Bersatu Hadirkan Infrastruktur

62

27 Februari 2018 — Presiden Jokowi mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur dan elektrifikasi. Infrastruktur mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi sehingga perpindahan barang berjalan lancar serta harga jual lebih kompetitif. Elektrifikasi penting untuk mendorong pertumbuhan industri.

Salah satu strategi yang diterapkan pemerintah untuk mewujudkan infrastruktur dengan melakukan sinergi antar-BUMN karya, seperti Hutama Karya, Wijaya Karya, Waskita Karya, PTPP, dan Adhi Karya.

Padahal sebelumnya BUMN karya berjalan sendiri-sendiri dan cenderung berkompetisi.

“Saya meminta BUMN karya bekerja sama dalam membangun tol dan akhirnya mau untuk membangun tol dengan cepat,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Rini menyampaikan hal itu pada kuliah umum bertajuk Sinergi BUMN Membangun Negeri yang diselenggarakan dalam rangkaian ulang tahun ke-48 Media Indonesia di Kompleks Media Group Jakarta pada awal bulan ini.

Percepatan pembangunan infrastruktur dengan kolaborasi BUMN karya pun terbukti. Tol Trans-Jawa yang telah direncanakan sejak 1996 bakal rampung pada tahun ini dari Merak, Banten, hingga Probolinggo, Jawa Timur.

Bukan cuma di Pulau Jawa. Rini mengakui pihaknya juga tengah membangun jalan tol di Kalimantan dan Sulawesi.

Salah satunya di Sumatra terdapat tol Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 141 km yang dibagi menjadi 4 seksi. “Sudah diresmikan Presiden dua seksi. Tapi targetnya Juli 2018 sepanjang 141 km pasti sudah terselesaikan,” urai Rini.

Sekadar informasi, Presiden Jokowi menginginkan pada 2019 sudah terbangun tol sepanjang 1.280 km di Indonesia. Itu berarti target tersebut melebihi pembangunan jalan sejak merdeka hingga 2014 yang hanya 760 km.

Tidak hanya di darat, pemerintah juga membangun tol laut. Rini melakukan langkah serupa dengan menyatukan BUMN terkait. “Kerja sama dengan pelabuhan-pelabuhan, Pelni, ASDP, BUMN, agar kita bisa mengirim barang dengan harga yang lebih murah,” tukasnya.

Sinergi BUMN itu ternyata membuat harga barang lebih terjangkau. Sebagai contoh, harga semen di Puncak Jaya, Papua, dari Rp2 juta turun menjadi Rp500 ribu atau di Wamena dari Rp1 juta menjadi Rp380 ribu.

“Nah, ini sebetulnya hal-hal yang harus kita lakukan. Ini kami lakukan tanpa subsidi negara, tapi betul-betul dengan sinergi BUMN,” tutur Rini.

Pemerataan

Rasio elektrifikasi, khususnya di daerah timur, yang masih rendah turut diperluas. Menurut Rini, saat Presiden Jokowi berkuasa elektrifikasi baru mencapai 82% atau masih ada 18% masyarakat yang belum menikmati listrik.

Untuk itu, Rini meminta PLN untuk menggenjot rasio elektrifikasi. Direktur Utama PLN Sofyan Basir menjawab bahwa sekarang rasio elektrifikasi sudah mencapai 93,7%.

Daerah-daerah yang terpencil, terdepan, dan terjauh (3T) menyumbangkan pula peningkatan rasio elektrifikasi. Namun, dalam menyambungkan listrik di daerah 3T, PLN tidak lagi berbicara untung, tetapi hanya melaksanakan tugas sebagai agen pembangunan.

Hal itu disebabkan biaya listrik di Indonesia timur jauh lebih mahal daripada bagian barat. Tengok saja, untuk melistriki rumah tangga di Jawa biayanya hanya Rp1 juta-Rp2 juta. Di pedalaman Papua dan pulau terluar, satu rumah tangga memakan biaya Rp150 juta-Rp200 juta.

“Karena itu, kami coba melakukan cross subsidi antara Jawa dan Papua,” papar Sofyan.

Dengan kerja keras itu, Rini berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan tidak lagi terlalu bergantung pada komoditas, seperti kelapa sawit dan batu bara. Pembangunan infrastruktur dan elektrifikasi yang mencapai Indonesia timur juga akan meratakan kue perekonomian.

“Pembangunan harus Indonesia-sentris, bukan Jawa-sentris, supaya Indonesia bagian timur dapat merasakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan daerah yang berkembang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.