Dampak Blasting Diinvestigasi Ulang, Dinas LH Akan Gandeng Sucofindo

35

09 Februari 2017 — Pengaduan masyarakat terkait dampak akibat aktivitas tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Desa Sepaso Selatan terus ditindaklanjuti pemerintah. Setelah resmi membentuk tim investigasi yang dikoordinir Dinas Lingkungan Hidup (LH), tenaga ahli dari PT Sucofindo pun rencananya bakal dilibatkan untuk melakukan pengukuran ulang besaran getaran akibat blasting (peledakan). Sehingga, hasil tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil tindakan selanjutnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutim Ence Ahmad Rafiddin Rizal mengatakan pengukuran terhadap dampak aktivitas blasting di areal tambang yang berdekatan dengan pemukiman warga di Desa Sepaso Selatan, sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh tim Pusarpedal dari Kementrian LH. Namun karena keakuratan hasil kajian tersebut masih mendapatkan komplain dari warga, sehingga perusahaan swasta yakni Sucofindo akan dilibatkan dalam investigasi ulang tersebut.

“Selain itu, dengan melibatkan Sucofindo, maka jarak dan waktu yang dibutuhkan lebih dekat. Karena, jika menggunakan tim Pusarpedal, harus menyesuaikan waktu dengan jadwal Kemeterian LH,” kata Rizal.

Disinggung terkait masalah pembiayaan, dia mengatakan akan melihat berapa nilainya. Jika masih bisa ditangani, maka akan diakomorir Dinas LH. Begitu juga sebaliknya, jika pembiayaannya terlalu tinggi, maka tidak menutup kemungkinan akan dilakukan sharing anggaran dengan PT KPC.

“Yah kita lihat nanti. Yang jelas kami belum dapat memutuskan,” sebutnya.

Sementara terkait data getaran yang menjadi keluhan masyarakat, Rizal berjanji, Dinas LH akan menggunakan seluruh data lokasi blasting dan getaran pada sepanjang tahun 2016 lalu sebagai rujukan dalam investigasi ulang tersebut. Termasuk juga akan meminta data titik blasting sepanjang tahun 2016 di area tambang dekat Desa Sepaso Selatan yang dimiliki PT KPC.

Sebelumnya, warga Desa Sepaso Selatan yang letak pemukimannya tidak jauh dari area pertambangan PT KPC, mengaku mengalami dampak serius dari aktivitas blasting. Mulai dari bangunan yang retak, hingga pondasi yang ambruk. Aduan masyarakat ini pun sebenarnya telah ditindaklanjuti Dinas LH Kutim. Namun warga menilai tim investigasi yang diturunkan untuk melakukan pengecekan dianggap tidak independen karena dibiayaai penuh oleh pihak PT KPC. Selain itu, data blasting yang diberikan juga diangap tidak akurat karena data yang disertakan hanya data titik blasting selama bulan Agustus hingga Desember 2016. Sementara dampak blasting sudah dirasakan warga sejak awal tahun 2016 lalu.

Source Dampak Blasting Diinvestigasi Ulang, Dinas LH Akan Gandeng Sucofindo

Leave A Reply

Your email address will not be published.