Cerita SMN Nursyam Bandu: Budaya Bangsa, Identitas Bangsa

30

21 Januari 2016

Cerita peserta Program Siswa Mengenal Nusantara yang membawa pelajar-pelajar terpilih dari Sulawesi Selatan untuk menjelajahi Maluku. Berikut dikisahkan oleh Nursyam Bahdu dari SMAN 1 Watansoppeng, Soppeng.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga saya masih memiliki kesempatan untuk mengikuti Program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) ini. Bukan hanya kesempatan, tetapi juga kesehatan yang baik serta keluarga baru yang terasa begitu hangat dengan rasa saling menghormati dan menyayangi antara kami semua. Sebanyak 17 siswa dan 3 pendamping dari Sulawesi Selatan serta para panitia pelaksana menjadi keluarga baru saya di Maluku. Semoga Allah membantu kami untuk selalu menjaga rasa saling menyayangi yang telah kami bangun beberapa hari ini sampai hayat menjemput kami.

Hari demi hari semakin cepat berlalu, tidak terasa telah banyak pelajaran yang kami dapatkan selama berada di Maluku ini. Saya dan pastinya teman-teman yang lain mengucapkan rasa terima kasih yang dalam kepada Kementerian BUMN dan Pelindo III yang telah memberikan kesempatan kepada kami semua untuk merasakan dan belajar mengenai daerah lain. Khususnya kami yang dapat merasakan bagaimana kondisi di Maluku melalui kegiatan Siswa Mengenal Nusantara, yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya. Karena tanpa kesempatan ini sesungguhnya kami tidak akan merasakan kehangatan rasa persaudaraan masyarakat Maluku, adat istiadatnya yang masih kental, serta keindahan alamnya yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Bukan hanya itu, di sini kami belajar mengenai keberagaman Tanah Air kami yang harus kami perjuangkan keberadaannya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa pasti ada yang akan berusaha menghacurkan hal tersebut. Sehingga kegiatan ini memang sangat mendukung kami untuk memupuk rasa cinta kami terhadap negara tercinta ini. Mungkin kami datang sebagai putra Sulawesi Selatan, tapi kami akan pulang sebagai  putra Indonesia yang cinta budaya, alam, dan keberagaman lain yang ada di Indonesia.

Kesan-kesan yang saya pribadi rasakan ketika di Maluku ini sangatlah beragam. Misalnya saat saya mulai menginjakkan kaki di Maluku ini, saya sudah merasakan ketakjuban kepada Maluku yang sangat bersih dan masih rindang dengan pepohonannya. Bukan hanya itu, rasa takjub saya semakin memuncak saat merasakan hangatnya persaudaraan yang masyarakat Maluku bangun melalui pela gandong. Pela gandong adalah hubungan persaudaraan yang sangat kuat antara umat beragama yang ada Maluku, mereka telah membangun rasa persaudaraan tersebut sejak lama. Bukan hanya pela gandong, di Maluku ada banyak sekali kearifan lokal misalnya sasi (berupa larangan terhadap sesuatu), masohi (gotong royong), dan makan patita (makan bersama).

Ketakjuban kami tidak hanya sampai di situ, keindahan alamnya yang sangat luar biasa memanjakan mata kami, keindahan yang tidak akan disaksikan di tempat lain. Selama 14 hari kami berada di Maluku ada banyak hal yang kami dapatkan. Semoga dapat kami gunakan di masa yang akan datang. Tapi hal tersebut pasti tidak dapat bertahan lama, jika tidak ada kesadaran masyarakat untuk menjaga hal-hal tersebut dan melestarikan kebudayaan yang ada terutama masyarakat Maluku sendiri.

Kita sebagai generasi muda tidak seharusnya hanya membebankan hal tersebut pada orang tua kita, tetapi kita seharusnya menjadi tenaga penggerak yang menggerakkan orang lain untuk melestarikan kebudayaan bangsa kita. Cukup dengan hal-hal sederhana seperti membuat artikel tentang kebudayaan-kebudayaan yang ada di daerah kita masing-masing. Karena dengan artikel tersebut orang-orang akan mengenal kebudayaan yang ada di Indonesia dan melestarikannya bersama. Jadi marilah kita lestarikan budaya bangsa yang merupakan identitas bangsa, jika identitas hilang tak akan ada yang mengenal bangsa kita.

Source Cerita SMN Nursyam Bandu: Budaya Bangsa, Identitas Bangsa

Leave A Reply

Your email address will not be published.