Harga Karet Mulai Menguat

37

12 Juli 2017 — JAKARTA  Harga karet menguat seiring dengan meningkatnya permintaan China dan rencana pengurangan volume ekspor dari sejumlah produsen utama di Asia Tenggara. Pada penutupan perdagangan Rabu (12/7), harga karet untuk pengiriman Desember 2017 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menguat 2,28% atau 4,50 poin ke level 201,80 yen (US$1,78) per kilogram. Sepanjang tahun berjalan 2017, harga sudah terkoreksi sekitar 26%.

Marketing Manger Shanghai Reascent Industrial Co. We Tan menyampaikan reli permintaan komoditas yang kuat di China turut memengaruhi kenaikan harga karet di Tocom. Investor membeli segala sesuatu mulai dari baja sampai karet. “Hal ini meningkatkan prospek kenaikan permintaan”, tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (12/7).

Permintaan karet berjanka di bursa Shanghai mencapai posisi tertinggi sepanjang masa, yakni hmpir mencapai 600.000 lot pada selasa (11/7). Sejumlah investor memperkirakan pertumbuhan yang stabil akan terjadi karena adanya pelonggaran moneter Namun, tidak sedikit yang berpikir otoritas China mengetatkan kebijakan moneter di tengah kondisi ekonomi yang melesu. Sentimen campuran seperti ini tergambar dalam pengambilankan posisi trader di pasar berjangka.

Investor bullish dan bearish memegang posisi mereka dan berhadapan satu sama lain. Mereka sama-sama percaya diri tentang ketidak pastian prospek ekonomi China”, papar analis Shanghai Minghong Investment Management Jia Zheng. Menurut Than, sentiment harga karet juga terdorong rencana Negara ekspotir utama seperti Thailand, Indonesia dan Mlaysia untuk membatasi pengiriman ke luar negeri. Tujuannya ialah mengurangi volatilitas setelah harga cenderung menurun dalam 5 bulan terakhir.

Gubernur Rubber Authority of Thailand Titus Suksaard mengatakan komite kerja sama akan memelajari rincian pengurangan ekspor dari masing-masing Negara. Studi tersebut ditargetkan rampung pada 3 Agustus 2017 untuk kemudian menjadi bahan pertemuan di tingkat menteri. Sebelumnya, International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni kelompok Negara penghasil karet yang terdiri dari pemerintah Thailand, Malaysia, dan Indonesia setuju memangkas kapasitas ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) mulai maret – Desember dampak positif terhadap harga.

Di bawah perjanjian AETS, tiga Negara yang memasok 60% kebutuhan karet global memotong total ekspornya sebanyak 700.000 ton. Namun, sejak 2017 dimulai perjanjian ini belum di perbaharui. Negara-negara ekspror itu sudah menyetujui proposal yang diajukan Thailand soal pemangkasan produksi. Adapun pertemuan tingkat menteri anata tiga Negara akan dilakukan Kuartal IV/2017.

Berdasarkan data Bank Dunia, Thailand dan Indonesia merupakan eksportir utama karet terbesra di Dunia. Pada tahun lalu, kedua Negara menyuplai 7,62 juta ton kret alam, atau 61,96 dari total pasokan global sejumlah 12,29 juta ton. Analisi Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan intervensi dari tiga Negara eksportir karek diharapkan dapat membantu menahan anjloknya harga. Langkah yang sama sudah lakukan OPEC untuk menstabikan fundamental dan harga minyak mentah.

Ada ketakutan di pasar soal surplus suplai karena masalah permintaan, terutama dari China sebagai konsumen terbesar di dunia,” tuturnya. Namun, harga dapat meningkat ketika mencapai level jenuh jual. Pada kuartal III/2017, harga karet diprediksikan bergerak di dalam rentang 190 yen – 230 yen per kg.

Source Harga Karet Mulai Menguat

Leave A Reply

Your email address will not be published.