Cerita SMN Kasriadi: Obyek Wisata adalah Harta Karun Bersama

20

21 Januari 2016

Cerita peserta Program Siswa Mengenal Nusantara yang membawa pelajar-pelajar terpilih dari Sulawesi Selatan untuk menjelajahi Maluku. Berikut dikisahkan oleh Kasriadi dari SMA Negeri 3 Kota Palopo.

Assalamu Alaikum Wr.Wb. Puji syukur senantiasa saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, hidayah, karunia, serta kesempatan yang begitu luar biasa dahsyatnya sehingga saya dapat terpilih menjadi salah satu perwakilan putra daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang lolos ikut serta dalam Program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) di Provinsi Maluku.

Dalam kegiatan ini saya mendapatkan banyak hal seperti kebersamaan, kekeluargaan, keceriaan, ilmu, pengalaman, duka yang telah kami lewati bersama 17 peserta, tiga pendamping, dan tim panitia. Ambon yang merupakan ibu kota dari Provinsi Maluku memiliki julukan yaitu “Ambon Manise” yang bermakna bahwa Kota Ambon merupakan kota yang indah dan cantik, serta memiliki masyarakat yang ramah dan mudah bersosialisasi. Kota yang kaya akan budaya memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.

Yang paling unik menurut saya ialah budaya pela gandong dan sasi. Pela gandong ini adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat maluku. Pela gandong merupakan suatu ikatan persaudaraan antara semua penduduk antar negeri atau desa yang bersangkutan dan dianggap suci. Adapun sasi, merupakan kearifan lokal yang terdapat di Provinsi  Maluku. Sasi dapat diartikan sebagai larangan untuk mengambil hasil sumber daya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumber daya hayati baik hewani maupun nabati. Sasi lebih cenderung bersifat adat di mana sasi digunakan sebagai cara mengambil kebijakan dalam pengambilan hasil laut atau hasil pertanian. Namun secara umum sasi berlaku di masyarakat sebagai bentuk etika tradisional.

Sangat banyak lokasi yang kami kunjungi yaitu sentra pengolahan ikan modern PT Perinus, Pelabuhan Ambon yang dikelola Pelindo IV, Masjid Tua Wapauwe, Gereja Tua Immanuel, Benteng Amsterdam,  kunjungan ke sekolah unggulan SMAN Siwalima Ambon, dan SMKN 3 Ambon, Museum Siwalima, kunjungan ke Pantai Pintu Kota, Pantai Namalatu, Pantai Liang serta suguhan permainan bambu gila, Monumen Gong Perdamaian, Monumen Martha Christina Tiahahu, perajin kerang, dan tenun ikat, serta trekking ke Taman Nasional Manusela, Pulau Ora, Pulau Sapalewa atau pulau jodoh, dan Pulau Raja.

Hal yang paling berkesan dalam kegiatan kali ini ialah ketika di suatu sore mengunjungi ke Pantai Pintu Kota. Wow,wow,wow! itulah kata-kata yang pertama kali saya ucapkan saat melihat  pantai di sisi Kota Ambon ini. Keren banget! Pintu Kota merupakan salah satu pantai yang menyimpan keunikan tersendiri yaitu terdapat lubang besar yang menerobos tebing karang sampai tembus di kedua sisinya. Perjalanan yang kami tempuh dari Kota Ambon yang berjarak kurang lebih 15 km. Waktu tempuh sekitar 35 menit saja. Daya tarik lain yang membuat para pejalan mengunjungi pantai tersebut ialah perpaduan warna tebing yang berwarna cokelat kemerahan yang berulangkali dihantam gelombang ombak putih dan menghasilkan pecahan bulir air laut nan begitu indah.

Selain itu, hal yang paling berkesan lainnya yaitu ketika kami berkunjung ke Pulau Seram dan kemudian kami melakukan kunjungan ke Pantai Ora. Pantai tersebut sangat indah dengan dermaga unik menyambut turis yang merapat di Pulau Ora. Hamparan pasir putih dan dihiasi terumbu karang yang indah mengelilingi pesisir pulau. Di sana, saya snorkling beserta kawan-kawan dan itulah kali pertama saya mencoba snorkling. Luar biasa! Saya sangat takjub melihat keindahan alam bawah laut yang benar-benar nyata. Di tengah snorkling, hujan deras pun turun mengguyur pulau. Akan tetapi hal itu bukan menjadi halangan untuk kami menikmati keseruan bermain snorkling. Rasanya, hal itu adalah keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Sang Pemilik Semesta Alam.

Beranjak dari hal yang paling seru yang saya alami, terdapat momen yang unik dari kegiatan itu, yaitu ketika kami mengunjungi Masjid Tua Wapauwe. Masjid tersebut mempunyai daya tarik tersendiri dalam hal kontruksi bangunannya yang tidak menggunakan paku sama sekali dan hanya menggunakan pasak kayu pada setiap sambungannya. Subhanallah… Serta masyarakat setempat yang percaya bahwa konon masjid tersebut pernah berpindah tempat dengan sendirinya.

Kekayaan budaya yang ada di Maluku, kiranya harus dipertahankan, misalnya sikap toleransi terhadap sesama umat beragama yang ada di Provinsi Maluku. Berikutnya, saya berharap pemerintah memberikan peluang kepada masyarakat untuk berwirausaha seperti halnya UKM Kerajinan Tenun, UKM Kerajinan Kerang, dan lainnya. Pemerintah dapat membantu penyediaan fasilitas untuk membantu warga agar dapat mengembangkan usahanya. Obyek wisata yang ada di Provinsi Maluku merupakan harta karun yang mesti dibenahi. Misalnya disediakan fasilitas yang memadai serta sarana dan prasarana seperti transportasi dan akses jalanyang memadai. Sehingga pengunjung baik domestik maupun turis asing, merasa nyaman berkunjung di obyek-obyek wisata yang ada di Provinsi Maluku.

Source Cerita SMN Kasriadi: Obyek Wisata adalah Harta Karun Bersama

Leave A Reply

Your email address will not be published.