Dibutuhkan Sinergitas Atasi Banjir di Medan

27

Jakarta 10 Februari 2016 — Pj Walikota Medan Randiman Tarigan menilai diperlukan sinergitas aktif dari semua pihak untuk mengatasi banjir kiriman yang selalu melanda Kota Medan terutama ketika hujan deras berlangsung lama di kawasan hulu.

“Artinya tidak hanya Pemko Medan saja yang berbuat, tapi harus mendapat respon aktif dari Badan Wilayah Sungai (BWS) dan Pemkab Deliserdang yang wilayahnya bersebelahan dengan Medan

” kata Randiman kepada wartawan di rumah dinas Walikota Jalan Sudirman, Selasa (9/2).

Pj Walikota menilai, banjir yang terjadi di kawasan Medan Helvetia, Medan Sunggal, Medan Selayang, Medan Johor dan Medan Maimun akibat sungai yang mengaliri kawasan itu tidak mampu mengaliri derasnya luapan air dari hulu karena hujan yang cukup lama.

Dari kondisi ini, sebut Randiman, sejatinya BWS secara rutin melakukan normalisasi secara rutin terhadap sungai di Medan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab instansinya.

Sehingga mampu menampung luapan air ketika hujan deras terjadi kawasan hulu. Lagipula Pemko tidak memiliki kapasitas terhadap aliran sungai itu.

Dia mencontohkan terjadinya banjir di kawasan Helvetia ketika hujan deras mengguyur Medan, Senin kemarin, berdasarkan informasi dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan menyebutkan bahwa, Kementerian Pekerjaan Umum ada membuat dua aliran crossing di jalan negara yang sedang dibangun. Hanya saja dalam prosesnya belum terkoneksi ke Sungai Bederah yang berada di dekat lokasi. Akibatnya air menggenangi sekitar perumahan Helvetia.

“Karenanya kita akan segera mencarikan jalan keluarnya,” kata Randiman.

Begitu juga dengan Kabupaten Deliserdang dan Karo. Menurut Randiman kedua wilayah ini harus bekerjasama dengan Medan guna mengatasi banjir kiriman yang kerap terjadi.

Kabupaten Karo misalnya, lanjut Randiman diharapkan memiliki program terpadu menjaga kesinambungan hutan di sekitar daerah aliran sungai yang mengalir ke Medan, sehingga ketika hujan deras tidak bercampur dengan erosi serta lumpur. Begitu juga dengan Deliserdang yang wilayahnya berdampingan untuk tidak menutup aliran sungai yang menuju kawasan itu untuk sampai ke laut.

“Kalau tidak ini akan jadi masalah besar. Maka dari itu dibutuhkan kerjasama dan sinergi dengan semua pihak terkait bersama masyarakat,” ujarnya.

Gotong Royong

Randiman mengakui program gotong royong yang dilaksanakan secara rutin sejak memimpin Kota Medan bulan Oktober 2015 lalu, dinilai sangat efektif untuk mengelimir terjadinya genangan air ketika hujan terjadi.

Seperti di seputaran Lapangan Merdeka, Jalan Denai, Karya Kasih, Medan Labuhan dan lain sebagainya untuk saaat ini persoalan genangan bisa diatasi berkat gotong royong lintas SKPD yang diterapkan Pj Walikota selama memimpin.

“Saya mengakui saat ini tinggal menghitung hari memimpin Kota Medan. Walaupun demikian akan melaksakan gotong royong itu, meski masa bertugas tinggal satu hari lagi

” tegas Randiman.

Yang penting, ungkapnya, gotong royong dan program yang dilaksanakan dalam menata kota menjadi landasan yang baik untuk dilanjutkan pejabat Walikota Medan terpilih untuk menjadikan Kota Medan menjadi lebih maju, modren dan religius.

Dalam kesempatan itu, Pj Walikota mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran drainase. “Itu makanya dibutuhkan sinergi dengan daerah terkait dan juga dengan masyarakat

” kata Randiman.

Sebelumnya Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan, Zulkarnain menjelaskan bahwa program strategis Pemko Medan adalah mengoptimalkan sistem drainase kota, sehingga mampu menampung debit air hujan untuk dialirkan ke drainase skunder dan primer yang ada di Medan.

Langkah Konkret

Terpisah Direktur Eksekutif Walhi, Kusnadi ketika ditemui di ruang kerjanya menyampaikan, untuk mengantisipasi semakinmemburuknya banjir ketika musim hujan datang, pemerintah didorong untuk melakukan berbagai langkah konkret terhadap Kota Medan yang rentan terjadi banjir.

“Langkah konkret perlu diupayakan dari pemerintah, terutama memastikan wilayah-wilayah di Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang aman dari alih fungsi hutan

”jelasnya, Selasa.

Menurut dia, wilayah Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang merupakan daerah hulu yang menjadi penopang air bagi wilayah hilir ketika musim penghujan datang.

“Oleh karena itu, mesti dijaga dari berbagai hal yang dapat merusak keseimbangannya. Laju air tidak terhalang lagi dari hulu menuju hilir disebabkan wilayah hutan yang rusak di pinggiran sungai,”ujarnya.

Selain itu, sebagian besar wilayah Kota Medan juga sudah minim resapan air akibat beralih fungsinya rawa-rawa resapan air menjadi bangunan-bangunan dan lokasi pemukiman. Di samping sistem drainase yang memang kurang berjalan dengan baik ketika hujan datang.

Karena itu,Walhi mengimbau agar pemerintah cepat bertindak dengan melakukan perbaikan dari hal yang terkecil seperti memperbaiki sistem drainase, kemudian melakukan normalisasi sungai yang sudah mengalami pendangkalan hingga melakukan kerjasama lintas kabupaten untuk menjaga dari alih fungsi lahan.

“Pemerintah perlu memastikan wilayah-wilayah yang termasuk kedalam kawasan rentan bencana mendapat perhatian utama. Terlebih karena musim hujan dapat diprediksi kedatangannya. Selain itu, perlu mempersiapkan antisipasi dini untuk mengurangi dampak buruk banjir

”tambahnya.

Lebih lanjut, masyarakat juga perlu digugah lagi kesadarannya, terutama untuk bersama-sama menjaga lingkungan dari berbagai hal yang dapat meyebabkan rusaknya alam. Dengan demikian potensi banjir juga bisa diminimalisir. (rmd/anto)

Source Dibutuhkan Sinergitas Atasi Banjir di Medan

Leave A Reply

Your email address will not be published.