Ekspor Karet Sumsel Turut Melejit

27

 17 Juli 2017 — BISNIS INDONESIA  Palembang Provinsi Sumatra Selatan, daerah produsen karet alam terbesar di Indoesia, mencatatkan lonjakan ekspor karet hingga 103,55% sepanjang Januari – Mei 2017 karena terbantu dengan peningkatan harga internasional. Berdasarkan rilis anyar Badan Pusat Statistik {BPS) Sumsel, ekspor karet sepanjanglima bulan itu tercatat senilai US$959,24 juta, sedangkan periode yang sama tahun sebelumnya hanya US$471,25 juta.

Pelaksanaan Tugas Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Erwin Tunas menilai kenaikan ekspor tersebut disebabkan oleh pergerakan harga karet internasional Januari – Mei 2017 yang rata-rata US$1,8 – US$1,9 per kilogram. Adapun, pada lima bulan pertama 2016, harga rata-rat karet adalah US$1,3 per kg. “Ada perbedaan US$0,6 per kg. Kalau dari segi volume ada kenaikan, lalu harga meningkat, maka akumulasi menunjukan kenaikan cukup tinggi,” katanya, pekan lalu.

Kendati harga rata-rata 2017 lebih tinggi dari tahun lalu, tetapi harga April dan Mei mulai menunjukan pelemahan. Hal ini terkonfirmasi dengan ekspor karet Sumsel yang pada Mei senilai US$190,31 juta atau turun 5,64% dari catatan April. Bahkan, Erwin memperkirakan nilai ekspor pada Juni semakin menciut karena harga karetpada bulan lalu sudah menyentuh US$1,4 per kg. Meski demikian, peluang peningkatan masih ada lantaran pada bulan ini harga karet sudah naik menjadi US$1,5 per kg.

Sebagaimana diketahui, harga karet yang di awal 2016 menyentuh US$1,9 per kg pada Desember berkat kesepakatan International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk memangkas ekspor tahun lalu. Tiga Negara anggota ITRC – Thailand, Indonesia, dan Malaysia – yang menghasilkan 65% karet alam dunia itu masih akan bermusyawarah pada Agustus 2017 untuk menemukan apakah pemangkasan ekspor kembali di berlakukan.

Erwin mengatakan sikap Indonesia dalam ITRC menjadi domain pemerintah melalui kementrian Perdagangan. Jika pun Indonesia harus memangkas ekspornya, dia mengklaim pembelian karet dari petani tidak akan berkurang sehingga penyadapan bisa berjalan seperti sedia kala. Menurut Erwin, selama Indonesia hanya berorientasi ekspor karet mentah maka mekanisme pengendalian pasokan akan terus berlangsung agar harga tidak terpuruk. Konsekuensinya, di sector hulu, peluasan areal tanam tidak lagi menjadi isu utama.

Kalau memang kita mau berkembang harus diimbangi dengan penyerapan hilir, atau konsumsi dalam negeri ditingkatkan,” ujarnya. Sumsel merupakan produsen karet terbesar di Indonesia. Bumi Sriwijaya berkontribusi sekitar 33% dari produksi nasional yang mencapai 3,2 juta ton. Menurut Erwin, daerah ini paling berhasil melakukan peremajaan dibandingkan dengan daerah penghasil karet lainnya.

Dari segi geografis juga sangat memungkinkan terus di kembangkan sector agribisnisnya,” ucapnya. Berdasarkan data BPS, ekspor karet berkontribusi sebesar 64,59% untuk nilai ekspor nonmigas Sumsel sepanjang Januari – Mei 2017. Pada 5 bulan itu, total ekspor nonmigas Sumsel tercatat US$1,48 miliar sementara ekspor komoditas migas US$85,64 juta.

Source Ekspor Karet Sumsel Turut Melejit

Leave A Reply

Your email address will not be published.