Hilirisasi Sawit Mulai Menggeliat

24

16 September 2016 — Jakarta  Hilirisasi industri sawit diperkirakan mulai menggeliat. Indikasinya adalah peningkatan ekspor minyak hewan dan nabati. Bahkan, ekspor pada Agustus ini mencapai nilai tertinggi sejak Januari. “Saya menduga ini karena meningkatnya ekspor produk turunan minyak sawit mentah. Sebab, ekspor minyak sawit mentah masih turun,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di Jakarta, Kamis (15/9).

Menurut Enny, secara volume ekspor minyak sawit mentah bisa jadi turun. Namun, nilainya lumayan naik. Hal ini disebabkan porsi ekspor produk turunan atau olahan minyak sawit meningkat. Pada saat yang sama, ekspor produk olahan tersebut dengan sendirinya menimbulkan diversifikasi negara tujuan ekspor.

“Model hilirisasi sawit di Indonesia memang masih awal, jauh dibandingkan dengan Malaysia, misalnya. Tapi, setidaknya efeknya sudah mulai tampak sekarang. Model semacam inilah yang harus diduplikasi pada produk perkebunan lain, terutama kakao dan karet,” kata Enny. Untuk mendorong hilirisasi industri sawit, pemerintah memberlakukan bea keluar untuk produk minyak sawit mentah. Besarnya 3 dollar AS per ton.

“Ke depan, jangan hanya minyak sawit mentah, tetapi juga produk perkebunan lain. Secara margin, yang besar justru karet,” kata Enny. Masih banyak produk perkebunan Indonesia yang diekspor dalam bentuk mentah. Ini tidak menimbulkan nilai tambah untuk perekonomian nasional. Dengan hilirisasi, komoditas akan bernilai tambah. Tertinggi

Ekspor minyak sawit mentah berikut turunannya masuk dalam golongan lemak dan minyak hewan/nabati. Berdasarkan data Badan Pusat. Statistik, nilai ekspornya per Agustus mencapai 1,44 miliar dollar AS. Ini adalah angka tertinggi sejak Januari 2016.

Bahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, nilainya masih lebih tinggi. Pada Agustus tahun lalu, nilainya 1,39 miliar dollar AS. Dari aspek golongan barang, sumbangannya terhadap total ekspor nonmigas per Agustus adalah yang terbesar. Sementara itu, total ekspor Agustus mencapai 12,63 miliar dollar AS atau meningkat 32,54 persen dibandingkan Juli 2016, tetapi menurun 0,74 persen dibandingkan Agustus 2015.

Adapun impor Agustus adalah 12,34 miliar dollar AS atau naik 36,84 persen dibandingkan Juli 2016. Namun, jika dibandingkan Agustus 2015, nilainya turun 0,49 persen. Dengan demikian, neraca perdagangan Agustus mencatatkan surplus 293,6 juta dollar AS. Ini lebih rendah daripada surplus Juli, yakni 513,6 juta dollar AS, sekaligus lebih rendah daripada surplus Agustus 2015 senilai 326,8 juta dollar AS.

Surplus Agustus 2016 dipicu oleh surplus sektor nonmigas sebesar 921,3 juta dollar AS. Adapun sektor migas defisit 627,7 juta dollar AS. Secara akumulatif Januari-Agustus, neraca perdagangan Indonesia surplus 4,38 miliar dollar AS. Ini lebih kecil ketimbang surplus periode yang sama pada tahun lalu, yakni 6,19 miliar dollar.

Direktur Komunikasi Bank Indonesia (BI) Arbonas Hutabarat melalui siaran pers menyatakan, BI memandang bahwa kinerja neraca perdagangan pada Agustus 2016 positif menunjang kinerja transaksi berjalan. “Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik yang dapat memengaruhi kinerja neraca perdagangan serta mengupayakan kegiatan ekonomi domestik terus berjalan dengan baik,” kata Arbonas.

Source Hilirisasi Sawit Mulai Menggeliat

Leave A Reply

Your email address will not be published.