Dirut PTDI Paparkan Tantangan Penguasaan Teknologi Pertahanan dalam KTN 2018

36

18 Juli 2018 — Direktur Utama PTDI menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2018 yang mengangkat tema “Strategi Implementasi Kebijakan Nasional untuk Mendukung Kemandirian Teknologi” di Auditorium Gedung II BPPT Thamrin, Jakarta. Dalam paparannya, Elfien Goentoro menjelaskan tantangan penguasaan teknologi pada industri pertahanan. PTDI sebagai badan usaha milik negara yang didirikan pada tanggal 23 Agustus 1976 memiliki visi menjadi yang terdepan di segmen pasar pesawat turboprop kelas ringan dan sedang serta menjadi acuan bagi Industri Penerbangan di Asia Pasifik dengan menerapkan optimalisasi kompetensi industri dan komersial.

Dalam penguasaan teknologi pertahanan sesuai dengan UU No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. PTDI melalui co-design, co-manufacture dan global supply chain selalu memperhatikan kandungan lokal dan offset sebesar 35% dari nilai kontrak dalam pengadaan Alat Peralatan Pertahanan Keamanan (Alpalhankam) dari luar negeri sehingga PTDI diharapkan memiliki kemampuan dalam memproduksi Alpalhankam secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Penguatan posisi industri pertahanan dalam skema Pengadaan Luar Negeri (PLN) melalui peningkatan kerjasama industri pertahanan dalam pelaksanaan UU No 16 tahun 2012 yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dan sejalan dengan pengembangan industri pertahanan ke depan.

“Pengadaan alutsista dari luar negeri harus berbasis kepada pengembangan industri dirgantara nasional agar industri dapat mengembangkan kompetensi melalui pelatihan serta technology acquisition sesuai ToT yang terencana, terkawal dan terwujud nyata”, papar Elfien Goentoro, Direktur Utama PTDI.

Kemampuan industri pertahanan dalam melakukan pemeliharaan & perbaikan untuk produk Alpalhankam di dalam negeri juga harus terus ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan potensi bisnis serta menambah kemampuan kegiatan pemeliharaan, perawatan dan perbaikan produk Alpalhankam agar mampu dilaksanakan di dalam negeri. Dalam strategi pengembangan teknologi & produknya, PTDI melakukan serangkaian pengembangan produk untuk pesawat terbang tanpa awak (PTTA) Wulung, program pesawat tempur KFX/IFX dan sistem senjata. PTDI akan memulai memasuki pasar komersial melalui pengembangan pesawat N219 dan pesawat CN235 Next Generation.

PTDI akan mengembangkan dan modernisasi produk unggulannya seperti pesawat CN235-220 dan NC212i untuk dapat dikembangkan menjadi special mission aircraft untuk mendukung program pemerintah sebagai Poros Maritim Dunia. Pesawat CN235-220 dapat dikembangkan menjadi Weaponized Maritime Patrol Aircraft, Anti Submarine Warfare dan Maritime Surveillance Aircraft serta pengembangan weapon & mission system pada Flying Test Bed (FTB) pesawat CN235-220. Dalam strategi pengembangan program KFX/IFX, PTDI akan sangat terbantu terutama dalam hal peningkatan kemampuan teknologi composite aerostructure berupa Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP), sesuai dengan Rencana Strategis yang dituangkan dalam RJPP PTDI. Mengingat kecenderungan pasar aerostructure akan didominasi oleh teknologi composite pada tahun 2022 sebesar 74,5%.

Selain program KFX/IFX, PTDI saat ini telah memiliki kemampuan untuk melakukan manufacturing dan sertifikasi unguided rocket 70mm. Target pengembangan Roket kedepannya, PTDI dapat meningkatkan local content rocket 70mm serta mengembangkan unguided rocket 80mm, 122mm & 127mm dan mampu melakukan MRO & product upgrading. Fasilitas manufacturing rocket PTDI terletak di Kawasan Produksi III Tasikmalaya.

PTDI juga memiliki kemampuan manufacturing Surface & Underwater Target (SUT) Torpedo, kemampuan Maintenance, Repair dan Overhaul (Depot level) dan refurbishment. Target pengembangan Torpedo kedepannya, PTDI dapat berkontribusi dalam melakukan manufacturing, assembly, testing, MRO serta upgrading untuk pengadaan torpedo dari Luar Negeri melalui program ToT/Offset sesuai dengan UU No. 16 Tahun 2012.

PTDI telah melakukan peningkatan fasilitas produksi, pengujian dan penambahan fasilitas untuk mencapai strategi pengembangan teknologi dan produk. Selain itu, PTDI terus meningkatkan jumlah serta kualitas dari tenaga ahli dengan melakukan rekrutmen pegawai baru dan mendidik pegawai yang sudah ada untuk menguasai kemampuan khusus sesuai kebutuhan perusahaan. PTDI turut pula ikut serta dalam proses perencanaan kandungan lokal / Offset terhadap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri dan perencanaan kerjasama industri dengan perusahaan kedirgantaraan dunia.

Ada beberapa tantangan penguasaan teknologi industri pertahanan yang akan dihadapi PTDI dalam rangka melakukan akuisisi teknologi, yakni penguasaan teknologi masih terbatas sehingga ketergantungan pengguna pada produk Luar Negeri masih tinggi, spesifikasi teknis dari pengguna yang berubah-ubah, volume bisnis / jumlah order yang secara skala ekonomi belum memadai dan keberpihakan untuk memanfaatkan fasilitas dan kapabilitas dalam negeri dalam pengadaan Alutsista.

Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2018 yang diselenggarakan mulai dari tanggal 17 hingga 19 Juli 2018 bertujuan untuk mendukung teknologi dalam pembangunan ekonomi Indonesia ke depan. Kondisi perekonomian dunia saat ini harus menghadapi berbagai ketidakpastian. Selain adanya berbagai isu geopolitik, perkembangan teknologi juga turut memberikan dampak pada perubahan sosial dan ekonomi.

Menjawab tantangan tersebut dan untuk mendukung misi pemerintahan dalam memperkuat kemampuan, kapasitas dan kemandirian industri dalam negeri, mewujudkan kemandirian dan daya saing bangsa, maka perlu dipersiapkan berbagai terobosan inovasi teknologi antara lain di bidang teknologi pertahanan–keamanan, kebencanaan dan material. Negara yang memiliki militer yang kuat harus didukung oleh industri pertahanan yang maju sehingga industri pertahanan nasional juga merupakan bagian dari mewujudkan kemandirian bangsa.

Source Dirut PTDI Paparkan Tantangan Penguasaan Teknologi Pertahanan dalam KTN 2018

Leave A Reply

Your email address will not be published.