Daya Saing BUMN Perkebunan Masih Lemah

80

12 Pebruari 2015 — Jakarta – Pengelolaan organisasi, pembelajaran individual serta pembelajaran kolektif pada Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) seluruh Indonesia‎ relatif membaik. Namun demikian, hingga kini‎ masih ditemukan kelemahan dalam hal daya saing di perusahaan milik negara tersebut .

Hal tersebut disampaikan Komisaris PT Pupuk Indonesia Holding Company, Megananda Daryono,‎ dalam ujian akhir desertasinya yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Pengetahuan Terhadap Budaya Organisasi, Pembelajaran Individual dan Pembelajaran Kolektif Serta Implikasinya Terhadap Kreativitas Individu” guna mendapatkan promosi gelar Doktor di Universitas Brawijaya, Malang‎.

Hasil penelitian didasari atas keterlibatannya dalam BUMN sejak 1981 atau saat dirinya berada di Kementerian Keuangan yang dilakukan dengan pertimbangan akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di akhir tahun 2015.

“Tetap ditemukan kelemahan dalam hal daya saing perusahaan-perusahaan milik negara tersebut yang bisa berakibat fatal. Kelemahan tersebut seringkali dipicu oleh faktor-faktor internal di dalam organisasi sendiri,” kata Megananda dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/2). Faktor-faktor internal tersebut, di antaranya adalah birokrasi yang berlebihan, budaya organisasi yang tertutup, kelemahan kapasitas sumberdaya manusia, kurangnya kompetensi (pengetahuan, keterampilan, sikap) di kalangan pegawai, dan lain sebagainya.

“Sehingga dalam memasuki era MEA 2015, daya saing perusahan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang acapkali sering dipertanyakan, harus terus ditingkatkan,” ucapnya. Dalam penelitian yang dilakukan pada 14 Perusahaan BUMN Perkebunan, yang meliputi PTPN 1 hingga 14 tersebut, Megananda memaparkan bahwa peningkatan daya saing sangat diperlukan dalam rangka mendayagunakan secara optimal sumberdaya alam seperti kesuburan tanah, iklim, cadangan plasma-nutfah yang tersedia secara melimpah sebagai comparative advantage yang dimiliki Indonesia.

“Oleh karena itu, perlu dikembangkan kebijakan-kebijakan publik yang lebih komprehensif guna mendukung peningkatan daya saing Indonesia di sektor perkebunan,” ucapnya. Dirinya menilai, pengembangan sistem pembelajaran dan kreasi pengetahuan merupakan salah satu prasyarat untuk peningkatan daya saing perusahaan-perusahaan publik di sektor perkebunan.

“Pemerintah perlu menata-ulang aktivitas riset di bidang ini, untuk menghasilkan keunggulan kompetitif dalam jangka panjang. Tanpa lembaga-lembaga riset dan pengembangan aktivitas pembelajaran dan kreasi pengetahuan secara berkelanjutan, maka Indonesia akan terus tertinggal sebagai pengguna yang memiliki posisi tawar lebih rendah,” katanya.

Namun demikian Megananda memberikan solusi dari penelitiannya yaitu diperlukannya peningkatan pengetahuan dalam bidang perkebunan. “Oleh karena itu, diperlukan kombinasi antara riset-riset internal pada perusahaan-perusahaan publik, serta riset-riset yang dilakukan lembaga independen; sedemikian rupa sehingga meningkatkan kapasitas pembelajaran dan kreasi pengetahuan di bidang ini,” ujarnya.

Selain itu, dirinya juga memaparkan bahwa posisi BUMN Perkebunan tidak semata-mata sebagai pemasok produk-produk mentah atau setengah-jadi, melainkan harus didukung dengan pengembangan industri hilir yang kuat di bidang pengolahan hasil-hasil perkebunan.

“Nilai tambah dari produk-produk perkebunan perlu ditingkatkan, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menjamin kesinambungan produksi dalam jangka panjang,” jelasnya. Dalam konteks demikian, tentu saja pemerintah tidak dapat berperan sendirian melainkan harus berkolaborasi dengan sektor privat. Misalnya dalam menyediakan dukungan finansial, trading, industri pengolahan, promosi, dan lain-lain.

Source Daya Saing BUMN Perkebunan Masih Lemah

Leave A Reply

Your email address will not be published.