Bulog Jabar Pastikan Stok Beras Mencukupi Untuk 9 Bulan Ke Depan

33

24 Agustus 2018 | Bandung – Harga beras berpotensi naik pada tiga bulan akhir tahun ini disebabkan ancaman paceklik akibat musim kemarau berkepanjangan. Karena itu, sejumlah langkah antisipasi telah disusun mulai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk rantai pasokan.

Perum Bulog memperkirakan pada periode Oktober–Desember mendatang akan terjadi kenaikan harga beras karena memasuki musim paceklik dan panen juga sudah habis. Panen gadu pun kemungkinan tidak terlalu banyak sehingga serapan akan menyusut.

“Harga akan kembali normal saat memasuki masa panen tahun depan,” ungkap Kepala Perum Bulog Divre Jawa Barat, Achmad Mamun, di Rumah Pangan Kita (RPK) Center, Kota Bandung, Jabar, Kamis (23/8).

Meski demikian, Bulog meyakini stok beras di sejumlah daerah masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan.

Di Jawa Barat (Jabar), stok beras masih mencukupi sehingga belum memerlukan gelontoran beras impor. Achmad menyebutkan saat ini stok beras masih mencukupi hingga sembilan bulan ke depan dengan volume ketersediaan di gudang mencapai 175 ribu ton beras.

“Kalau kebutuhan normal untuk operasi pasar sekitar 12.000 per bulan, itu masih cukup untuk sembilan bulan. Masih sangat mencukupi sambil menunggu panen raya di Maret 2019,” ujarnya.

Untuk menjaga harga beras tetap stabil di masa paceklik, Bulog akan melakukan stabilisasi harga, tetapi tetap sesuai persetujuan kepala daerah. Targetnya, harga beras di masyarakat tidak terlalu jauh dari harga eceran terpenting (HET) pemerintah, di mana beras premium dipatok hanya 9.450 rupiah per kg dan medium 12.800 rupiah per kg.

“Kami tentunya memaksimalkan serapan beras pada musim panen gadu atau saat kemarau, untuk menambah ketersediaan stok beras di Jabar pada akhir 2018. Bulog menargetkan bisa menyerap 450.000 ton beras pada tahun ini. Masih ada waktu hingga akhir tahun untuk mengejar target,” tegasnya.

Selain melakukan Operasi Pasar (OP), Bulog juga akan memperbanyak RPK agar distribusi beras dan bahan pokok lainnya bisa cepat sampai ke masyarakat di pelosok kampung. Achmad menyebutkan saat ini, jumlah RPK di Jabar lebih dari 3.000 unit.

“Jumlah RPK di Jabar banyak, ada ribuan. Tetapi, kami sedang menata ulang dan evaluasi. Kami berharap bukan hanya kejar banyaknya, tetapi kelancarannya,” kata dia.

Puncak Kekeringan

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) memperingatkan puncak musim kemarau berkepanjangan terjadi pada Agustus–September ini. Untuk mengantisipasi dampak buruk dari kekeringan, Kementan membentuk posko penanganan dampak kekeringan 2018.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan posko-posko itu untuk mengatasi meluasnya dampak kekeringan. Kepada para pejabat teknis di Kementan, khususnya yang bertanggung jawab untuk produksi, diwanti-wanti untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Kita sudah melewati masa-masa sulit dan membuktikan dalam tiga tahun, kita bisa menghilangkan paradigma “paceklik” di sektor pertanian, bahkan El Nino dengan tinggkat yang tertinggi sudah kita lewati. Kita juga harus siap hadapi musim ini ke depan,” tegas Arman saat melantik sejumlah pejabat eselon I Kementan, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Mentan meminta Sekretaris Jenderal Kementan, Dirjen Tanaman Pangan, Ditjen Prasarana dan Saranan Pertanian (PSP) dan seluruh penanggung jawab luas tambah tanam (LTT) untuk tidak lengah. Pasalnya, target pemerintah ialah 1,2 juta ton, bulan Agustus dan september harus tercapai. “Agar di bulan November hingga Januari 2019, tidak ada kata paceklik,” tegas Amran.

Source Bulog Jabar Pastikan Stok Beras Mencukupi Untuk 9 Bulan Ke Depan

Leave A Reply

Your email address will not be published.