Drone Karya Anak Bangsa Telah Mendapatkan Type Certificate dari IMAA

46

Bandung, 26 April 2016

Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung adalah drone karya anak bangsa yang dikembangkan bersama oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). Dengan dikeluarkannya Type Certificate ini, maka proses rancang bangun dan spesifikasi teknis serta batasan operasi pesawat yang tercantum dalam datasheet sertifikat tipe telah memenuhi ketentuan/aturan kelaikan udara berdasar Petunjuk Pelaksanaan Dirjen Ranahan No. Juklak/20/VIII/2010 tanggal 31 Agustus 2010.

Type Certificate PTTA Wulung akan diserahkan oleh Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kepada PTDI dalam acara penyerahan Type Certificate yang dilaksanakan pada tanggal 26 April 2016 di Ops. Room Gedung Pusat Manajemen (GPM) PT Dirgantara Indonesia (Persero), Jalan Pajajaran No. 154 Bandung. Sertifikat tipe (Type Certificate) adalah tanda bukti terpenuhinya persyaratan kelaikudaraan sesuai peraturan keselamatan penerbangan sipil dalam hal rancang bangun pesawat udara, mesin pesawat udara dan baling-baling pesawat udara.

PTTA Wulung dirancang sebagai sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan autopilot, menggunakan konsep modular composite structure, ruang akses yang luas dan perakitan yang cepat dan mudah. PTTA Wulung mempunyai bobot maksimal 125 kg, kapasitas tangki bahan bakaar 35 liter, menggunakan single piston engine tipe pusher bertenaga 22 Horsepower (Hp). Dengan sistem autopilot yang terintegrasi di pesawat, PTTA Wulung dapat melakukan misi secara automatis.

Misi Utama PTTA Wulung adalah Intelejen (Intelligence), Pengawasan (Surveillance), Pengintaian (Reconnaisance) atau dikenal dengan ISR. PTTA Wulung diproduksi dengan menggunakan proses pembuatan dan komponen yang sesuai dengan standar industri penerbangan dan sesuai dengan kualifikasi yang berlaku untuk produk pesawat terbang.

Pengembangan awal oleh BPPT, Industrialisasi oleh PTDI

Pengembangan awal PTTA Wulung dimulai oleh BPPT bersama Balitbang Kemhan RI sebagai lembaga riset yang melakukan penelitian dan pengembangan PTTA Wulung dari desain awal, purwarupa sampai uji terbang. PTTA hasil pengembangan BPPT tersebut selanjutnya diserahkan ke PTDI sebagai industri yang memiliki Sertifikat Organisasi Rancang Bangun (Design Organization Approval) untuk diproduksi sesuai dengan prosedur standar industri penerbangan.

PTDI bersama Balitbang Kemhan RI melakukan beberapa perubahan desain PTTA yang telah dikembangkan BPPT. Perubahan yang dilakukan meliputi konsep struktur, material yang digunakan, sistem avionik dan mission payload system. Selain itu PTTA Wulung juga menambahkan fitur transponder untuk memenuhi regulasi keselamatan penerbangan.

Transponder adalah alat yg dipasang di pesawat yang berguna untuk memberikan data (posisi, ketinggian) kepada Radar sebagai alat bantu ATC dalam memberikan pelayanan lalu lintas udara. Kode Registrasi PTTA Wulung adalah NW01.

PTDI melakukan persiapan proses produksi PTTA Wulung sejak 2014. PTTA Wulung menjalani berbagai uji baik ground test maupun flight test untuk mendapatkan sertifikat tipe. Uji terbang pertama dilakukan pada tanggal 9 Mei 2015 di Bandara Nusawiru, Pangandaran, Jawa Barat. PTTA Wulung telah melakukan 13 kali uji terbang sertifikasi. Uji terbang ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan terbang, kemampuan mission payload yaitu kamera FLIR (Forward Looking Infrared), dan memastikan bahwa seluruh komponen dan peralatan Ground Control Station PTTA Wulung berjalan dengan baik.

Dengan didapatkannya Type Certificate PTTA Wulung dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA), PTTA Wulung telah memenuhi regulasi dan siap untuk diproduksi. Untuk satu unit PTTA Wulung siap terbang dibutuhkan waktu enam minggu, dengan estimasi tiga minggu untuk produksi struktur, satu minggu untuk integrasi dan dua minggu untuk testing seperti ground test, kalibrasi, dan berbagai macam pengujian lainnya. Tahap produksi massal untuk PTTA Wulung akan dimulai pada awal Mei 2016. Dan diharapkan sesuai rencana, 3 (tiga) unit PTTA Wulung bakal diserahkan kepada pemesan, yakni Kementerian Pertahanan (Kemhan). PTTA Wulung yang dihasilkan saat ini kualitasnya sudah baik dan sesuai dengan spesifikasi yang diminta TNI AU.

Keunggulan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung
1. Intelejen (Intelligence), Pengawasan (Surveillance), Pengintaian (Reconnaisance) atau dikenal dengan ISR.
2. Mampu terbang hingga radius 100 kilometer (km) dari pusat pengendali.
3. Mampu terbang selama 2-3 jam non stop tergantung pada misi operasi. Dengan ketinggian jelajah maksimal 5.500 kaki (feet).
4. Dilengkapi dengan kamera yang mempunyai kemampuan mengambil data video dan foto secara real time dengan kualitas High Definition (HD) dan dilengkapi dengan teknologi infrared.

Sebelum PTTA Wulung menjalankan misi operasi ISR, rencana rute terbang harus sudah disusun/diset oleh pusat pengendali, namun saat terbang juga bisa berubah rute sesuai perintah (pusat pengendali). Dan dengan teknologi kamera yang saat ini terpasang di PTTA Wulung bisa mengambil video dan foto secara jelas pada ketinggian antara 3.000-4.000 kaki.

Source Drone Karya Anak Bangsa Telah Mendapatkan Type Certificate dari IMAA

Leave A Reply

Your email address will not be published.