Dari Daun Teh, Keuntungan Mengalir sampai ke Rumah Warga

31

Jakarta, 6 Oktober 2017 – Teh sebagai komoditas ekspor dan domestik telah membuat perekonomian masyarakat yang bergelut di dalamnya merasakan manisnya. Tidak sekadar berhenti di pabrik-pabrik besar yang mengolah daun teh menjadi berbagai varian minuman atau di para pedagang, tapi juga mengalir ke rumah-rumah warga seputar perkebunan teh. Seperti yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar Wonosari, Lawang, maupun Singosari yang berprofesi sebagai pemetik daun teh di Kebun Teh Wonosari PTPN XII, Lawang. Menurut Santika Permana, asisten manajer PTPN XII, keberadaan kebun teh telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Selain tentunya peningkatan infrastruktur umum di wilayah tersebut yang dibangun melalui corporate sosial responbility (CSR). Sebut saja musala, jalan lingkungan, puskesmas pembantu, dan minimarket.

“Keberadaan kebun teh tentunya menjadi sumber pendapatan warga dalam meningkatkan status sosial ekonominya,” ujar Santika kepada MalangTIMES, Jumat (06/10) melalui seluler.

Keberadaan Kebun Teh Wonosari telah mampu menyerap ratusan tenaga kerja yang diambil dari warga setempat. Data tahun 2010, ada sekitar 742 tenaga kerja lepas atau musiman. Sedangkan karyawan tetap mencapai 173 orang. Dari total tenaga kerja lepas atau musiman yang didominasi pekerja wanita ini, rata-rata mendapatkan penghasilan sebesar Rp 35 ribu setiap hari dengan asumsi pemetik daun teh menghasilkan sebanyak 35 kilogram (kg).

“Per kilogramnya seribu rupiah. Kalau dapat banyak tinggal dikalikan saja,” ucap Santika.

Tentunya, pendapatan sebagai pekerja lepas tersebut, cukup memberikan pendapatan bagi keluarganya. Sebab, rata-rata para pekerja wanita tersebut juga memiliki pekerjaan lainnya, yaitu bertani. Sariati, salah satu pekerja lepas yang telah bekerja lebih dari 40 tahun di Kebun Teh Wonosari, menyatakan perekonomian keluarganya terbantu dengan adanya kebun teh tersebut.

“Sangat terbantu sekali. Apalagi kita tidak perlu keluar uang untuk ke lokasi karena ada kendaraan yang antar jemput juga,” terangnya.

Sariati rata-rata setiap bulannya mendapat bayaran dari PTPN XII sebesar Rp 1,3- Rp 1,5 juta.

“Biasanya saya metik dari pukul 06.00 WIB sampai 16.00 WIB. Bisa dapat 35-50 kg per hari,” ungkap Sariati.

Mujiati pun menyatakan hal yang sama. Dari daun teh yang dipetiknya, kehidupan ekonominya mengalami peningkatan yang lumayan.

“Bisa bantu-bantu nambah penghaslan. Alhamdulillah lebih baik,” ucapnya.

Selain berpengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakat sekitar perkebunan, daun teh juga memberikan dampak positif kepada pemerintah daerah. Khususnya dalam menyerap tenaga kerja lokal yang akhirnya bisa membantu program pengentasan kemiskinan di Kabupaten Malang.

“Yang pasti adanya perkebunan teh ini juga telah mengubah pola pikir warga sekitar. Bahwa kebersamaan yang dijalin lewat hubungan industrial ini telah menciptakan kesejahteraan bersama,” pungkas Santika.

Source Dari Daun Teh, Keuntungan Mengalir sampai ke Rumah Warga

Leave A Reply

Your email address will not be published.