cikal bakal Pelabuhan Tanjung Perak tersebut memiliki daya tarik tersendiri berupa bangunan bersejarah dan sandarnya kapal-kapal kayu tradisional Indonesia, pinisi. Belasan wisatawan asal  Belanda berkunjung ke terminal tersebut Jumat (11/5).

“Mereka jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin untuk bernostalgia di Kota Surabaya, karena sebagian dari mereka pernah menghabiskan masa kecilnya di Kota Pahlawan ini,” kata Sonja Irma Risa Kotta,

salah seorang pemandu wisata yang menemani. Para turis yang rata-rata berusia 50-70 tahun terlihat antusias saat melihat para pekerja sedang melakukan bongkar muat. Mereka mengabadikan melalui kamera sakunya.

“Kalimas menjadi salah satu tujuan karena dahulu Kalimas menjadi lokasi keberangkatan mereka saat kembali negeri Belanda,” ungkap Sonja.

Para turis rata-rata penasaran dan ingin menyaksikan kondisi bangunan tempat mereka dahulu beraktivitas di Surabaya. Seperti, tempat tinggal dan sekolah serta Terminal Kalimas.

”Masa kecil saya banyak dihabiskan di Surabaya,” kata Peter, salah seorang turis. Peter bercerita waktu itu, dia tinggal di daerah Cipunegara dan bersekolah di St. Louis.

“Saya juga mau melihat kondisi rumah saya sekarang seperti apa,” ujar pria yang tampak segar di usianya yang menginjak kepala tujuh itu..

Selain itu, mereka juga penasaran menyaksikan puluhan kapal kayu tradisional (Pinisi) yang bersandar di Terminal Kalimas untuk melakukan proses bongkar muat. Mereka menanyakan rute dari kapal pinisi, jenis barang yang dibawa, sampai status Terminal Kalimas apakah menjadi bagian dari Pelabuhan Tanjung Perak atau tidak. Kapal pinisi menjadi daya tarik bagi mereka karena kapal pinisi merupakan kapal tradisional yang digunakan oleh nelayan Indonesia dari generasi ke generasi yang masih mempertahankan keasliannya, baik dari desain bentuk dan penggunaan layar.

Pinisi adalah kapal layar tradisional khas Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal jenis ini kebanyakan dibuat di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar dan umumnya memiliki dua tiang, yakni layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Kapal pinisi biasanya digunakan sebagai kapal pengakutan barang antar pulau atau pelra (pelayaran rakyat).

Source Kalimas Jadi Jujugan, Turis Asal Holland

Leave A Reply

Your email address will not be published.