Ini Alasan Sertifikasi ISPO Kelapa Sawit Perlu Diawasi

109

08 April 2015 — Jakarta  Mandatory pedoman pengelolaan usaha perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia, yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor:19/Permentan/OT.140/3/2011, mewajibkan seluruh perusahaan kelapa sawit memperoleh sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Pasalnya, ISPO berfungsi sebagai standar mutu pengelolaan kebun kelapa sawit ramah lingkungan. Maka tak heran jika kemudian perusahaan kelapa sawit ramai-ramai mendaftar audit ISPO ke lembaga sertifikasi. Menurut catatan Komisi ISPO, sampai saat ini baru 63 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memperoleh sertifikasi. Sisanya, sekitar 200 perusahaan kelapa sawit dalam proses penilaian audit, dan lebih dari 600 perusahaan sudah melakukan registrasi ke 11 lembaga sertifikasi ISPO yang ditunjuk oleh pemerintah.

Tingginya angka permintaan sertifikasi oleh perusahaan kelapa sawit pada akhirnya menciptakan masalah tersendiri. Betapa tidak, saat ini terjadi “perang tarif” antar lembaga sertifikasi dalam membandrol biaya proses penilaian sertifikasi ISPO. Sebagai gambaran, sekitar dua tahun lalu “ongkos” audit ISPO untuk satu perusahaan dibandrol sebesar Rp150 – Rp250 juta. Namun saat ini, rata-rata biaya sertifikasi ISPO hanya berkisar Rp80 juta. Bahkan, ada lembaga sertifikasi yang berani memasang tarif dibawah itu.

Memang, sejauh ini tidak ada regulasi yang mengatur besaran tarif sertifikasi ISPO yang harus dibayar oleh perusahaan sawit. Namun apabila tidak diawasi, bukan tidak mungkin dalam proses auditnya kemudian Lembaga Sertifikasi menurunkan standar audit demi memangkas biaya agar menarik lebih banyak clien. Bahkan, kecenderungan main mata antara lembaga sertifikasi dan perusahaan kelapa sawit bukanlah hal yang mustahil terjadi.

Strategi percepatan sertifikasi ISPO tentu patut menjadi perhatian Khusus Komisi ISPO dan Dirjenbun Kementrian Pertanian. Namun,proses sertifikasi ISPOkiranya juga perlu mendapat pengawasan khusus agartidak menjadi audit “abal-abal” yang pada akhirnya hanya akan mencoreng citra industri kelapa sawit Indonesia dimata dunia.

Bagaimanapun, ISPO penting bagi peningkatan daya saing produk kelapa sawit Indonesia yang notabene kerap jadi sasaran “Bullying” oleh Bingo (Big NGO) Asing sebagai agen utama deforestasi hutan. Terlebih, kedepannya prospek pasar untuk produk kelapa sawit ramah lingkungan diprediksi semakin meningkat. Data Oil World menyebutkan permintaan minyak sawit akan berada di angka 78 juta ton ditahun 2020.

Source Ini Alasan Sertifikasi ISPO Kelapa Sawit Perlu Diawasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.