Cerita SMN Alfira Yuningsih: Asa untuk Ambon Manise

31

21 Januari 2016

Cerita peserta Program Siswa Mengenal Nusantara yang membawa pelajar-pelajar terpilih dari Sulawesi Selatan untuk menjelajahi Maluku. Ikuti cerita Alfira Yuningsih dari SMA Negeri Khusus Jeneponto berbagi kisah di Twitter https://twitter.com/andialfiraaym.

Assalamualaikum Wr. Wb. Salam satu jiwa untuk kita semua. Puji Syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kesehatan serta kesempatan yang berharga kepada saya sehingga saya bisa terpilih menjadi salah satu delegasi Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar Siswa Mengenal Nusantara (SMN) di Provinsi Maluku tahun 2016. Selama mengikuti kegiatan Program SMN, saya memperoleh banyak hal. Mulai dari mengunjungi berbagai objek wisata yang sangat indah dan menarik, mengunjungi beberapa sekolah unggulan untuk mengetahui sistem pendidikannya, dan juga mengunjungi beberapa UKM.

Selain mengunjungi berbagai macam tempat tersebut, keseruan dan keceriaan yang saya dapatkan bersama teman-teman baru, tim panitia, serta guru pendamping, juga tidak kalah pentingnya. Selama dua minggu kami jalan bareng, senang-senang bareng, dan menikmati keindahan Maluku ini dengan penuh kebersamaan. Hal lain yang menarik dari Provinsi Maluku, ialah di ibu kotanya, yakni Ambon berjuluk “Ambon Manise”. Maknanya ialah bahwa Kota Ambon merupakan kota yang indah dan cantik, serta memiliki masyarakat yang ramah tamah.

Selain dengan julukan tersebut, ada hal yang menarik lagi buat saya yakni dengan adanya budaya “pela gandong”. Hal tersebut merupakan suatu tradisi masyarakat Maluku di mana adanya rasa toleransi yang tinggi antar pemeluk berbagai agama yang terdapat di Maluku, seperti umat agama Islam dan agama Kristen. Keragaman agama tersebut tidak menjadikan Provinsi Maluku ini terpecah-belah, akan tetapi malah menjadikan mereka menjadi satu. Dengan dibalut oleh persaudaraan yang tinggi dan dibingkai dengan rasa persatuan serta kekeluargaan yang luar biasa akurnya.

Selain di juluki dengan provinsi dengan toleransi yang tinggi, terdapat salah satu budaya lagi yang terkenal, yakni budaya sasi. Sasi ialah larangan untuk mengambil sebuah hasil alam yang ada di suatu tempat, sebelum sasi yang ditentukan selesai. Pada saat sasi tersebut selesai, maka hasil alam tersebut akan diambil dan dinikmati bersama. Pada intinya sasi ini merupakan salah satu bentuk dari kekeluargaan dan persatuan mereka dengan garis besar yang harus saling satu rasa, saling berbagi, dan saling  menikmati dengan keberagaman satu sama lain. Pokoknya Provinsi Maluku keren abis!

Kepada masyarakat Maluku, saya berharap agar sekiranya tetap menjaga dan melestarikan budayanya, seperti bahasa, obyek wisata, dan wirausaha yang ada. Kepada Pemerintah Provinsi Maluku agar sekiranya mengelolah dengan baik, segala obyek wisata yang ada. Karena yang saya lihat Provinsi Maluku kaya akan obyek wisata yang indah dan menarik, akan tetapi belum dilirik-lirik oleh pemerintah untuk dikelola dengan baik. Sehingga fasilitas pada objek wisata tertentu masih terbatas seperti pada Pantai Ora, dan lain-lainnya.

Pemerintah juga perlu melirik dan mengembangkan wirausaha yang ada, seperti UKM tenun, UKM kerajinan Kerang, dan pengelolahan sagu. Karena wirausaha tersebut sangat berguna dan merupakan salah satu khas Maluku. Akan tetapi dalam prakteknya masih sangat sederhana, contohnya modal masih minim, belum terdapat cabang ke berbagai tempat, dan juga belum disediakan tempat yang lebih layak untuk menarik konsumen, sehingga menghambat berkembangnya wirausaha tersebut.

Source Cerita SMN Alfira Yuningsih: Asa untuk Ambon Manise

Leave A Reply

Your email address will not be published.