Ekspor Kopi Masih Seksi

32

Jakarta, 17 Oktober 2017 — Jember memang belum memiliki brand kopi khas tersendiri. Namun, ternyata kopi Jember masih sangat seksi untuk menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan. Buktinya, PTPN XII dan Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan masih menitiktumpukan komoditas yang diekspor keluar negeri yang terbesar dari kopi Jember.

“Produksi kita mencapai 2.350 ribu kilo per tahunnya. Delapan puluh persen masih diekspor ke luar negeri. Yang 20 persen untuk lokal,” ucap Agus Khusnin, manajer PTPN XII Jember kepada Jawa Pos Radar Jember kemarin.

Agus menuturkan memang untuk kopi yang diproduksi PTPN XII tidak hanya di Jember, namun di Banyuwangi, Bondowoso, dan Malang. Dia menjelaskan dari empat kabupaten itu, luasan tanam kopi sekitar 3.591 hektare.

“Untuk yang Jember, ada tiga kebun yang ditanami kopi yakni Silosanen, Zelandia Tanggul, dan Rayap Arjasa dengan luas sekitar 710 hektare,” terangnya.

Yang terbesar di Banyuwangi dengan 2.003 hektare. Sehingga bisa dipastikan kopi Jember yang diekspor pun cukup banyak jumlahnya. Dirinya menuturkan untuk tujuan utama ekspor ada tiga negara di kawasan Asia.

“Yakni ke China, Jepang dan Korea,” jelasnya.

Dirinya mengatakan untuk tujuan ekspor ini memiliki karakteristik berbeda. Ada yang mentah, ada yang biji kopi yang belum disangrai. Pihaknya pun menyediakan seperti yang diminta negara tujuan. Sementara itu, untuk pasar lokal diakuinya memiliki kekuatan yang luar biasa jika memang dikembangkan. Dirinya merasakan bagaimana kopi pihaknya cukup laku dijual untuk memenuhi kebutuhan Jember dan sekitarnya.

“Tapi memang kalau dari sisi harga bagus yang ekspor,” jelasnya.

Untuk syarat utama kopi yang diekspor memang kualitas yang bagus yang sesuai dengan kriteria negara tujuan.

“Standar mutunya harus bagus,” terangnya.

Dijelaskan Agus, kopi yang diproduksi perusahaannya masih menjadi primadona di luar negeri. Namun, untuk kopi lokal diakuinya kadang masih kurang edukasi tentang penanganan panen dan paska panen. Pihaknya masih melihat di masyarakat untuk panen kopi masih dilakukan dengan serampangan.

“Misalnya banyak biji yang masih hijau dan mentah. Harusnya kan yang dipanen yang merah saja,” jelasnya.

Sehingga inilah yang membuat citarasa kopi nantinya akan berubah dan membuat harga di pasaran jatuh.

“Memang saat masih biji tidak kelihatan. Akan kelihatan saat disangrai,” tuturnya.

Hal inilah yang diakuinya karena keterbatasan pengetahuan masyarakat terhadap kopi. Apalagi, jika sudah berhadapan dengan kebutuhan hidup. Sehingga diakuinya perlu edukasi kepada semua pihak jika ingin membuat kopi rakyat Jember benar-benar menggeliat. Namun, menggeliatnya kopi Jember diakuinya saat ini sudah cukup bagus. Pasalnya, kini banyak masyarakat yang sudah beralih dari kopi sachet yang lebih banyak campuran dibandingkan dengan kopi.

“Kalau sudah terasa hingga ke kampung-kampung bangga dengan kopi Jember, ini yang patut diacungi jempol,” tuturnya.

Hal yang sama dilakukan oleh PDP Kahyangan Jember. Hariyanto, direktur utama PDP Kahyangan menuturkan, kopi cukup bagus prospeknya tahun ini.

“Pertumbuhan kopi mengalami peningkatan, masyarakat pencinta kopi semakin banyak,” jelasnya.

Dirinya mengapresiasi munculnya pencinta kopi. Apalagi, apresiasi terhadap kopi Jemberan yang diakuinya tidak kalah dibandingkan dengan luar daerah juga menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Hanya saja, dijelaskan Hariyanto, ada kendala teknis dalam pengolahannya. Perlu ada penanganan dibandingkan dengan kopi pabriknya. Terkait dengan jumlah luas tanam kopi sendiri, diakuinya, untuk PDP Kahyangan ada sekitar 1.000 hektare.

“Pabrik sebenarnya kemampuan pengolahan sekitar 1.600 ton per tahun. Namun yang bisa kita olah hanya 650an ton,” jelasnya.

Hal ini karena ketersediaan bahan baku yang tidak banyak juga karena sudah ada penurunan kualitas dari tanaman kopinya. Sehingga pihaknya mengakui ada keterbatasan untuk memenuhi produksi ini. Namun, pihaknya terus berupaya dengan melakukan peremajaan di sejumlah kebun untuk tanaman kopinya, dengan harapan ke depan dapat memenuhi kebutuhan agar semua mesin bisa berjalan. Selain itu juga bekerja sama dengan masyarakat pencinta kopi rakyat untuk meningkatkan ini. Untuk meningkatkan nilai harga kopi di PDP Kahyangan, pihaknya memberikan penanganan kepada kopi Jember ini.

“Yakni ada bean coffee alias kopi mentah dan kopi olahan,” jelasnya. Untuk kopi olahan sendiri hanya sekitar 30 persennya saja.

Namun, harus diakui Hariyanto, pihaknya memang masih menitikberatkan pada ekspor ke luar negeri. Di mana untuk tahun ini harga kopi dunia juga cukup bagus.

“Harganya sekitar Rp 28-30 ribu per kilo. Kami terus memantau harga kopi setiap harinya. Karena berdasarkan dolar,” pungkasnya.

Dengan harga kopi dunia yang tinggi, pihaknya berharap juga bisa mendongkrak pendapatan PDP dari sisi kopi.

Source Ekspor Kopi Masih Seksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.