Hilirisasi Karet Mati Suri

28

13 Juli 2017 — Sarolagun,  – Modal yang minim menghambat petani untuk membangun hilirisasi komoditas karet. Pemerintah diharapkan mendorong pelibatan perbankan agar industry hilir karet yang kini mati suri dapat kembali menghidupi petani.

Ketua Koperasi Sekawan Tani Sukarjiyo mengatakan, pabrik kompon karet sudah dibangun dan diresmikan pemerintah pada 2015 di Desa Pelawan, Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Pabrik itu dilengkapi berbagai jenis mesin, mulai dari mesin mixer mill, oven mill, mesin pengerok dan pengikis ban, hingga mesin vulkanisir. Nilai dari pabrik itu hampir Rp 2 miliar.

Namun, pabrik itu tidak beroperasi. “Tidak bisa kami manfaatkan karena tidak ada modal untuk berproduksi,” ujar Sukar Jiyo, Rabu (12/7) di Sarolangun. Dari 2014 hingga 2015, berbagai perlatan dan bangunan juga diserahkan oleh pemerintah pusat dan daerah kepada 32 unit pengolahan dan pemasaran bersama (UPPB) bahan olah karet di Jambi. Nilai total sekitar Rp 40 miliar. Namun, hampir semua mesin bantuan tersebut menganggur.

Sukarjiyo pun meminta pemerintah jangan setengah hati dalam mendukung pengembangan industry hilir. Nilai jual ribbed smoked sheet (RSS) sebagai bahan baku kompon, misalnya, dua kali lipat lebih tinggi dari karet mentah. Namun tanpa modal yang cukup, koperasi sulip menyrap RSS. Artinya, petani butuh bantuan modal agar dapat mengelola produ hilir,” kata Sukarjiyo.

Kesulitan serupa dialami kelompok Tani Sejahtera Bersama. Para petani sudah mendapat bantuan, dari mesin pembuat sheet angina, mesin pengiring hingga mesin pencetak bernilai total Rp 2 milia. Namun, bantuan tersebut gagal dimanfaatkan karena modal minim. Akibatnya, target untuk menghasilkan produk siap pakai, seperti sarung tanggan, bahan karpet, karet gelang, dan balon, mustahil tercapai. “Petani sudah memiliki keterampilan membuat beragam produk hilir, tapi sia-sia karena tak punya modal untuk membeli karet,” ujarnya.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan perdagangan Provinsi Jambi zulkarnain membenarkan, industry hilir tidak optimal karena dukungan permodalan minim. “Kami berharap ada campur tangan perbankan,” ujarnya. Minim UPPB

Di Sumatera Selatan, jumlah UPPB justru terbilang minim. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel, UPPB di provinsi itu baru berjumlah 126 unit dengan luas lahan karet yang digarap mencapai 12.600 hektar. Padahal, dengan lahan karet seluas 1,3 juta hektar di Sumsel, setidaknya dibutuhkan dukungan dari 3.000 UPPB. Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian menjelaskan, keterbatasan dana menyebabkan jumlah UPPB minim. Padahal, UPPB dapat membantu petani mendapatkan harga karet yang lebih baik.

Harga karet di pelelangan atau di UPPB berkisar Rp 7.800 – Rp 8.100 per kilogram. Harga ini lebih baik dibandingkan jika petani menjual karet secra swadaya dengan harga Rp 5.000 – Rp 5.500 per kilogram. Di Musi Rawas, misalnya, UPPB berhubungan langsung dengan pabrik karet sehingga harga karet tinggi. Terjebak Ijon

Rudi menginformasikan, sebagian besar petani karet di Sumsel juga masih terjebak permainan tengkulak dengan system ijon. “Pengepulan sudah memberikan dana di awal bagi petani sehingga saat panen petani tidak memiliki nilai tawar,” ujar Rudi.

Menurut dia, praktek ijon karet ini sulit dihilangkan karena sudah menjadi budaya dalam jual – beli karet. Selain itu, saat harga turun petani juga akan terdesak dengan kebutuhan hidup sehingga butuh dana dalam waktu cepat. “Kalau mengikuti system lelang, biasanya uang baru didapatkan dua hari setelah penjualan karet,” kata Rudi.

Pengepul juga masih menerima karet kotor yang kemudian dioplos dengan karet bersih. Oplosan karet ini kemudian dikirim ke pabrik untuk diolah. Sayangnya, pabrik tetap menerima karet oplosan tersebut. “Saat ini ada 28 pabrik yang terbesar di Sumsel dan beberapa pabrik masih menerima karet kotor,” ujar Rudi. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sumsel Achmad Mirza mengatakan, praktik oplos seperti itu akan memengaruhi pandangan pasar dunia terhadap kualitas karet di Indonesia

Source Hilirisasi Karet Mati Suri

Leave A Reply

Your email address will not be published.