Cerita SMN Ega Rusanti: Kebersamaan Atas Perbedaan

39

21 Januari 2016

Cerita peserta Program Siswa Mengenal Nusantara yang membawa pelajar-pelajar terpilih dari Sulawesi Selatan untuk menjelajahi Maluku. Berikut dikisahkan oleh Ega Rusanti dari SMK Negeri 1 Bulukumba. Siswa Mengenal Nusantara (SMN), sebuah perjalanan menjelajahi sejengkal dari luasnya negeri yang indah ini, Indonesia. Berulang kali saya merasa bahwa yang saya alami hingga hari ini, masih terasa seperti mimpi. Masih banyak siswa yang memiliki segudang prestasi dan kecerdasan yang luar biasa di Provinsi Sulawesi Selatan, tapi di antara mereka semua hanya saya dan ke 16 rekan sayalah yang beruntung terpilih sebagai delegasi dari Sulawesi Selatan untuk Program SMN dari Kementerian BUMN dan Pelindo III tahun 2016 ini.

Menelusuri indahnya Provinsi Maluku, bertemu dengan masyarakat lokal yang ramah, dan berbaur dengan mereka adalah hal yang sangat menyenangkan. Provinsi Maluku yang belum banyak dilirik sebagai tujuan wisata oleh beberapa kalangan karena dianggap kota yang kasar,  tidak damai, dan tidak ada apa-apanya. Ternyata menyimpan keindahan alam yang mempesona. Pantai yang eksotis dan gunung hijau yang menjulang tinggi merupakan suguhan yang diberikan Kota Manise ini sepanjang waktu di sana.

Selama dua pekan di Maluku ini, saya mendapat banyak pelajaran yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Termasuk belajar hidup saling mengenal dan menghargai antar umat beragama yang berbeda keyakinan. Seperti yang diketahui, bahwa sebagian besar penduduk Maluku menganut tiga agama, yaitu Islam sebanyak 50,61 persen, Kristen Protestan sebanyak 41,40 persen, dan Katholik sebanyak 6,76 persen. Dalam masyarakat Maluku dikenal suatu sistem hubungan sosial yang disebut pela gandong, di mana semua orang adalah saudara dan satu rasa serta penderitaan, tanpa memandang suku, ras, dan agama.

Pela gandong mengajarkan saya begitu indahnya persaudaraan, meskipun ada perbedan tapi perbedaan itu hanyalah menjadi hiasan dalam kebersamaan. Meski orang-orang masih memandang Maluku sebagai tempat yang penuh dengan kekerasan karena tercermin dari konflik berdarah di Ambon tahun 1999 silam. Namun setelah saya sendiri merasakan hidup di sini, ternyata semua itu tidak benar adanya. Maluku adalah kota yang penuh kedamaian dan senyuman, setiap saya bertemu dengan penduduk di sini semuanya menyapa dengan senyuman dan memperlakukan saya dengan baik, karena “katong dua satu gandong” (kita berdua satu saudara).

Hidup bersaudara dengan orang yang berbeda keyakinan sekarang saya rasakan, padahal awalnya ketika saya berada di kampung halaman, bertemu dengan orang yang bebeda agama merupakan hal yang canggung dan harus saya hindari karena persepsi saya  terlanjur berpikir bahwa kami “berbeda”. Namun ketika saya tinggal selama 14 hari di Maluku, saya bahkan tinggal sekamar dengan pendamping dari Ambon, Kak Vanny yang beragama Nasrani.  Awalnya saya merasa takut dengan dia karena perbedaan itu. Saya takut, dia tidak akan memberikan saya kesempatan untuk sholat, saya takut dia akan membenci saya karena saya seorang Muslim, dan saya takut dia akan memperlakukan saya dengan tidak baik. Semua hal-hal negatif itu terus-menerus saya pikirkan, karena jujur saja, baru kali ini saya hidup dan bergaul dengan orang berbeda agama.

Hari-hari pertama saya sekamar dengan Kak Vanny sangat terasa canggung, kami bahkan tidak pernah berbicara, dan saya sholat apabila dia sedang tidak ada di kamar karena ketakutan saya tadi. Hari-hari terus berjalan dan hubungan saya dengan Kak Vanny jauh lebih baik dan saya baru sadar bahwa dia adalah perempuan yang ceria dan kuat. Sekamar dengan Kak Vanny ternyata sama sekali tidak seburuk yang saya pikirkan tadi. Awalnya saya mengenal Kak Vanny sebagai sosok yang menakutkan malah menjadi bak malaikat penolong yang memberi warna selama saya berada di Maluku.

Semula saya merasa takut jika Kak Vanny tidak menyukai saya sebagai seorang muslim, namun ternyata tidak! Kak Vanny memberikan saya kesempatan untuk beribadah, mengingatkan saya untuk sholat tepat waktu. Ia bahkan membangunkan saya ketika subuh tiba untuk sholat, mematikan TV ketika saya sholat, dan mengingatkan saya memakai hijab apabila ada kawan lelaki yang akan berkunjung ke paviliun kami. Bahkan kami berdua meletakkan kitab suci Al-Qur’an dan Al-Kitab di meja yang sama. Bagi saya inilah hal yang paling mengesankan.

Selanjutnya, ketika saya melihat Kak Vanny saya merasa bahwa dia bukannlah orang yang saya kenal baru-baru ini. Tetapi kami berdua sudah bersama dan hidup seperti saudara sejak lama karena begitu eratnya keakraban kami. Kak Vanny yang selalu merawat kami, menjaga kami, memberikan kami senyumannya setiap saat, dan membuat kami tertawa bersama, dialah salah satu orang paling baik yang pernah saya temui.

Hidup bersama Kak Vanny dalam sebuah perbedaan adalah kisah hidup yang paling membekas dalam hati saya selama perjalanan di Maluku kali ini. Sebuah kisah yang mengajarkan saya, bahwa perbedaan bukanlah hal yang menakutkan tetapi perbedaan menjadi hal terindah apabila kita bersedia menerima perbedaan itu prasangka baik dan rasa sosial kemanusiaan yang tinggi.

Source Cerita SMN Ega Rusanti: Kebersamaan Atas Perbedaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.