Jejak Karel Frederik Holle di Garut

11

21 Agustus 2019 | “Hij sprak het Soendanees als een Soendanees,” ungkapan ini berarti, dia berbicara Bahasa Sunda seperti orang Sunda. Julukan tersebut diungkapkan secara khusus oleh warga Belanda untuk seorang rekannya, Karel Frederik Holle.

Pria kelahiran Amsterdam, 9 Oktober 1829, ini kerap dipanggil Holle. Jasanya terhadap Garut terbilang besar. Kontribusinya di antaranya pembangunan pada sektor perkebunan, pertanian, pariwisata, kesusastraan, kebudayaan sampai pendidikan.

Kiprahnya di Garut semasa penjajahan Hindia Belanda dimulai pada 1857. Saat itu, Holle ditunjuk sebagai pengurus Perkebunan Teh Waspada di Panembong, Kecamatan Bayongbong. Di tempat itu, Holle mendirikan rumah dan tinggal bersama keluarga.

Warjita, Pemerhati Sejarah dan Budaya Garut, mengatakan Holle lebih menyukai mengurus perkebunan, daripada menjadi pegawai pemerintahan di Bogor. Holle, katanya, merupakan tokoh utama yang membuka perkebunan-perkebunan di Garut bagian selatan.

Holle kemudian memindahkan perkebunan tersebut ke Cikajang dan menjadi administraturnya pada 1866-1889. Kini sebagian perkebunan tersebut dikelola PTPN VIII Cisaruni.

Perkembangan perkebunan di Garut bagian selatan ini memicu pembangunan jalur rel kereta api ke arah selatan Garut. Kemudian didirikanlah Stasiun Cikajang yang merupakan stasiun tertinggi di Pulau Jawa.

“Saat itu bisnis perkebunan paling ramai. Selain mengurus perkebunan, Holle pun memberikan pendidikan pertanian kepada warga. Di antaranya mengembangkan pertanian kacang, yang sampai sekarang disebut kacang Holle,” kata Warjita.

Kefasihannya berbahasa Sunda didapatnya sejak remaja karena sering bergaul dengan warga pribumi. Keahliannya berbahasa Sunda ini membuatnya mudah berkomunikasi dengan para petani dan mengajari mereka. Karenanya, Holle mendapat julukan “Mitra Noe Tani” atau Teman Para Petani.

Selama menjadi administratur perkebunan, Holle bersahabat dengan Raden Haji Moehammad Moesa, Penghulu Besar Garut. Selama itu, sepasang sahabat ini menerjemahkan sejumlah naskah kuno dari Situs Ciburuy dan membuat sejumlah karya sastra.

“Terjemahan naskah-naskah kuno yang sekarang ada di Garut itu karya Holle. Dia juga membuat sejumlah karya sastra, mendokumentasikan cerita rakyat Sunda, dan menulis buku-buku bacaan berbahasa Sunda. Sampai sekarang karya-karyanya menjadi rujukan kegiatan ilmiah. Dia juga mendirikan sekolah guru di Bandung,” katanya.

Tidak hanya itu, batik garutan asli terkenal dengan coraknya yang terinspirasi suasana pertanian, perkebunan, dan keindahan alam. Siapa sangka, pembuatan batik garutan ini pertama kalinya diprakarsai oleh Karel Frederik Holle dan istri-istri para petani serta pegawai perkebunan teh di Bayongbong.

Warjita menyebut bahwa Holle mengajarkan pembuatan batik tenun garutan kepada para istri petani dan pegawai perkebunan.

“Selain mengajarkan teknik pertanian dan perkebunan kepada para pekerjanya, Holle pun mendirikan industri kecil pembuatan batik garutan di Bayongbong. Dibuatnya di atas kain tenun khas Garut yang halus dan lembut. Kain ini ditenun dulu di rumah-rumah warga sebelum dibatik,” kata Warjita.

Corak batik garutan yang dibuat, katanya, merupakan corak dasar yang sederhana dan terinspirasi dari keadaan alam sekitarnya, yakni pertanian, perkebunan, dan keindahan alam. Contoh corak yang paling tua dan terkenal, katanya, adalah motif lereng, terinspirasi lereng-lereng pegunungan dan perkebunan di Garut.

Setelah berkembang di Bayongbong, katanya, industri batik tulis garutan ini seperti berpindah tempat, seiring pindahnya Perkebunan Teh Waspada di Bayongbong ke Perkebunan Teh Cikajang. Hanya saja, industri batik ini berkembang ke arah perkotaan Garut, yakni sekitar Jalan Ciledug dan Papandayan.

Sukaenah, pembatik Senior Garutan sekaligus pemilik Butik Batik Tulis Garutan Beken di Ciledug, Kecamatan Garut Kota mengatakan dia merupakan generasi keempat pembatik garutan. Sukaenah mengatakan kemungkinan buyutnya mendapat ilmu membatik dari Holle.

“Corak batik garutan asli yang diturunkan dan dilestarikan sampai sekarang adalah motif lereng, kumeli dan tanjung anom. Corak-corak ini memang dipengaruhi kehidupan pertanian dan perkebunan. Kumeli itu kentang dan lereng itu terinspirasi lereng perkebunan teh,” katanya.

Selain itu, corak asli garutan lainnya adalah cupat manggu, merak ngibing, bulu hayam, pecah kopi, patah tebu, dan bilik. Dapat dipastikan, corak-corak ini memang terinspirasi dengan tempat kelahiran batik garutan, yakni di perkampungan petani dan perkebunan.

“Dulu kainnya harus ditenun dulu, baru dibatik. Sekarang mudah saja beli dari pabrik. Walaupun corak batik garutan semakin berkembang, kami para pembatik harus tetap melestarikan corak-corak asli garutan yang sederhana,” katanya.

Jasa Holle, pria kelahiran Amsterdam, 9 Oktober 1829, ini di bidang batik pun semakin nyata seiring berkembangnya bisnis batik garutan. Kontribusi utamanya di antaranya pembangunan pada sektor perkebunan, pertanian, pariwisata, kesusastraan, kebudayaan, sampai pendidikan.

Jasanya terhadap Garut nampaknya tidak mendapat perhatian khusus dari warga dan pemerintah Garut. Sebelumnya, setelah Holle meninggal dunia, pemerintah Hindia Belanda mendirikan tugu peringatan berbentuk obeliks di Alun-alun Garut, 29 Oktober 1899.

Berdasarkan buku “Album Garoet Tempo Doeloe” tugu itu diberi nama Mitra Noe Tani, sebagai penghormatan bagi kontribusinya di bidang pertanian. Letaknya berdekatan dengan Pendopo Garut dan Babancong.

Pada zaman penjajahan Jepang, tugu ini pun dihancurkan. Nama jalan Hollenstraat atau Jalan Holle pun diubah menjadi Jalan Mandalagiri. Saat keluarga Holle mendatangi Garut pada 2001, kata Warjita, mereka meminta tugu Holle didirikan kembali di Alun-alun Garut. Namun, hal ini ditentang DPRD Kabupaten Garut saat itu.

Akhirnya replika tugu ini didirikan di Perkebunan Teh Cisaruni PTPN VIII yang dulunya diadministraturi oleh Holle. Jejak Holle berupa prasasti menjadi tinggal tugu peringatan di Cisaruni.

Source Jejak Karel Frederik Holle di Garut

Leave A Reply

Your email address will not be published.