Industri Pakan Ternak Maksimalkan Jagung Lokal

24

27 September 2017

Jakarta – Industri pakan ternak merespons dengan baik kebijakan pemerintah yang mencanangkan 2017 sebagai tahun swasembada jagung. Hal itu ditunjukkan oleh menurunnya impor jagung untuk bahan pakan dari 3,16 juta ton pada 2014 menjadi 2,74 juta ton pada 2015 dan turun signifikan menjadi 884 ribu ton pada 2016. Pabrik pakan ternak di Tanah Air pun sampai saat ini belum ada (melakukan) impor jagung untuk bahan pakan.

Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Hudian menjelaskan, melalui pola kerja sama dengan pemerintah dalam melakukan penyerapan dan pembelian hasil panen jagung dari petani sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan jagung sebagai bahan pakan.

“Tahun ini, GPMT juga tidak pernah meminta impor jagung, GPMT memandang perlu untuk menglarifikasi terkait pemberitaan yang beredar bahwa GPMT mengajukan impor feed wheat untuk mengisi kurangnya pasokan jagung dalam negeri sebagai bahan baku pakan, itu adalah tidak benar,” kata Hudian.

Dalam keterangannya, Hudian menjelaskan, impor feed wheat sebesar 200 ribu meterik ton (MT) tersebut hanya sebagai salah satu komponen formula pakan ternak karena tidak diproduksi di dalam negeri dan bukan sebagai pengganti jagung.

“Jumlah 200 ribu MT tersebut akan digunakan untuk waktu tiga bulan atau rata-rata 70 ribu MT per bulan, ini dibandingkan dengan kebutuhan satu juta MT jagung per bulan, penggunaan feed wheat tersebut dimaksudkan sebagai komponen improvement feed performance,” ungkap Hudian.

Sekretaris Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Nasrullah di sela dialog Jambore Peternakan Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta menyampaikan, langkah pemerintah dalam mengendalikan impor jagung cukup beralasan karena dari produksi jagung lokal menunjukkan peningkatan signifikan yang menjamin ketersediaannya sebagai bahan pakan aman. Berdasarkan realisasi tanam Januari-Juni 2017 terdapat potensi produksi 21,86 juta ton yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan 12 bulan bahan pakan ternak, yakni rata-rata 950 ribu ton per bulan dengan rincian 700 ribu untuk industri pakan dan 250 ribu ton untuk peternak mandiri. Ditambah dengan realisasi tanam Juli dan Agustus 2017 yang diperkirakan panen pada Oktober-Desember 2017, terdapat surplus jagung hingga 6 juta ton.

Nasrullah menjelaskan, ketersediaan jagung sebagai bahan pakan juga dikuatkan dari hasil monitoring dan evaluasi jagung oleh tim gabungan yang beranggotakan unsur-unsur dari Kemenko Perekonomian, Bulog, GPMT, dan unsur internal Kementan (Ditjen PKH Kementan, Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Ditjen Perkebunan Kementan, dan Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementan) ke sentra jagung di sembilan provinsi, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Dirjen PKH Kementan I Ketut Diarmita menjelaskan, ke depan untuk meningkatkan mutu dan keamanan, terutama pemenuhan persyaratan kadar air, maka dalam penanganan pascapanen perlu didukung oleh penyediaaan silo dan dryer di sentra-sentra produksi.

“Selain itu, penanganan pascapanen ini juga akan meningkatkan efisiensi yang diharapkan mampu memperpendek rantai tata niaga jagung dari saat ini,” jelas dia.

Source Industri Pakan Ternak Maksimalkan Jagung Lokal

Leave A Reply

Your email address will not be published.